Bank Indonesia Provinsi NTT Gelar Capacity Building Media, “Membangun Narasi Kredibel dan Memikat dengan Jurnalisme Berbasis Data dan Kebijakan Terkini”

Jurnalis Provinsi NTT foto bersama disela-sela kegiatan Capacity Building Media yang digelar oleh BI NTT di De -Javasche Bank, Jumat (26/9/2025).
SURABAYA, RANAKANEWS.com –  Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Rio Khasananda membuka secara resmi kegiatan Capacity Building Media Provinsi NTT.

Kegiatan yang dikuti oleh 25 orang wartawan dari media cetak, elektronik dan media online  tersebut selama tiga hari yaitu Kamis – Sabtu (25–27/9/2025).  Bertempat di aula Hotel Four Points By Sheraton.

Dalam pelaksanaan capacity building mitra media Provinsi NTT tahun 2025 yang mengusung tema “Membangun Narasi Kredibel dan Memikat dengan Jurnalisme Berbasis Data dan Kebijakan Terkini”, dihadiri narasumber yaitu Moses Parlindungan Ompusunggu dengan judul materi “Visualisasi Fakta dan Venomena dalam Reportase”, Muhammad Fajar Martha dengan judul materi “Menulis Artikel Ekonomi Populer”, KPw BI Provinsi Jawa Timur dan Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI, Muhammad Hanif Rahmadyasa, Ekonom Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur dengan judul materi ” Edukasi Sinergi Stabilisasi Harga dengan Penguatan Provitas Pertanian di Provinsi Jawa Timur” , Ekonomi Senior Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia, Ardina Ayu Dwiratna, dengan judul materi “Edukasi Perkembangan Sistem Pembayaran Digital Terkini dan QRIS”, dan Pengelola Gedung De Javasche Bank, Risky Jayanto.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT,  Rio Khasananda menyampaikan, dalam pelaksanaan capacity building mitra media Provinsi NTT tahun 2025 yang mengusung tema “Membangun Narasi Kredibel dan Memikat dengan Jurnalisme Berbasis Data dan Kebijakan Terkini” ini, setidaknya terdapat 3 (tiga) hal yang dapat kami sampaikan: Pertama, kami berharap agar seluruh rangkaian kegiatan bersifat edukatif, memberikan pengetahuan, ilmu, dan pengalaman yang menunjang aktivitas rekan-rekan media Provinsi NTT. Kegiatan kemarin kita awali dengan pelatihan penulisan dan fotografi dalam pembuatan konten jurnalis.

Hal ini sangat penting di era digital dengan dominasi demografi Gen Y dan Gen Z. Konten jurnalis dituntut untuk lebih memikat, mengikuti tren, dan memuat memori kolektif dengan tetap mengedepankan kredibilitas berdasarkan data/informasi faktual,” ungkap Rio Khasananda.

“Kedua, kegiatan edukatif ini juga harus memberikan dampak dan manfaat kepada Provinsi NTT, melalui sinergi media dan berbagai pihak dalam menghasilan suatu narasi yang konstruktif. Setiap pembelajaran dan beberapa lesson learned dapat menjadi referensi yang baik bagi Provinsi NTT. Hal tentunya sejalan dengan implementasi bauran kebijakan BI di daerah, dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, menjaga stabilitas inflasi, dan mengakselerasi digitalisasi sistem pembayaran,” tambah Rio Khasananda.

“Ketiga, Mari memperkuat sinergi dan kolaborasi, serta mengakrabkan diri satu sama lain. Kehadiran rekan-rekan media sangat penting dalam mendukung dan mengawal berbagai hal baik yang diinisiasi oleh pemangku kebijakan. Rekan- rekan media adalah garda terdepan dalam jejaring komunikasi di berbagai level dan kanal. Tidak ada kondisi sosial-ekonomi yang sempurna dan utopis, tapi semangat gotong royong dan sikap optimis tentu menjadi suatu hal yang harus terus kita galakan Bersama,” ajak  Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia NTT,  Rio Khasananda.

Pada kesempatan itu, Rio Khasananda  juga menyampaikan terima kasih dan apresiasi  kepada rekan kami yang mendukung pelaksanaan kegiatan ini, dari KPw BI Provinsi Jawa Timur dan Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI. Semoga seluruh kegiatan capacity building ini dapat memberikan manfaat dan berkah bagi kita semua.

Sementara itu, Muhammad Fajar Martha, Wartawan Harian Kompas menyoroti enam prinsip dasar agar berita ekonomi bisa lebih memikat publik. Prinsip itu meliputi pemberian perspektif, penjelasan istilah dan singkatan, penyajian angka melalui grafis, memberi makna pada data, menjelaskan sebab akibat, dan mengaitkan isu ekonomi dengan masyarakat sebagai pengguna akhir (end user).  Dengan pendekatan ini, berita ekonomi tidak hanya berhenti pada data, melainkan menghadirkan narasi yang hidup dan dekat dengan keseharian.

Selain Prinsip, Fajar mengingatkan  kesalahan-kesalahan yang kerap terjadi dalam penulisan berita ekonomi. Di antaranya kekeliruan penggunaan persen, persen poin, dan basis poin; tidak mengonversi nilai valuta asing ke rupiah; perbedaan makna antara “pertumbuhan turun” dengan “melambat”; serta penggunaan desimal dan komparasi yang keliru. Kesalahan lain yang sering muncul adalah misinterpretasi data akibat tidak memperhatikan konteks maupun tren.

Menurut Fajar, akurasi mutlak diperlukan agar berita ekonomi tidak menyesatkan publik. Fajar juga menegaskan pentingnya menjaga nada berita agar tetap konstruktif. Berita ekonomi yang terlalu sensasional dapat memicu kepanikan dan mengganggu stabilitas pasar. Sebaliknya, jurnalisme ekonomi harus informatif, berbasis fakta, dan berfungsi sebagai panduan bagi masyarakat dan pelaku usaha. Dengan pendekatan ini, media dapat memainkan peran penting dalam menjaga iklim ekonomi yang kondusif. (TD)

error: Konten dilindungi!