Warga Desa Nobo Dominasi Data Pengungsi Korban Erupsi Gunung Api di Tenda Pengungsian Konga

Korban erupsi Gunung Api Lewotobi Laki-Laki asal Desa Dulipali Kecamatan Ile Bura, tiba di Tenda Pengungsian Konga, Kamis (04/01/2024) pagi: Foto (OLA/Ranakanews.com)
Korban erupsi Gunung Api Lewotobi Laki-Laki asal Desa Dulipali Kecamatan Ile Bura, tiba di Tenda Pengungsian Konga, Kamis (04/01/2024) pagi: Foto (OLA/Ranakanews.com)

LARANTUKA,RANAKANEWS.com – Miris, data jumlah pengungsi korban erupsi Gunung Api Lewotobi Laki-Laki terus bertambah sangat signifikan, terutama di tenda pengungsian Desa Konga Kecamatan Titehena.

Hingga Sabtu, (06/01/2024) jumlah pengungsi korban erupsi di tenda pengungsian Desa Konga telah mencapai 1.332 jiwa, yang didominasi pengungsi warga Desa Nobo.

Angkanya naik sangat fantastis yakni 996 jiwa, jauh melebihi korban erupsi asal Desa Dulipali, yang wilayahnya diguyur dan ditutup abu vulkanik setiap hari sejak erupsi hari pertama Sabtu, (23/12/2023) pukul 07.14 WITA.

Membludaknya warga Desa Nobo meski wilayahnya tidak terdampak abu vulkanis Gunung Api Lewotobi Laki-Laki karena berada di luar Kawasan Rawan Bencana (KRB) Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, lantaran panik dan takut kampungnya dihujani abu vulkanis.

Meski faktanya hingga kini, tak satu rumah di pinggir jalan atau kondisi jalan raya di Desa Nobo yang terlihat ditutupi abu vulkanis.

Banyak pihak menyayangkan buruknya mitigasi bencana vulkanologi dan geologi di Kabupaten Flotim, hingga berdampak pada kepanikan berlebihan 996 jiwa Warga Desa Nobo, yang berlari meninggalkan rumahnya dan tinggal sengsara di kebun-kebun, tidur makan susah di pondok, padahal rumahnya aman-aman di Desa Nobo hingga saat ini.

Pasalnya, kondisi yang dialami Desa Nobo persis sama dengan Desa Nurabelen, Desa Riangrita, Desa Lewotobi, Desa Lewoawang dan Desa Riangbura, yang warganya hidup aman, tidak lari, tidak panik tapi tetap waspada hingga kini.

Walapun, level erupsi Gunung Api Lewotobi Laki-Laki terus naik ke level III Siaga, dan erupsi setiap hari, sejak 4 Desa di wilayah Kecamatan Wulanggitang yakni Klatanlo, Hokeng Jaya, Boru dan Nawakote, dengan 1 Desa di Kecamatan Ile Bura yakni Desa Dulipali, diguyur Abu vulkanis, Sabtu (23/12/2023) hingga Sabtu (06/01/2024).

Pengalaman naas 996 warga Desa Nobo, yang boleh jadi terus bertambah karena gampang panik dan percaya informasi hoax, akhirnya menjadi catatan serius Pemerintah Kecamatan Ile Bura, hingga mengundang narasumber dari Tim Tanggap Darurat Erupsi Gunung Api Lewotobi Laki-Laki turun mensosialisasikan mitigasi bencana vulkanologi dan geologi di Kantor Camat Ile Bura, Jumat (05/01/2024).

Hebatnya lagi, lonjakan pengungsi korban erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki asal Desa Nobo, lantaran buruknya mitigasi bencana oleh Satlak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Flotim, yang sudah mencapai angka 996 jiwa, membikin tambah urusan penanganan, karena warga yang benar-benar menjadi korban erupsi abu vulkanik dari Desa Dulipali 304 dan beberapa dari Hokeng Jaya 12 jiwa dan Boru 4 jiwa, jumlahnya jauh dibawah jumlah warga Desa Nobo yang mestinya tidak perlu lari jika tidak panik berlebihan.

Oleh sebab, tidak ada debu abu vulkanik yang mengguyur Nobo, karena letaknya di luar radius 5 Km.

Angka 996 jiwa ini berpotensi masih bisa bertambah, karena sesuai informasi yang diperoleh Wartawan, masih banyak warga Desa Nobo, yang berada disekitar wilayah Konga dan desa-desa lainnya di Kecamatan Titehena.

Jika demikian benar, maka praktis Posko Penanganan korban erupsi Gunung Api Lewotobi Laki-Laki di Desa Konga, justru dihuni oleh warga yang mengungsi bukan karena terdampak semburan abu vulkanis Gunung Api Lewotobi Laki-Laki, tapi karena panik dan lari meninggalkan rumah serta kampung halamannya.

Pasalnya, dari data yang ada, warga Desa Dulipali yang terdampak langsung, dimana rumah dan kampung halamannya diguyur hujan abu vulkanik hampir setiap saat, hanya mencapai 304 jiwa saja.

Sementara warga Desa Dulipali lainnya, memilih bertahan di kebun-kebun di sekitar Desa Dulipali, dan sebagiannya berada di Desa Pululera dan Desa Boru Kecamatan Wulanggitang.

Lonjakan yang sangat signifikan jumlah pengungsi asal Desa Nobo yakni mencapai 996 jiwa, lantaran panik terhadap aktivitas erupsi Gunung Api Lewotobi Laki-Laki, mendapat perhatian serius Pemerintah Kecamatan Ile Bura.

Hingga mengundang Tim Tanggap Darurat Erupsi Gunung Api Lewotobi Laki-Laki, Dari Badan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi melakukan sosialisasi mitigasi bencana vulkanologi dan geologi di Kantor Camat Ile Bura, Jumat (05/01/2024).

Salah satu rekomendasi penting adalah: segera dilakukan sosialisasi mitigasi bencana di Desa Nobo.

Dibagian lain, lonjakan jumlah pengungsi asal Desa Nobo yang telah mencapai 996 jiwa, memicu ragam tanggapan.

Bahkan sejumlah warga Desa Nurabelen dan Lewotobi dalam obrolan bersama awak Media meminta agar pengungsi asal Desa Nobo sebaiknya dipulangkan ke rumah masing-masing.

Sebab, makin lama di tenda pengungsian bisa timbulkan dampak ikutan lainnya seperti terserang penyakit dan tidak bisa lakukan kerja ekonomi di rumah, badan sakit karena tidur tidak betul di tenda pengungsian dan hal-hal negatif lainnya. (OLA)

 

error: Konten dilindungi!