Sensus Ekonomi 2026: Saatnya Sumba Timur Tumbuh dan Berkembang

Oleh: Oleh: Karen G. N. Pratiwi 

Ada kecenderungan yang sering terjadi di daerah: kita merasa ekonomi “baik-baik saja” selama pasar tetap ramai, kios tetap buka, dan aktivitas jual beli terus berlangsung. Tetapi di balik keramaian itu, ada pertanyaan yang jarang diajukan secara jujur apakah ekonomi kita benar-benar berkembang, atau hanya berputar di tempat yang sama..

Sensus Ekonomi 2026 datang di momen yang tepat. Ia bukan sekadar agenda lima atau sepuluh tahunan, melainkan kesempatan untuk menguji apakah kita sedang bergerak maju, atau hanya berjalan di lingkaran yang sama.

Sepuluh tahun lalu, Sensus Ekonomi 2016 memberikan gambaran yang cukup jelas tentang wajah ekonomi kita. Dan jika dibaca dengan jujur, gambaran itu menyimpan sekaligus kekuatan dan kelemahan.

Ketika Perdagangan Menjadi Zona Nyaman

Jika menengok ke belakang, Sensus Ekonomi 2016 memberikan gambaran yang cukup jujur, bahkan cenderung “telanjang”, tentang struktur usaha di wilayah Nusa Tenggara Timur, termasuk Sumba Timur. Lebih dari 42,49 persen usaha berada pada sektor perdagangan—sebuah angka yang besar, tetapi sekaligus mengandung pertanyaan: apakah kita terlalu nyaman menjadi pedagang.

Di satu sisi, perdagangan adalah urat nadi ekonomi rakyat. Ia fleksibel, mudah dimasuki, dan cepat menghasilkan. Namun di sisi lain, dominasi yang terlalu besar sering kali menandakan minimnya transformasi. Kita menjual lebih banyak daripada memproduksi.

Namun di sisi lain, dominasi ini juga bisa dibaca sebagai tanda bahwa kita belum banyak bergerak ke sektor yang menciptakan nilai tambah lebih tinggi. Karena pada akhirnya, perdagangan lebih banyak memindahkan barang daripada menciptakan barang. Ketika terlalu banyak pelaku usaha berada di sektor yang sama, yang terjadi bukan lagi pertumbuhan, melainkan persaingan yang semakin padat. Margin semakin tipis, inovasi terbatas, dan ketahanan usaha menjadi rapuh.

Industri yang Belum Menjadi Tulang Punggung

Sektor industri pengolahan memang berada di posisi kedua dengan 27,88 persen, tetapi angka ini perlu dibaca lebih dalam. Sebagian besar industri tersebut masih berskala kecil, berbasis rumah tangga, dan belum terintegrasi dalam rantai produksi yang kuat.

Artinya, kita memang “mengolah”, tetapi belum sepenuhnya “mengembangkan”.

Padahal, di banyak daerah yang berhasil melonjak ekonominya, kunci utamanya adalah kemampuan mengubah bahan mentah menjadi produk bernilai tinggi. Di titik ini, Sumba Timur masih memiliki pekerjaan rumah yang besar.

Pertumbuhan Jumlah Usaha: Antara Harapan dan Tantangan

Jika kita melihat tren nasional, jumlah usaha di Indonesia meningkat signifikan: dari 8,9 juta unit pada 1986, menjadi 16,5 juta pada 1996, naik lagi menjadi 22,7 juta pada 2006, dan mencapai 26,7 juta pada 2016.

Angka ini menunjukkan bahwa semangat berusaha masyarakat Indonesia sangat tinggi. Setiap krisis justru melahirkan pelaku usaha baru. Setiap keterbatasan melahirkan kreativitas. Namun pertumbuhan ini juga membawa konsekuensi: semakin banyak usaha yang lahir di sektor yang sama, terutama perdagangan dan usaha kecil berbasis konsumsi.

Di sinilah tantangan muncul. Ketika jumlah usaha meningkat, tetapi tidak diiringi dengan peningkatan kualitas, maka yang terjadi adalah “pertumbuhan yang rapuh”. Banyak usaha lahir, tetapi juga banyak yang tidak bertahan lama.

Sumba Timur: Antara Potensi dan Realitas

Dalam konteks Sumba Timur, gambaran ini terasa sangat nyata. Kita memiliki potensi besar—dari pertanian, peternakan, hingga pariwisata. Kita memiliki sumber daya yang unik, bahkan tidak dimiliki daerah lain. Namun potensi tidak selalu otomatis menjadi kekuatan ekonomi.

Selama ini, sebagian besar aktivitas ekonomi masih berada pada tahap awal: produksi bahan mentah dan perdagangan. Nilai tambah yang seharusnya bisa dinikmati di daerah, justru sering berpindah ke luar. Kita menjual hasil, tetapi belum sepenuhnya mengolahnya. Kita memiliki potensi, tetapi belum sepenuhnya mengembangkannya.

Perubahan Sudah Ada, Tapi Belum Cukup

Tidak bisa dipungkiri, dalam sepuluh tahun terakhir, perubahan mulai terlihat. Teknologi mulai masuk, anak muda mulai mencoba usaha kreatif, pemasaran digital mulai digunakan, dan sektor jasa mulai berkembang. Sektor seperti akomodasi dan makan minum (5,64 persen) serta informasi dan komunikasi (3,73 persen) menunjukkan potensi pertumbuhan baru. Meskipun masih kecil, sektor-sektor ini bisa menjadi pintu masuk transformasi ekonomi.

Namun jujur saja, perubahan ini belum cukup kuat untuk menggeser struktur utama ekonomi. Ia masih seperti percikan—belum menjadi api besar yang mampu mendorong perubahan sistemik.

Sensus Ekonomi 2026: Lebih dari Sekadar Angka

Di sinilah Sensus Ekonomi 2026 menjadi sangat penting. Ia bukan sekadar menghitung berapa banyak usaha yang ada, tetapi juga membaca kualitas, arah, dan masa depan ekonomi kita. Dan yang paling penting: apakah kita sudah berubah, atau masih sama seperti sepuluh tahun lalu? Jika Data Tidak Berubah, Maka Kita yang Harus Berubah.

Ada satu hal yang perlu disadari: data tidak pernah salah. Ia hanya merekam kenyataan. Jika nanti hasil Sensus Ekonomi 2026 menunjukkan pola yang sama seperti 2016, maka itu bukan kegagalan sensus—itu adalah refleksi dari pilihan kita sebagai masyarakat. Namun jika ada perubahan, sekecil apa pun, itu adalah tanda bahwa arah kita mulai benar.

Momentum untuk Naik Kelas

Sensus Ekonomi 2026 seharusnya menjadi momentum bagi Sumba Timur untuk naik kelas. Bukan hanya menambah jumlah usaha, tetapi meningkatkan kualitasnya. Bukan hanya bertahan, tetapi berkembang. Bukan hanya menjadi pelaku, tetapi menjadi pemain yang kuat.

Karena pada akhirnya, kekuatan ekonomi suatu daerah tidak ditentukan oleh berapa banyak usaha yang ada, tetapi oleh seberapa besar nilai yang dihasilkan.

Keberhasilan sensus ini tidak hanya bergantung pada petugas statistik, tetapi juga pada kejujuran dan partisipasi pelaku usaha. Setiap data yang diberikan adalah kontribusi nyata dalam menentukan arah kebijakan ke depan.

Lebih dari itu, sensus ini juga adalah milik masyarakat. Ia adalah cerita tentang kita—tentang bagaimana kita bekerja, berusaha, dan bertahan. Apakah kita ingin terus berada di zona nyaman, atau berani melangkah menuju perubahan?

Karena masa depan ekonomi Sumba Timur tidak ditentukan oleh angka-angka dalam laporan, tetapi oleh keberanian kita untuk berubah.

Penulis: Statistisi Ahli Pertama BPS kabupaten Sumba Timur

error: Konten dilindungi!