Mengenang Om Valens Onggot: Teman, Sahabat, Rekan Seperjalanan, MC Sejati, dan Pelukis

Kenangan bersama: Almarhum Valentinus Onggot, S.Fil (kanan) bersama Kadis Kominfo (tengah) saat turun lapangan. (Foto:Ist.)

RUTENG, RANAKANEWS.com — Mengenang Valensius Onggot, yang akrab disapa Om Paeng, ternyata tidak pernah cukup hanya dengan bercerita tentang pekerjaannya. Bagi Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Manggarai, Paulus Jeramun, Om Paeng adalah teman, sahabat, rekan seperjalanan, sekaligus sosok dengan banyak warna dalam kehidupan.

Paulus mulai mengenal Om Paeng lebih dekat pada awal 2022, ketika mendapat tugas sebagai Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan (Prokopim) Setda Kabupaten Manggarai.

Saat itu, Om Paeng telah sekitar 14 tahun mengabdi di Prokopim dan dipercaya sebagai Kepala Subbagian Protokol. Pengalaman panjangnya membuat ia memahami seluk-beluk tugas protokol, mulai dari mempersiapkan kegiatan, mendampingi pimpinan, mengatur agenda, hingga menghadapi berbagai situasi tak terduga.

Namun, bagi Paulus, Om Paeng bukan sekadar rekan kerja.
Ia mengenangnya sebagai sosok sederhana, humoris, bersahabat, dan mudah bergaul.

Di tengah kesibukan pekerjaan, selalu ada canda, cerita, tawa, dan diskusi serius. Kebersamaan dalam menjalankan tugas dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya perlahan menumbuhkan persahabatan.

Pada awal 2024, Paulus pindah tugas ke Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Manggarai sebagai sekretaris. Om Paeng tetap di Prokopim. Meski berbeda kantor, hubungan mereka tetap dekat karena tugas kedua instansi kerap bersinggungan.

Mereka masih sering bertemu dan berdiskusi, termasuk dalam suasana kekeluargaan di rumah Om Paeng.

Salah satu yang paling dikenang Paulus adalah kebersamaan dalam julu ela, jamuan makan bersama yang berlangsung dalam suasana saling membantu. Setelah makan, suasana sering berlanjut dengan musik dan nyanyian.

Om Paeng memang pencinta musik. Bersama sahabat mereka, Josi, yang membawa keyboard, pertemuan sederhana sering berubah menjadi malam penuh canda dan lagu.

Namun, ternyata Om Paeng memiliki sisi lain yang tidak banyak diketahui.
Ia adalah seorang MC sejati, sarjana filsafat, dan pelukis.
Sebagai MC, Om Paeng bukan hanya membaca susunan acara. Ia mampu membangun suasana, memilih kata, mengatur ritme, dan membuat acara terasa hidup.

Kemampuan itu semakin terasah melalui pengalamannya bertahun-tahun di Prokopim.

Ia juga pernah menempuh pendidikan di Seminari Retapiret dan menjadi sarjana filsafat. Dari masa tersebut, ia memiliki banyak cerita dan persahabatan, termasuk dengan Pater Hero Dhae atau Romo Cafe.

Selain filsafat, musik, dan dunia MC, Om Paeng ternyata memiliki kecintaan pada seni lukis.

Ia pernah bercerita kepada Paulus bahwa semasa di Retapiret, ia sering membawa kanvas dan cat ke pinggir pantai untuk melukis. Beberapa orang yang melihatnya bahkan meminta dibuatkan lukisan.

Paulus mengaku belum pernah menyaksikan langsung Om Paeng melukis. Namun, ketika berkunjung ke rumahnya di Konggang, ia melihat sebuah lukisan kuda yang membuatnya semakin percaya bahwa seni memang menjadi bagian penting dalam diri Om Paeng.

Kini, setelah Om Paeng dipanggil Sang Khalik, yang tersisa adalah kenangan.
Tentang seorang rekan kerja.
Tentang seorang sahabat.
Tentang seorang MC yang mampu menghidupkan suasana.
Tentang seorang sarjana filsafat.
Tentang seorang pencinta musik.
Dan tentang seorang pelukis yang pernah membawa kanvas ke pinggir pantai.

“Bagi saya, Om Paeng bukan hanya seorang staf atau pejabat struktural di Prokopim. Ia adalah bagian dari cerita panjang perjalanan kami,” kenang Paulus Jeramun.

Mungkin sepanjang hidupnya, Om Paeng memang sedang melukis—melukis persahabatan, pengabdian, kebersamaan, dan kenangan di hati orang-orang yang pernah berjalan bersamanya.

Kini kanvas kehidupannya telah selesai.
Kuasnya telah diletakkan.
Sang MC telah membawakan acara terakhirnya di dunia.
Dan Sang Pemilik Kehidupan telah memanggilnya pulang.
Selamat jalan, Om Paeng.
Terima kasih untuk persahabatan, canda, cerita, musik, pengabdian, dan semua warna yang engkau tinggalkan dalam perjalanan kami.
Rest in Peace, Valensius Onggot. (WG)

error: Konten dilindungi!