Antisipasi Banjir, Pemda Flotim Minta Jembatan Kayu Waiburak Pasang di Kali Waimuring & Nurabelen

Kondisi jalan di Kali Waimuring Nawokote akibat Gorong-Gorong tersumbat membuat banjir lahar dingin Gunung Lewotobi meluap menutup seluruh badan jalan dengan batu, lumpur, kayu, pasir yang tak bisa dilalui kendaraan, Senin 8 September 2025 pagi: Foto (PI/OLA/Ranakanews.com)

LARANTUKA,RANAKANEWS.com-
Mengantisipasi korban dan dampak banjir yang lebih besar di Waimuring Nawokote, dan Nurabelen, langkah gerak cepat perlu segera diambil Pemda Flotim, dengan mengeruk Gorong-Gorong yang tersumbat, dan membangun tipe Jembatan Kayu yang dibangun TNI seperti di Waiburak, untuk hadapi ancaman nyata banjir lahar dingin Gunung Lewotobi yang sewaktu-waktu datang, apalagi menjelang musim hujan, yang tak lama lagi.

“Paling tidak, Pemda Flotim melalui Bupati Anton Doni Dihen bisa minta ke Dandim 1624 Flotim, agar Jembatan Kayu di Waiburak yang dibangun TNI bisa dipindahkan ke Kali Waimuring Nawokote atau Nurabelen.

Apalagi, kejadian terbaru yang dialami warga 4 Desa di Selatan Wulanggitang yakni Waiula, Hewa, Pantai Oa dan Odjandetun, Senin 8 September 2025 pagi, saat banjir lahar dingin Gunung Lewotobi menerjang Kali Waimuring Nawakote dan membuat badan jalan lumpuh total karena dipenuhi Batu, Lumpur, Kayu dan Pasir luapan banjir akibat Gorong-Gorong tersumbat, mesti menjadi catatan serius Pemda Flotim untuk bergerak lebih cepat sebelum musim hujan puncak tiba.

Jangan sampai terlambat dan akhirnya Kali Waimuring Nawakote putus total dan tak bisa dilalui kendaraan lagi.

Nah, Bupati-Wakil Bupati Flotim Anton Doni Dihen-Ignas Boli Uran bisa bicara dengan Dandim 1624 Flotim agar bisa bongkar Jembatan Kayu Waiburak yang dibangun TNI saat bencana banjir badai Seroja Waiburak, untuk dipakai di Kali Waimuring Nawakote dulu.

Demikian pula di Nurabelen, Pemda Flotim bisa minta bantuan TNI bangun pakai Jembatan Kayu seperti di Waiburak, sebelum proyek pengerjaan Jembatan permanen masuk.

Hal ini penting sekali mengingat waktu menuju musim hujan puncak tiba tinggal beberapa bulan lagi,”ujar Thomas Ola, warga Larantuka saat merespons pemberitaan terkait situasi yang dialami warga 4 Desa di Selatan Wulanggitang maupun Desa lainnya Ile Bura, hadapi ancaman serius banjir lahar dingin.

Menurutnya, selain memobilisir alat berat mengeruk jalur banjir dan Gorong-Gorong yang tersumbat, namun tipe jembatan Kayu dan Besi seperti yang dibangun TNI di Waiburak, bisa menjadi alternatif terbaik dan cepat, karena dikejar waktu yang makin mendekati musim hujan puncak.

“Apa yang terjadi di Kali Waimuring Nawakote penting menjadi evaluasi serius Pemda Flotim dan segera bergerak.

Jangan tunggu sampai hujan lebat datang, baru kejut dan bergerak, itu sudah terlambat.

Nah, hujan baru sedikit di Gunung Lewotobi saja, dampaknya jalan lumpuh total dihantam luapan banjir karena Gorong-Gorong sempit,”tambahnya.

Baginya, Pemda Flotim melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sebaiknya fokus urus mobilisir alat berat secepatnya untuk keruk kali dan Gorong-Gorong tersumbat, serta berkomunikasi dengan Dandim 1624 Flotim untuk sama-sama bangun Jembatan Kayu Besi seperti di Waiburak itu dulu.

Karena jika tidak dikerjakan dalam satu dua bulan kedepannya, maka ancaman dampaknya sangat serius, yakni 5 Desa di Ile Bura antara lain; Nurabelen, Riangrita, Lewotobi, Lewoawang dan Riangbura, serta 4 Desa di Selatan Wulanggitang, mulai dari Waiula, Hewa, Pantai Oa dan Odjandetun, bisa terisolasi.

Dibagian lainnya, warga Hewa Paskalis Ipir yang dikonfirmasi Wartawan, Selasa (9/9/2025 malam menjelaskan, belum ada alat berat yang tiba di Kali Waimuring Nawakote hingga hari Selasa (9/9/2025), meskipun cuaca cerah dan tak hujan.

Sementara itu, Kadis PUPR Flotim Saul Hekin,ST saat dikonfirmasi Senin (8/9/2025 kepada Media menyampaikan, alat berat Greder sudah siap ke lokasi, hanya saja masih menunggu koordinasi dengan Operator dan pemantauan perkembangan cuaca.

“Greder ada, BBM siap namun masih tunggu operator dan perkembangan cuaca ekstrim baru bisa bergerak.

Pasalnya, lokasi Kali Waimuring Nawakote masuk dalam Kawasan Rawan Bencana (KRB), sehingga perlu mempertimbangkan keselamatan operator dan alat berat saat berada di lokasi,”timpalnya.

Sebelumnya, Sekda Flotim Drs.Petrus Pedo Maran,M.Si dalam pernyataannya di Media menjelaskan, sesuai informasi dari Pos Pengamatan Gunung Lewotobi Laki-Laki di Pululera dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, bahwa ada 3 juta ton kubik material di Gunung Lewotobi yang menumpuk di puncak hingga lereng, yang berpotensi menjadi banjir lahar dingin saat musim hujan tiba.

Pasalnya, material vulkanik yang menumpuk itu seperti semen yang mudah mencari dan meleleh mengalir turun jika sudah terkena hujan.

“Sehingga warga di Kawasan Rawan Bencana dan maupun di luar kawasan rawan bencana di wilayah Selatan Wulanggitang hingga Ile Bura diminta meningkatkan kewaspadaan.

Sedang ada langkah koordinasi Pemda Flotim siagakan alat berat ke titik-titik rawan seperti Kali Waimuring Nawokote dan Nurabelen, supaya bantu cepat bersihkan material di jalan saat banjir lahar dingin turun,”katanya.

Kalak BPBD Flotim Drs. Ferdy Moat Aeng juga meminta warga di Selatan Wulanggitang dan Ile Bura tetap waspada, termasuk bisa meninggalkan kampung ke tempat yang aman jika hujan mulai meningkat.

Sejumlah pihak juga mendesak Pemda Flotim selain siaga alat berat, namun skenario evakuasi melalui jalur laut di wilayah Selatan Ile Bura dan Wulanggitang, termasuk ke wilayah Talibura melalui Odjandetun ke Pruda-Hikong juga mulai disiapkan.

“Skenario evakuasi jalur laut, juga buka akses darat melalui Odjandetun ke Pruda- Hikong, juga harus disiapkan.

Selain siagakan alat berat di setiap titik rawan banjir lahar dingin, jembatan rangka besi kayu yang dibangun TNI di Waiburak, itu juga penting disiagakan dari sekarang, supaya saat banjir lahar dingin turun bawa material warga sudah tahu dan semua bisa bergerak selamat,”terang Bung Sila, Relawan Kemanusiaan Pancasila Sakti, saat turun ke wilayah Selatan Ile Bura dan Wulanggitang beberapa waktu lalu.

Ketua dan Pendiri Yayasan Nusa Indah Lestari Hijau (Yasnurih) ini lebih mengingatkan, agar semua pihak wajib meningkatkan kesiagaan hadapi ancaman banjir lahar dingin Gunung Lewotobi.

“Selain masyarakat di Selatan Ile Bura dan Wulanggitang diminta meningkatkan kesiagaan, namun Pemda Flotim juga mesti lebih siaga, karena ini ancaman nyata.

Meskipun, Kita semua tetap berdoa meminta Tuhan dan Lewotanah agar menjauhkan bencana alam ini,”tutupnya. (OLA)

error: Konten dilindungi!