Aku Ingin: Perahu Sajak Menuju Dermaga Jiwa

Oleh: Willy Grasias

AKU INGIN
Aku ingin berlaut, dengaan perahu sajak ku
Berlayar kata kata, menuju dermaga jiwa ku
Siapa ingin melaut? naiklah perahuku
Kita bermain dengan gelombang, bersaudara dengan topan
Hidup dalam segala cuaca, cahaya menunjuk arah kata Aku ingin berlabu, digelap malam sebagai suluh
Nur Ilahi tersimpan di hati, menyalah di tiap kata sajaku
Aku ingin istirahat, diranjang sajak-sajakku
Namun aku tak mau tidur, sebelum harapan kehabisan gairah
Mungkin besok mentari terbit lagi.
Ruteng 7 Juni 2012.

Aku Ingin: Perahu Sajak Menuju Dermaga Jiwa
Puisi ini sebagai perjalanan batin, cahaya Ilahi sebagai suluh, dan harapan sebagai energi kehidupan.

Puisi sering kali lahir sebagai cermin batin, tempat penyair menyalurkan pergulatan hidup, harapan, dan doa.

Puisi “Aku Ingin” menghadirkan perjalanan batin yang menggunakan laut sebagai metafora kehidupan. Kata-kata menjadi perahu, gelombang menjadi ujian, dan cahaya Ilahi hadir sebagai suluh di tengah malam.

Perahu Kata dan Gelombang Kehidupan
Dalam larik awal, saya ingin menegaskan keinginanku untuk “berlaut dengan perahu sajak.”

Kata-kata bukan sekadar ekspresi, melainkan kendaraan menuju dermaga jiwa. Gelombang dan topan yang disebutkan adalah simbol dari tantangan hidup, yang justru dihadapi dengan semangat persaudaraan.

Ada ajakan kolektif: siapa pun yang ingin melaut, dipersilakan naik ke perahu itu. Puisi ini tidak hanya personal, tetapi juga sosial—mengundang pembaca untuk bersama-sama berlayar dalam segala cuaca.

Cahaya Ilahi sebagai Penunjuk Arah
Di tengah gelap malam, saya menemukan suluh: “Nur Ilahi tersimpan di hati, menyalah di tiap kata sajaku.”

Lirik ini menegaskan bahwa spiritualitas adalah kompas yang menuntun arah.

Kata-kata menjadi doa, sajak menjadi medium untuk menghadirkan cahaya Ilahi. Puisi ini mengajarkan bahwa dalam perjalanan hidup, kita membutuhkan cahaya batin agar tidak tersesat oleh gelap.

Istirahat di Ranjang Sajak
Ada keintiman yang kuat ketika penyair berkata ingin istirahat di “ranjang sajak-sajakku.” Sajak bukan hanya karya, melainkan rumah tempat melepas lelah.

Namun, tekad untuk tidak tidur sebelum harapan kehabisan gairah menunjukkan semangat yang tak pernah padam. Harapan adalah energi yang menjaga jiwa tetap terjaga, bahkan ketika tubuh ingin beristirahat.

Optimisme di Ujung Malam
Puisi ditutup dengan kalimat sederhana namun penuh makna: “Mungkin besok mentari terbit lagi.” Sebuah keyakinan bahwa meski malam gelap, mentari selalu menjanjikan cahaya baru.

Optimisme ini universal, mengingatkan kita bahwa hidup adalah siklus antara gelap dan terang, dan selalu ada kesempatan untuk memulai kembali.

“Aku Ingin” adalah puisi yang memadukan metafora laut, spiritualitas, dan harapan. Ia mengajarkan bahwa kata-kata bisa menjadi perahu menuju dermaga makna, dan setiap malam selalu menjanjikan mentari baru.

Dalam konteks budaya, puisi ini bukan hanya karya sastra, tetapi juga renungan publik: ajakan untuk berlayar bersama, menghadapi gelombang kehidupan, dan tetap percaya pada cahaya Ilahi serta gairah harapan.

Penulis: Pensiun ASN dan juga Wartawan Media Ranakanews.com, tinggal di Ruteng.

 

 

 

 

 

 

error: Konten dilindungi!