Oleh: Rafael Lumintang.
Dunia saat ini dibanjiri suatu paradoks yang ironis. Di satu sisi, agama tetap hidup, bahkan semakin menunjukan “keontetikannya” di ruang publik. Tempat-tempat ibadat ramai, bahkan kegiatan- kegiatan rohani di umat sangat padat, serta bahasa iman menjadi bagian dari identitas sosial. Namun, di sisi yang berbeda, kekerasan, korupsi, kebohongan, dan ketidakadilan tetap merajalela.
Ironisnya, kebanyakan orang yang melakukan hal-hal tersebut adalah orang yang beragama atau mereka yang percaya Tuhan. Orang-orang rajin berdoa, tetapi masih melakukan hal-hal buruk, mencuri hak orang lain atau sebut saja korupsi. Mengutip kitab suci, tetapi menindas, bersaksi atas nama Tuhan, tetapi berdusta. Fenomena ini kelihatan biasa-biasa saja, namun menyingkap sebuah krisis mendalam, bukan krisis agama, melainkan “krisis penghayatan iman yang utuh.”
Saya teringat akan penjelasan dari salah seorang Dosen saya di Fakultas Filsafat, dalam mata kuliah filsafat agama. Ia menjelaskan bahwa ada dua perbedaan tentang “Ateisme” yakni, ateisme teoritis dan ateisme praktis.
Ateisme teoritis adalah mereka yang sungguh-sungguh menolak tentang keberadaan Tuhan, baik dalam tindakan hidup mereka, maupun lewat tulisan-tulisan yang mereka ekspresikan.
Sementara, ateisme praktis adalah orang-orang yang percaya kepada Tuhan, namun “cara hidupnya tidak menunjukan sikap iman yang sejati, atau dengan kata lain membelok dari ajaran Tuhan sendiri.” Fenomena yang dibahas dalam tulisan ini melihat tentang “ateisme praktis dalam konteks orang beragama,” hidup seolah-olah Tuhan tidak ada, meskipun secara verbal mengaku percaya. Iman tidak lagi menjadi daya transformasi, melainkan dekorasi moral.
Hal ini memperlihatkan, agama sering berfungsi sebagai legitimasi identitas, bukan sebagai kekuatan yang mengubah tindakan yang konkret.
Religiusitas Publik dan Kekosongan Moral
Hal yang berbau religiusitas publik semakin kuat di banyak negara, termasuk di Indonesia.
Agama seringkali hadir dalam politik, ekonomi, dan budaya. Namun kehadiran ini tidak selalu mencerminkan atau menampakan nilai-nilai ajaran yang dianutnya secara utuh. Coba perhatikan secara kritis, korupsi dilakukan oleh mereka yang tampak religius, kekerasan dibenarkan atas nama iman sendiri, dan kebohongan disebarkan menjalar sampai ke publik demi “kepentingan kelompok tertentu.” Aktivitas yang dikerjakan, kadang-kadang didukung dengan benteng yang disebut “agama.” Seolah-olah agama hanya menjadi instrumen belaka untuk membantu seseorang mencapai tujuan duniawinya sendiri, tanpa sungguh-sungguh menghidupi perihal ajaran iman yang sejati.
Krisis ini menunjukan bahwa agama dapat hidup sebagai simbol tanpa hidup sebagai praksis, kesalehan direduksi menjadi performatif.
Orang berlomba-lomba sedemikian rupa menampilkan wajah-wajah identitas religius, tetapi tidak berjuang menghidupi, menghayati, dan membangun keadilan bagi sebanyak mungkin orang.
Iman dalam hal ini, hemat saya kehilangan “dimensi profetisnya dan menjelma menjadi instrumen legitimasi kekuasaan.” ketika agama berhenti menggugat, mempertanyakan ketidakadilan yang menimpa banyak orang, ia berubah menjadi pelindung status quo. Dalam situasi yang kompleks inilah kejahatan tidak lagi dilihat sebagai pengkhianatan atau saya sebut dengan “penyangkalan terhadap iman,” melainkan sebagai strategi yang dapat dibenarkan selama identitas religius tetap dipertahankan. Di sini, iman mulai kehilangan daya kritisnya.
Ateisme Praktis Sebagai Wajah Baru Zaman Modern.
Seperti yang telah saya jelaskan di awal bahwa ateisme praktis tidak selalu berarti penolakan terhadap Tuhan. Ia sering menunjukan wujudnya dalam bentuk kehidupan yang terpisah atau berjarak dari nilai Ilahi. Orang dengan bangga mengatakan “saya orang beriman yang mengikuti semua hal diajarkan agama saya,” tetapi nilai-nilai iman tidak mengarahkan keputusan konkret. Sekali lagi, dunia kerja, politik, dan ekonomi berjalan denga napa yang saya sebut “logika utilitarian,” sementara agama hanya menjadi ritual privat semata. Hal ini terlihat dalam praktik korupsi, manipulasi, kekerasan struktural yang disengaja, bahkan yang paling tragis pembunuhan yang dibenarkan demi kepentingan ekonomi atau kekuasaan.
“Orang dapat dengan khusyuk berdoa di pagi hari, namun ia bisa menindas secara brutal di siang atau malam hari.” Moralitas diperkosa menjadi fleksibel, Tuhan dipanggil ketika dibutuhkan, tetapi diabaikan ketika “menghalangi kepentingan.”
Agama dalam konteks ini, masih ramai di bibir, tetapi sepi dalam tindakan. Ketika orang beriman tidak lagi menghadirkan perbedaan dalam cara hidup sehari-hari, tidak lebih adil, dan saya boleh tambahkan “tidak lebih manusiawi,” iman kehilangan cahaya dan hanya menjadi hiasan kebaikan di ruang publik. Situasi kompleks inilah yang melahirkan sinisme dingin, sebuah kelelahan spiritual terhadap kemunafikan yang terus diproduksi. Ateisme praktis tumbuh tanpa deklarasi, atau juga tanpa manifesto, ia hadir dalam hidup yang nihil makna, dalam hati yang tidak lagi percaya pada kata-kata suci. Ia lebih mengerikan daripada ateisme teoritis, sebab “ia tidak menolak Tuhan secara terang-terangan, melainkan memudarkan-Nya perlahan secara lembut, sampai iman tinggal bayangan hidup, tetapi tidak menghidupkan.”
Kritik Friedrich Nietzsche atas Kehidupan Orang Beragama.
Filsuf yang bernama lengkap Friedrich Nietzsche ini adalah seorang pemikir Jerman yang dengan vokal mengkritik secara tajam moralitas, agama, dan budaya modern. Namun, saya secara sengaja mengangkat pemikirannya ini, karena banyak orang menyalapahami pernyataannya yang sangat populer, “Tuhan telah mati,” seolah-olah ia sedang mengumumkan atau memproklamirkan bahwa Tuhan benar-benar tidak ada. Namun, sejauh yang saya ingat dan pahami dalam penjelasan Dosen Filsafat saya, kritik Nietzsche lebih dalam dari itu, ia menyoroti dunia modern yang masih berbicara tentang Tuhan, tetapi tidak lagi hidup menurut nilai-nilai Ilahi. Menurut Filsuf ini, “kematian Tuhan” adalah krisis makna, situasi ketika manusia mempertahankan simbol religius, tetapi kehilangan tanggung jawab dan keberanian moral. Maka, hal ini menjadi jelas bahwa kritiknya bukan terutama serangan terhadap iman, melainkan panggilan agar manusia berani menghadapi kekosongan zaman, bukan sekadar manusia religius secara lahiriah.
Kita kembali lagi pada kritiknya, kritik Niezsche terhadap agama bukan terutama serangan terhadap eksistensi atau keberadaan Tuhan, seperti yang telah saya jelaskan di atas. Ketika ia berkata “Tuhan telah mati,” yang ia gugat adalah dunia yang kelihatannya sangat fasih berebicara tentang Tuhan, tetapi cara hidupnya, menyimpang dari ajaran Tuhan sendiri. hari ini, kalimat yang dilontarkan Nietzsche itu terasa semakin aktual. Aktualitas ungkapan itu dapat dilihat dengan fenomena, agama hadir di ruang publik, di politik, di media sosial, di slogan moral, tetapi sering kali “absen dalam kejujuran, keadilan, belas kasih terhadap sesama, dan keberanian.” Panorama dunia saat ini, bukan kekurangan agama, melainkan dipenuhi “iman yang tidak hidup, iman yang berbunyi keras, tetapi tidak berdenyut.”
Lebih progresif lagi bahwa Filsuf ini menoropong moralitas kerap dipakai sebagai aneka macam topeng. Orang berbicara tentang kebaikan, tetapi diam-diam mengejar kuasa, mengutip kitab suci, tetapi memanipulasi kebenaran, membela nilai, tetapi menindas yang lemah. Dalam lanskap ini, religiusitas publik mudah berubah menjadi nihilisme terselubung, atau dengan perkataan lain simbol dipertahankan, tetapi makna dikosongkan.
Kalau kita jujur dengan diri sendiri dan keadaan yang ada, kita melihatnya dalam realitas hari ini, ketika kesalahan dipamerkan, sementara korupsi, kebencian, dan kekerasan dibenarkan atas nama identitas. Kesimpulannya dalam hal ini sangat sederhana, “iman tidak lagi menjadi jalan menuju kebenaran, melainkan sistem sosial yang melindungi kepentingan dan membenarkan ambisi.”
Hemat saya, kritik Niezsche ini kalau kita kritisi secara mendalam sebenarnya adalah “panggilan keras bagi orang beriman untuk kembali pada kejujuran eksistensial.” Iman tidak boleh menjadi habitus yang diwarisi tanpa refleksi, tetapi pilihan yang sadar, tulus, dan berani. Sejatinya, ia harus mengubah cara manusia bekerja, memimpin, mencintai, dan tentunya memperlakukan sesama sebagaimana mestinya. Tanpa transformasi atau perubahan, agama hanya melahirkan manusia yang rajin secara liturgis tetapi kosong secara moral, “taat di altar, namun lalai dalam keadilan, fasih dalam doa, tetapi kering dalam empati.”
Di penghujung episode yang menegangkan ini, tantang terbesar iman dalam dunia saat ini bukan cuma melawan ateisme teoritis, melainkan mengahadapi secara sungguh-sungguh “ateisme praktis di dalam diri sendiri.” Dunia tidak membutuhkan lebih banyak kata-kata religius, melainkan lebih banyak “kesaksian hidup.”
Kesaksisan hidup lebih kuat, lebih tajam, dan lebih menggema, daripada kata-kata kosong yang lantang secara retoris, namun nihil dalam actus. Jika tidak, agama akan tetap berdiri megah sebagai institusi, tetapi runtuh dalam hati manusia.
Penulis: Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira, Nusa Tenggara Timur.










