Kegigihan Kader Posyandu,Ujung Tombak Cegah Stunting di Sumba Barat

WAIKABUBAK,RANAKANEWS.com – Senyum ceria terpancar dari wajah anak – anak berusia baduta (bayi dibawah dua tahun) dan balita (bayi lima tahun) asal Kelurahan Weekarau, Kecamatan Loli, Kabupaten Sumba Barat, NTT, saat menerima makanan tambahan yang diberikan kader posyandu setiap pagi.

Dengan wajah penuh suka cita, anak-anak langsung mengambil makanan yang disodorkan kader posyandu ditambah lagi kudapan buah sudah ada di depan mata. Anak-anak dengan senang hati menyantapnya.

Demikian gambaran sekilas suasana pemberian makanan tambahan bagi anak-anak dan ibu hamil di Kelurahan Weekarou, Kecamatan Loli, Sumba Barat, Selasa (24/1/2023).

Sementara itu Sekretaris Kader Posyandu Tabulodara, Maria Billi ditemui media ini disela – sela kegiatan pemberian makanan tambahan bagi anak – anak dan ibu hamil,  mengatakan secara umum kegiatan pemberian makanan tambahan bagi anak-anak dan ibu hamil berjalan lancar.

Maria menyebutkan di Kelurahan Weekarau terdapat 4 pos stunting dan ibu hamil dibagi menjadi dua pos yang pelayanan pemberian makanan tambahan bagi anak – anak stunting dan ibu hamil setiap hari.Dengan rincian Bayi baduta,balita dan ibu hamil kek dibagi menjadi 2 tempat 16 orang di pos paluboga dan 35 orang di rumah kader ibu maria,sedangkan bumil di rumah ibu PKK mariana lalel(mama doni)untuk anak stantung  Rp.25.000 per orang untuk 2 kali makan pagi dan sore sedangkan untuk ibu hamil  Rp.35.000 per orang untuk 1 kali makan saja.

Untuk Kelurahan Weekarau mendapat anggaran dari pemerintah daerah sebesar Rp.114.750000 juta untuk bayi baduta dan balita. Sedangkan untuk ibu hamil Rp.18.90000 juta dengan rincian peranak Rp 25.000 untuk dua kali makan.

Setiap pagi, para kader posyandu harus memberikan makanan kepada ibu hamil yang kekurangan energi kronis (KEK) dan anak balita yang berat badannya tidak ideal atau kurang gizi.

Saat hujan mengguyur pada pagi hari, kader posyandu harus tetap mengatarkan makanan tambahan ke sejumlah sasaran penerima yang rumahnya agak jauh dan terkadang harus melewati gang kecil yang agak menyulitkan orang melintas.Ketika jalan menuju rumah penerima sasaran tidak bisa diakses oleh kendaraan roda dua, maka kader posyandu harus berjalan kaki mengirimkan makanan tambahan tersebut tepat waktu kepada ibu hamil dan balita yang kekurangan giziKeuletan dan kegigihan para kader posyandu turun ke masyarakat menjadi ujung tombak pencegahan stunting di masing-masing puskesmas di Kabupaten Sumba Barat karena keterbatasan petugas kesehatan sehingga pemberdayaan posyandu memang harus dimasifkan.

Maria juga menghimbau kepada pemerintah daerah Kabupaten Sumba Barat agar melibatkan dokter disetiap pos pelayanan pemberian makanan tambahan bagi anak- anak dan ibu hamil,serta harus memperhatikan anak – anak yang benar – benar kekurangan gizi dan daya tangkap lamban,serta melibatkan dokter saat tanggal 2 Februari bulan timbang,agar dapat mengetahui betul anak yang stanting,karena pendek belum tentu stanting bisa juga karena gen,itu harapan kami kader dalam menangani anak stanting agar benar – benar tau kalau anak  itu stanting,”ungkap Maria.

Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan teima kasih kepada pemerintah daerah Kabupaten Sumba Barat dan pemerintah Kelurahan Weekarau yang sudah memberikan anggaran serta mensuport para kader posyandu dalam memberikan pelayanan kepada anak – anak kekurangan gizi dan ibu hamil. Semoga kegiatan tersebut terus berlanjut ke depannya dan bisa mensuport kader – kader posyandu dan PKK.

Maria juga berharap semoga stanting tidak ada lagi kedepannya,dan kalaupun masih ada semoga pemerintah adakan lagi PMT seperti ini krn sangat membantu bagi anak – anak yang malas makan di rumahnya,karena rame – rame kumpul anak – jadi suka makan,”ungkap Maria.

(yb/rn)

error: Konten dilindungi!