Foto bersama para imam konselebran dan ajuda usai misa. ( foto Willy. )
RUTENG, RANAKANEWS.com – Ribuan umat Paroki St. Fransiskus Asisi Karot, Kabupaten Manggarai, mengikuti rangkaian peringatan 800 tahun wafatnya St. Fransiskus Asisi, Minggu, 4 Oktober 2026.
Peringatan 800 tahun wafat St. Fransiskus Asisi menjadi momentum bagi umat untuk kembali menggali warisan spiritualitas santo yang dikenal sebagai pembawa damai, pencinta kaum kecil dan pelindung keutuhan ciptaan.
Rangkaian perayaan dipusatkan di Lapangan Pong Toro, Karot. Ribuan umat hadir bersama para biarawan dan biarawati. Hadir pula ratusan suster dari keluarga Fransiskan, termasuk para suster yang datang dari wilayah Manggarai dan Manggarai Timur.
Dalam perayaan tersebut, umat tidak hanya diajak mengenang sosok Fransiskus sebagai seorang santo dalam sejarah Gereja, tetapi juga melihat kembali kehidupannya sebagai teladan yang relevan untuk kehidupan umat saat ini.
Fransiskus Tidak Terlahir sebagai Manusia Super
Dalam homilinya, Pastor Paroki St. Fransiskus Asisi Karot, Pater Bovan Lelo, OFM, mengatakan Fransiskus tidak terlahir sebagai manusia super yang sejak awal sudah sempurna dan suci.
Fransiskus adalah manusia biasa yang juga mengalami kerapuhan. Pada masa mudanya, ia memiliki ambisi dan keinginan untuk menjadi seorang ksatria serta mendapatkan perhatian dan pengakuan.
Namun, perjalanan hidup mempertemukannya dengan kasih Allah. Dalam pengalaman tersebut, Fransiskus semakin menyadari kekecilannya di hadapan Allah dan menemukan jalan hidup yang kemudian mengubah dirinya.
Menurut Pater Bovan, pengalaman Fransiskus tersebut menjadi penting bagi umat masa kini.
Manusia tidak harus menunggu menjadi sempurna untuk mulai berbuat baik. Justru dalam kerapuhan, manusia dapat menemukan jalan untuk membangun relasi yang lebih baik dengan Allah, diri sendiri, sesama dan alam ciptaan.
“Fransiskus adalah manusia yang juga penuh dengan kerapuhan,” demikian inti refleksi Pater Bovan.
Dari pergumulan tersebut, Fransiskus kemudian dikenal sebagai pribadi yang relasional, pembawa damai dan saudara bagi semua.
Ekaristi dan Perjumpaan dengan Kaum Tersingkir
Pater Bovan juga menekankan kecintaan St. Fransiskus terhadap Ekaristi.
Bagi Fransiskus, Ekaristi merupakan perayaan kehadiran Kristus secara nyata. Kecintaan kepada Kristus itu kemudian diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama melalui perhatian kepada mereka yang tersingkir dan menderita.
Dalam refleksinya, Pater Bovan mengingatkan bahwa bagi Fransiskus, perjumpaan dengan orang-orang yang tersingkir merupakan perjumpaan dengan Kristus sendiri.
Karena itu, iman tidak berhenti pada pengetahuan tentang Sabda Tuhan. Iman harus diwujudkan melalui tindakan kasih.
Ia mengangkat kisah tentang Fransiskus yang rela mengorbankan sesuatu yaitu menjual Kitab Suci yang sangat berharga demi membantu orang lain. Pesan yang hendak ditekankan adalah bahwa Sabda Tuhan akan menjadi bermakna ketika diwujudkan dalam tindakan nyata.
Membawa Damai, Bahkan kepada Mereka yang Berbeda
Salah satu teladan Fransiskus yang disampaikan dalam homili adalah keberaniannya membangun dialog dengan pihak yang berbeda.
Pater Bovan menyinggung perjumpaan Fransiskus dengan Sultan Malik al-Kamil sebagai salah satu contoh keberanian untuk keluar dari diri sendiri dan membangun relasi damai.
Fransiskus tidak memilih jalan permusuhan, tetapi membuka ruang perjumpaan.
Semangat tersebut, kata Pater Bovan, tetap relevan bagi kehidupan masyarakat dan Gereja saat ini.
Menjadi pengikut Fransiskus berarti terus berusaha menjadi manusia damai dan membangun persaudaraan, termasuk dengan mereka yang berbeda.
Persaudaraan dengan Alam Ciptaan
Warisan Fransiskus juga tidak terpisahkan dari kecintaannya terhadap alam.
Pater Bovan mengajak umat untuk melihat alam semesta sebagai bagian dari ciptaan Allah yang harus dirawat dengan kasih.
Dalam refleksinya, ia menghubungkan pesan tersebut dengan bacaan Kitab Suci tentang kebun anggur. Allah adalah pemilik kebun anggur, sedangkan alam semesta dan manusia merupakan bagian dari kebun yang dipercayakan untuk dirawat dan menghasilkan buah-buah kebaikan.
Karena itu, manusia dipanggil bukan untuk mengeksploitasi ciptaan, melainkan membangun relasi yang harmonis dengannya.
Semangat tersebut dinilai sangat relevan dengan kehidupan umat Paroki Karot, termasuk dalam upaya menjaga sumber air, tanah dan lingkungan sekitar.
KBG Bersih, Asri, Sehat dan Solid
Pada momentum 800 tahun wafatnya St. Fransiskus Asisi, umat Paroki Karot juga diajak memperkuat kehidupan Komunitas Basis Gerejawi (KBG).
Pater Bovan mengingatkan kembali komitmen yang selama beberapa tahun terus diperjuangkan agar KBG menjadi komunitas yang bersih, asri, sehat dan solid.
Ia mengajak umat untuk tidak berhenti pada gagasan, tetapi mewujudkannya mulai dari komunitas terkecil.
Semangat Fransiskus juga diarahkan pada perjuangan untuk keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan.
Kepedulian kepada Korban Gempa
Dalam konteks gempa bumi yang melanda wilayah Flores, Pater Bovan juga menyinggung keterlibatan Paroki St. Fransiskus Asisi Karot dalam pelayanan kemanusiaan.
Menurutnya, berbagai bantuan dan perhatian yang diberikan kepada masyarakat terdampak merupakan bagian dari semangat kemanusiaan yang sejalan dengan teladan St. Fransiskus.
Ia menyampaikan apresiasi terhadap berbagai pihak yang selama beberapa bulan memberikan perhatian kepada masyarakat terdampak gempa, termasuk mereka yang hadir dan melakukan pelayanan di wilayah Keuskupan Agung Ende hingga wilayah Manggarai Timur.
Kepedulian tersebut, kata dia, menjadi bentuk nyata bagaimana spiritualitas Fransiskus diterjemahkan dalam kehidupan umat.
Wilayah Betlehem menyiapkan pangan lokal bagian dari resepsi perayaan itu.( Foto: WIlly)
“Bersaudara dari Semua dan untuk Semua”
Puncak perayaan 800 tahun wafatnya St. Fransiskus Asisi di Paroki Karot diisi dengan kegiatan bertajuk “Bersaudara dari Semua dan untuk Semua.”
Menurut Pater Bovan, simbol persaudaraan itu diwujudkan melalui spirit lima roti dan dua ikan.
Setiap KBG membawa makanan yang disiapkan sesuai kemampuan masing-masing. Makanan tersebut diolah dengan memanfaatkan bahan pangan lokal dan kemudian dinikmati bersama seluruh umat yang hadir.
Semangatnya sederhana: apa yang dimiliki setiap orang mungkin sedikit, tetapi ketika dibawa bersama dan dibagikan, dapat menjadi berkat bagi banyak orang.
“Lima roti dan dua ikan” dengan demikian tidak hanya menjadi simbol dalam kisah Injil, tetapi diterjemahkan dalam kehidupan konkret umat melalui budaya berbagi.
Perayaan juga dimeriahkan dengan berbagai penampilan dari KBG, sanggar-sanggar di wilayah Paroki Karot serta lembaga pendidikan, termasuk taman kanak-kanak yang berada di bawah naungan St. Fransiskus Asisi.
Persaudaraan dalam Keluarga Fransiskan
Dalam rangkaian perayaan tersebut, Pater Bovan juga memperkenalkan sejumlah tamu dan keluarga besar Fransiskan yang hadir.
Para suster dari keluarga Fransiskan yang hadir mendapat apresiasi dari umat. Demikian pula keluarga para pastor dan biarawan yang hadir serta para imam yang selama ini membantu pelayanan pastoral di Paroki Karot.
Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa peringatan 800 tahun St. Fransiskus Asisi bukan hanya menjadi perayaan internal satu komunitas, tetapi menjadi ruang perjumpaan dan persaudaraan keluarga besar Fransiskan.
Di tengah suasana perayaan, umat diajak bergembira bersama meskipun sebagian kegiatan berlangsung dalam kondisi panas.
Pada akhirnya, pesan utama peringatan 800 tahun itu kembali pada warisan hidup Fransiskus: menjadi manusia damai, menjadi saudara bagi semua, memperbanyak buah kebaikan, serta merawat bumi sebagai rumah bersama.
Bagi umat Paroki St. Fransiskus Asisi Karot, peringatan 800 tahun wafatnya sang santo menjadi kesempatan untuk meneruskan warisan tersebut bukan hanya melalui perayaan, tetapi melalui kehidupan sehari-hari mulai dari KBG, keluarga, pelayanan kemanusiaan hingga kepedulian terhadap alam ciptaan.(WG)













