
LARANTUKA,RANAKANEWS.com-
Jebolnya Plat Deker di batas desa Nobo-Nurabelen dan areal TPI Nurabelen, serta 1 (satu) titik lubang besar dan cukup dalam di Waikula akibat digerus banjir lahar Gunung Lewotobi, Senin (15/12/2025), kini memberi ancaman serius putusnya ruas jalan, jika tak segera ditangani dengan pemasangan Kawat Bronjong.
Sebab, akibat jebolnya Plat Deker dan gerusan banjir lahar tersebut, kondisi badan jalan mulai gantung serta rentan rubuh karena terus dilintasi beban kendaraan.
Apalagi, jika kembali diterjang banjir lahar Gunung Lewotobi saat hujan lebat.
“Karena itu, harus ada penanganan cepat dengan memasang Kawat Bronjong, sebelum jalan putus,”ujar Yohanes Kewuta dan beberapa warga Ile Bura saat melintasi jalur Nobo-Nurabelen, Senin (15/12/2025) siang.
Kondisi Plat Deker yang jebol di batas desa Nobo-Nurabelen dan areal TPI Nurabelen, serta kerukan banjir lahar di Waikula yang makin dalam dan membikin badan jalan terus terkikis dan makin gantung, memang terlihat sejak beberapa waktu lalu saat hujan lebat.
Namun, pasca hujan lebat Sabtu (13/12/2025), keadaan plat deker yang jebol makin dalam dan besar kerusakan, hingga membuat badan jalan mulai ikut terkikis.
Dikhawatirkan jika tak segera ditangani maka jalan bisa putus saat hujan lebat membawa banjir lahar Gunung Lewotobi lagi.
Apalagi, hampir setiap saat jalur ini dilintasi mobil yang punya beban berat, terlebih dump truk yang bermuatan pasir dan batu.
“Iyah, jalan bisa putus kalau deker yang jebol dan lubang di Waikula tak segera dipasang Kawat Bronjong,”sambung Amor Kelen dan beberapa rekan Supir Angkutan Pedesaan jurusan Lewotobi-Larantuka dan Lewotobi-Maumere.
Selain itu, terpantau di lapangan, jumlah Kali Sungai yang baru di badan jalan, mulai dari batas desa Nobo-Nurabelen dan Waikula juga makin banyak, sehingga cukup menyulitkan olah gerak mobil saat melintas.
Apalagi, mobil bersasis rendah seperti angkutan pedesaan yang kerap bermuatan penuh penumpang maupun barang.
Seperti halnya saat beberapa angkutan pedesaan melintas pada Senin, 15 Desember 2025 pagi dan siang.
Mobil kerap mati mesin karena tak bisa akselerasi saat melintasi onggokan pasir dan menuruni kubangan yang cukup dalam, karena Sasisnya kandas di gundukan pasir tanah dan batu-batu.
Bahkan, penumpang dan kondektur terpaksa turun untuk bantu angkat batu, dan bersihkan gundukan pasir agar mobil bisa lolos maju.
“Iyah, kondisi jalan sangat menyulitkan. Jika tak segera diperbaiki, maka saat hujan lebat turun lagi, jalan ini bisa putus total,”tambah Boni, Supir Puskesmas Ile Bura, terpisah.
Diketahui, kendatipun kondisi rusaknya jalan trans Nobo-Nurabelen-Lewotobi yang panjangnya tak kurang dari 400 meter tersebut, kian memprihatinkan namun belum ada penanganan dari pihak terkait hingga kini.
Warga pun mempertanyakan sikap Pemda Flotim pasca terbitnya Surat Keputusan Bupati Flotim tentang Tanggap Darurat Banjir Lahar Gunung Lewotobi.
Padahal, ruas jalan Nobo-Nurabelen ini menjadi satu-satunya urat nadi perekonomian seluruh masyarakat Ile Bura.
Setiap hari tetap dilintasi warga, entah ke Pasar, Sekolah, Kantor Pemerintah, Puskesmas Ile Bura, juga pelaku usaha seperti penjual sayur, pedagang ikan, besi tua, pakaian dan aktivitas lainnya.
Sementara itu, beberapa waktu lalu pasca hujan lebat Minggu, 7 Desember 2025 pagi yang menerjang Nurabelen, pihak BPBD Flotim sempat turun meninjau areal terdampak, termasuk pemukiman warga. (OLA)