Opini  

Budaya atau Kebiasaan? Saatnya Anak Muda NTT Mengambil Kendali

Oleh:  Dr.Ir. Suryawati, M.Si

Di Nusa Tenggara Timur (NTT), segelas Sopi bukan sekadar minuman. Ia adalah simbol–tentang penghormatan, kebersamaan, dan warisan leluhur. Dalam banyak ritus adat, minuman keras tradisional hadir sebagai bahasa budaya yang menyatukan. Namun hari ini, kita dihadapkan pada pertanyaan yang lebih mendasar: apakah makna itu masih terjaga, atau telah bergeser menjadi sekadar kebiasaan tanpa kendali?

Realitas di lapangan menunjukkan perubahan yang tidak bisa diabaikan. Konsumsi minuman keras tidak lagi terbatas pada ruang-ruang sakral, tetapi telah merambah kehidupan sehari-hari, terutama di kalangan anak muda. Dari simbol budaya, ia perlahan berubah menjadi gaya hidup. Di titik inilah, kita perlu bersikap jujur: yang kita hadapi bukan lagi persoalan tradisi, melainkan krisis kontrol diri.

Berbagai kajian ilmiah telah menegaskan bahwa alkohol bukan zat netral. Ia bersifat adiktif dan berdampak langsung pada fungsi otak—mulai dari gangguan memori, penurunan kemampuan berpikir, hingga melemahnya kontrol emosi. Pada usia remaja, ketika perkembangan otak belum sepenuhnya matang, dampaknya menjadi jauh lebih serius. Konsumsi yang berulang dapat mendorong kecemasan, depresi, bahkan perilaku agresif dan kriminal .

Lebih dari itu, alkohol sering menjadi pintu masuk bagi perilaku berisiko lainnya—merokok, penyalahgunaan narkoba, hingga keputusan-keputusan impulsif yang merugikan masa depan. Ini bukan sekadar isu individu, tetapi persoalan sosial yang memengaruhi kualitas generasi.

Namun, menyederhanakan masalah ini sebagai “budaya yang harus dihapus” adalah pendekatan yang keliru. Budaya bukan musuh. Yang menjadi persoalan adalah pergeseran makna—dari yang sakral menjadi konsumtif, dari yang terbatas menjadi berlebihan. Pelarangan total tanpa memahami konteks justru berpotensi memicu resistensi dan kehilangan kepercayaan masyarakat.

Di sinilah letak tantangan sekaligus peluang. Kita tidak perlu memilih antara budaya atau kesehatan. Kita bisa—dan harus—memilih keduanya.

Anak muda NTT berada di garis depan perubahan ini. Mereka bukan sekadar pewaris budaya, tetapi juga penentu arah masa depan. Mengambil kendali bukan berarti menolak tradisi, melainkan memahami batasnya. Bahwa dalam konteks adat, konsumsi memiliki makna simbolik—bukan ajang mabuk-mabukan. Bahwa menghormati leluhur tidak identik dengan kehilangan kesadaran diri.

Peran keluarga dan lingkungan menjadi sangat krusial. Nilai tidak hanya diajarkan, tetapi diteladankan. Orang tua, tokoh adat, dan pemuka agama memiliki posisi strategis untuk menegaskan kembali makna yang benar. Ketika pesan yang disampaikan selaras—bahwa budaya harus dijalankan dengan bijak—maka norma sosial pun akan terbentuk.

Di sisi lain, pendidikan harus hadir lebih dari sekadar larangan. Literasi tentang alkohol perlu disampaikan secara ilmiah, kontekstual, dan relevan dengan realitas anak muda. Mereka perlu tahu bukan hanya “jangan”, tetapi “mengapa”. Kesadaran yang lahir dari pemahaman akan jauh lebih kuat daripada sekadar aturan.
Pemerintah daerah juga tidak bisa absen. Regulasi yang tegas terhadap distribusi dan akses—terutama bagi anak di bawah umur—adalah langkah minimum yang harus dilakukan. Namun lebih dari itu, perlu ada investasi pada ruang-ruang alternatif: olahraga, seni, komunitas kreatif, dan kewirausahaan. Anak muda tidak hanya butuh larangan, mereka butuh pilihan.

Pada akhirnya, persoalan ini kembali pada satu kata kunci: kontrol diri. Bukan budaya yang salah, bukan pula modernitas yang sepenuhnya keliru. Yang menentukan adalah bagaimana individu memposisikan diri di antara keduanya.

Generasi muda NTT memiliki kekuatan untuk membuktikan bahwa menghormati budaya tidak harus mengorbankan masa depan. Bahwa identitas tidak dibangun dari seberapa banyak yang diminum, tetapi dari seberapa bijak keputusan yang diambil.

Kini saatnya menggeser narasi: dari “ini sudah budaya” menjadi “ini tanggung jawab kita bersama”. Karena masa depan NTT tidak ditentukan oleh apa yang diwariskan, tetapi oleh bagaimana generasi mudanya memilih untuk menjalani warisan itu.

Penulis : Dosen Jurusan Tanaman Pangan dan Hortikultura, Politeknik Pertanian Negeri Kupang.

error: Konten dilindungi!
Exit mobile version