Atasi Stunting, Edukasi Gizi Harus Jadi Prioritas di NTT

KUPANG, RANAKANEWS.com- Yayasan Abhipraya Insan Cendekia  Indonesia (YAICI) Bersama PP Muslimat NU menyelenggarakan Sosialisasi dan Diskusi Pencarian Fakta di Lokus Stanting. Bertempat di Sekretariat PW. Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Timur (NTT), Jl. W.C.H. Oematan, No.21/22, Kelurahan Kelapa Lima, Kota Kupang- NTT, Rabu (16/3/2022).

Narasumber pada sosialisasi tersebut Ketua Harian YAICI, Arif Hidayat, S.E., M.M, Ketua Bidang PP Muslimat NU, dr. Erna Soefihara, Dokter Ahli Gizi Dinas Kesehatan Kota Kupang, dr. Riris Yunita Damanik S.Gz.MPH.Si

Berdasar Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021, NTT memiliki 15 Kabupaten berkategori Merah. Pelabelan status merah tersebut berdasarkan prevalensi stuntingnya masih di atas 30 persen.

Data tersebut diambil dari keterangan tertulis yang dikeluarkan Biro Umum dan Humas Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

Berdasarkan Lima Kabupaten di NTT masuk dalam prevalensi sepuluh daerah dengan angka kekerdilan atau stunting tertinggi dari 246 Kabupaten/Kota yang menjadi prioritas percepatan penurunan stunting di Indonesia.

Berdasarkan Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) lima kabupaten tersebut antara lain Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, Alor, Sumba Barat Daya, dan Manggarai Timur. Bahkan Kabupaten Timor Tengah Utara menempati urutan kedua yang memiliki prevalensi stunting tertinggi di Indonesia karena berada di atas 46 persen.

Salah satu bentuk rendahnya pemahaman (literasi) masyarakat akan gizi adalah tingginya konsumsi susu kental manis sebagai minuman susu pada anak.

Tingginya angka stunting di NTT menjadi perhatian khusus bagi Dinas Kesehatan Kota Kupang dalam penanganan stunting.

Dokter Riris Yunita Damanik S.Gz. MPH.Si Ahli Gizi Dinas Kesehatan Kota Kupang mengatakan, sudah seharusnya edukasi gizi menjadi prioritas di NTT mengingat angka kejadian stunting di NTT masih sangat tinggi. Selain itu kebiasaan-kebiasaan masyarakat terkait gizi anak memang mengkhawatirkan.

“Masih banyak anak yang belum 6 bulan tapi sudah diberi pisang dan bubur. Juga yang menjadi persoalan adalah ibu-ibu lebih suka memberi MPASI untuk anak berupa bubur instan, padahal banyak sumber pangan yang bisa di olah. Termasuk susu kental manis, masyarakat masih terbiasa menggunakannya sebagai minuman susu untuk anak,” kata Riris Yunita Damanik kepada wartawan di tengah acara sosialisasi dan edukasi yang dilaksanakan oleh YAICI Bersama PP Muslimat NU.

Lebih lanjut, Riris juga mengatakan akan mendorong agar perhatian terhadap edukasi mengenai cara konsumsi susu kental manis menjadi perhatian dinas setempat karena selama ini belum ada sosialisasi mengenai bahaya konsumsi kental manis.

Sementara itu, Erna Yulia Soefihara, Ketua Bidang Kesehatan PP Muslimat NU yang hadir sebagai pembicara mengatakan PP Muslimat NU akan terus menyampaikan edukasi mengenai gizi kepada masyarakat terutama kader-kader NU. Sebab, pemahaman mengenai gizi berkaitan langsung dengan kesehatan anak dalam keluarga.

“Mengenai stunting, yang pertama kali terganggu itu adalah otak anak. Begitu anak lahir, otak anak Tidak berkembang sebagaimana mestinya, ini adalah akibat ketidaktahuan ibu,” jelas Erna Yulia Soefihara.

Lebih lanjut, Erna juga menambahkan, selain di Kupang, NTT, PP Muslimat NU bersama YAICI juga telah melakukan edukasi di Jawa Timur, yakni di Banyuwangi dan Sidoarjo. Erna menegaskan edukasi ini untuk membatasi konsumsi gula harian.

“Gula adalah media yang paling disenangi sel-sel kanker. Jadi sebaiknya konsumsi makanan minuman tinggi gula ini sebaiknya dihindari. Makanya penderita kanker sebaiknya membatasi konsumsi gula, apalagi susu kental manis, ini sangat disukai oleh sel-sel kanker untuk tumbuh,” pungkas Erna.

Arif Hidayat, Ketua Harian YAICI dalam kesempatan itu menjelaskan edukasi yang telah dilakukan YAICI bersama PP Muslimat NU. Diantara yang telah dilakukan adalah edukasi dan sosialisasi melalui kader, edukasi langsung ke masyarakat, penelitian hingga penggalian data langsung ke masyarakat yang mengkonsumsi susu kental manis.

“Persoalan-persoalan yang kami temukan di lapangan itu beragam. Ada yang orang tua memang tidak tahu mengenai kandungan susu kental manis, atau bahkan ada yang sudah tahu tapi masih memberikan susu kental manis untuk anaknya. Alasannya juga macam-macam, ada yang lebih murah  atau anaknya lebih suka,” jelas Arif. (TD)

error: Konten dilindungi!
Exit mobile version