Ritual teing hang kolang disalah satu rumah di kota Ruteng ( foto: ist.)
RUTENG, RANAKANEWS.com – Malam 31 Desember di Manggarai selalu punya wajah berbeda. Ketika kota-kota lain riuh dengan pesta kembang api, kampung-kampung di Manggarai justru hening, penuh doa.
Di rumah-rumah, keluarga berkumpul, sesaji disiapkan. Inilah Teing Hang Kolang, ritual adat yang diwariskan turun-temurun sebagai tanda syukur atas tahun yang berlalu dan doa untuk keselamatan di tahun baru.
“Rasanya seperti leluhur hadir di tengah kami,” tutur Nela, seorang ibu rumah tangga di kampung Beokina.
Dengan mata berkaca-kaca, ia menceritakan bagaimana keluarganya duduk bersama, berdoa, lalu memberi makan leluhur sebagai simbol penghormatan.
Makna yang Hidup
Teing Hang Kolang bukan sekadar tradisi. Ia adalah refleksi hidup: mengingat perjalanan setahun penuh, mensyukuri hasil panen, kesehatan, dan kebersamaan. Di saat yang sama, masyarakat memohon berkat agar tahun baru membawa keselamatan dan kedamaian.
“Ini cara kami menutup tahun dengan hati yang tenang,” kata Yohanes, tokoh adat setempat. “Kami percaya, dengan menghormati leluhur, hidup kami akan lebih terarah.” tuturnya
Harmoni Iman dan Budaya
Ruteng dikenal sebagai Kota Seribu Gereja, dengan mayoritas penduduk Katolik. Teing Hang Kolang berjalan berdampingan dengan perayaan Natal dan Tahun Baru.
Warga menghadiri misa, lalu pulang untuk melaksanakan doa adat bersama keluarga. Harmoni iman dan budaya terasa nyata, menjadi simbol toleransi yang hidup di Manggarai.
Dari Rumah ke Ruang Publik
Tak hanya di rumah, pemerintah Kabupaten Manggarai juga kerap menggelar Teing Hang Kolang secara resmi di Aula Nuca Lale. Forkopimda, tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat hadir bersama. Doa adat bergema, diikuti refleksi pembangunan daerah.
Bagi anak-anak, Teing Hang Kolang adalah kenangan masa kecil: duduk di pangkuan orang tua, mendengar doa dalam bahasa adat, lalu menikmati hidangan bersama. Bagi orang tua, ia adalah pengikat keluarga. Bagi masyarakat, ia adalah jembatan antara masa lalu dan masa depan.
Teing Hang Kolang adalah cerita tentang manusia Manggarai yang selalu menutup tahun dengan syukur, doa, dan penghormatan.
Di tengah arus modernisasi, ritual ini tetap hidup—menjadi pengingat bahwa perjalanan hidup bukan hanya soal waktu, tetapi juga soal akar budaya dan ikatan dengan leluhur. (WG)












