Ferdinandus Ampur Siapkan Inovasi GITA KELOLA ALSINTAN, Dorong Modernisasi Pertanian Manggarai

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Manggarai, Ferdinandus Ampur, S.H., M.Hum.(Foto: Ist.)

RUTENG, RANAKANEWS.com — Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Manggarai, Ferdinandus Ampur, S.H., M.Hum., menggagas inovasi GITA KELOLA ALSINTAN (Strategi Tata Kelola Alat dan Mesin Pertanian) sebagai langkah strategis untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan alat dan mesin pertanian (Alsintan) di Kabupaten Manggarai.

Inovasi tersebut merupakan bagian dari Laporan Proyek Perubahan dalam kegiatan Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II Angkatan XX. Laporan proyek perubahan yang digagas Ferdinandus Ampur telah memperoleh persetujuan untuk dipresentasikan dan dievaluasi dalam seminar laporan proyek perubahan di Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Bali pada November 2026.

Berdasarkan informasi yang diperoleh RANAKANEWS.com melalui perbincangan dengan Ferdinandus Ampur, seminar tersebut direncanakan berlangsung pada pekan depan. Tahapan ini menjadi bagian penting dari proses evaluasi dan penilaian peserta dalam mengikuti Pelatihan Kepemimpinan Nasional Tingkat II Angkatan XX.

GITA KELOLA ALSINTAN dirancang untuk menjawab berbagai persoalan dalam pengelolaan alat dan mesin pertanian di Kabupaten Manggarai, terutama terkait pendataan, pemeliharaan, monitoring, pelaporan, koordinasi, dan pengawasan.

Berdasarkan data kondisi awal yang menjadi dasar penyusunan inovasi, dari total 30 unit Alsintan yang terdata, sebanyak 14 unit mengalami rusak berat, satu unit rusak ringan, dan hanya 15 unit yang masih dalam kondisi baik.

Kondisi tersebut menunjukkan perlunya pembenahan sistem pengelolaan Alsintan agar lebih terstruktur, terintegrasi, dan responsif. Ketersediaan data yang akurat menjadi faktor penting untuk memastikan setiap alat pertanian dapat dimanfaatkan secara optimal dalam mendukung produktivitas petani.

Melalui inovasi GITA KELOLA ALSINTAN, Ferdinandus Ampur mendorong transformasi tata kelola dari pola konvensional dan reaktif menuju sistem digital yang lebih proaktif, transparan, akuntabel, serta berbasis data.

Pengembangan inovasi ini tidak hanya berorientasi pada pembangunan sistem informasi digital, tetapi juga mencakup penguatan regulasi, penyusunan standar operasional prosedur (SOP), penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta pembangunan kolaborasi lintas sektor.

Kemitraan tersebut melibatkan pemerintah daerah, pengawas Alsintan, Unit Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA), bengkel, kelompok tani, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Dengan sistem pengelolaan yang terintegrasi, inovasi ini diharapkan mampu meningkatkan efektivitas monitoring dan pengawasan, mempercepat pelaporan serta penanganan kerusakan alat, meningkatkan akurasi data, sekaligus mendukung pengambilan keputusan dan penyusunan anggaran berdasarkan kondisi faktual di lapangan.

Pelaksanaan proyek perubahan dirancang melalui tiga tahapan utama.

Pada jangka pendek, kegiatan difokuskan pada penguatan regulasi, penyusunan SOP, pembentukan tim pengelola, serta pengembangan kemitraan dengan berbagai pihak terkait.

Selanjutnya, pada jangka menengah, program diarahkan pada pembangunan dashboard sistem informasi, pelaksanaan uji coba sistem, dan peningkatan kapasitas para pengguna.

Sementara pada jangka panjang, inovasi akan dikembangkan melalui penyempurnaan sistem, integrasi dengan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) daerah, serta replikasi program agar manfaatnya dapat diperluas.

Di tengah pelaksanaan Pelatihan Kepemimpinan Nasional Tingkat II Angkatan XX, Ferdinandus Ampur juga dihadapkan pada situasi kedaruratan akibat bencana gempa bumi yang melanda wilayah Kabupaten Manggarai.

Bencana tersebut mengakibatkan kerusakan infrastruktur dan memberikan dampak terhadap kehidupan sosial serta kondisi psikologis masyarakat. Situasi ini menuntut kehadiran aparatur pemerintah untuk bergerak cepat dalam merespons kebutuhan masyarakat terdampak.

Sebagai bentuk tanggung jawab moral dan manajerial, Ferdinandus Ampur mengambil langkah proaktif dengan turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi masyarakat dan situasi di lokasi bencana.

Kegiatan tersebut meliputi peninjauan posko pengungsian, pendataan kerusakan fasilitas umum dan permukiman warga, serta koordinasi dengan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan perangkat daerah terkait.

Kehadiran aparatur pemerintah di tengah masyarakat diharapkan dapat memastikan distribusi bantuan logistik, pelayanan kesehatan darurat, dan pemenuhan kebutuhan pokok warga terdampak berjalan tepat sasaran dan berkeadilan.

Dalam seminar laporan proyek perubahan yang akan datang, I Dewa Nyoman Rai Dharmadi, S.H., M.Si., dijadwalkan bertindak sebagai penguji, Dr. Ir. Ketut Rusmulyani, M.Pd., sebagai coach, dan Dra. Fransiska N. Ngarung, CGCAE., sebagai mentor.

Seminar tersebut akan menjadi ruang evaluasi untuk memaparkan substansi inovasi, strategi implementasi, serta rencana keberlanjutan program GITA KELOLA ALSINTAN.

Dengan dukungan komitmen pimpinan, kolaborasi lintas sektor, penguatan kompetensi sumber daya manusia, serta keberlanjutan regulasi dan dukungan anggaran, GITA KELOLA ALSINTAN diharapkan menjadi fondasi transformasi tata kelola alat dan mesin pertanian yang lebih efektif, efisien, adaptif, dan berkelanjutan.

Inovasi tersebut sekaligus menjadi langkah nyata Pemerintah Kabupaten Manggarai dalam meningkatkan kualitas pelayanan sektor pertanian, memperkuat dukungan terhadap petani, serta mendorong peningkatan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat tani di Kabupaten Manggarai.(WG)

error: Konten dilindungi!