Opini  

Atheisme dan Batas-Batas Nalar dalam Le Pari Blaise Pascal

Oleh: Fr. Rafael Lumintang, OCD

Manusia modern kerap memandang dirinya telah melampaui kebutuhan akan Tuhan. Dengan sains di tangan dan teknologi di genggaman, ia berdiri seolah kokoh di atas rasionalitas yang otonom, menempatkan dirinya sebagai pusat penentu makna. Dalam lanskap ini, atheisme tampil dengan wajah yang tenang, bukan sebagai penolakan yang bergolak, melainkan sebagai sikap yang tampak netral, sekadar “tidak percaya,” seolah-olah ia bebas dari keterikatan emosional maupun metafisik. Namun ketenangan itu menyimpan sebuah retakan halus dan sangat lembut, benarkah ketidakpercayaan adalah wilayah tanpa risiko? Ataukah ia justru keputusan eksistensial yang paling sunyi, sebuah pilihan yang diambil tanpa pernah sepenuhnya diakui sebagai pilihan?

Saya sengaja menampilkan situasi ini, yang hemat saya sangat relevan dengan situasi manusia modern sekarang. Untuk membantu saya mencincang situasi krusial di atas dan kemudian menyajikannya dalam koridor yang baik dan benar, saya dibantu oleh filsuf besar bernama Blaise Pascal. Di titik inilah gema pemikiran Pascal kembali menyelinap, bukan sebagai warisan usang, tetapi sebagai interupsi yang menggugat kesadaran manusia modern. Melalui konsepnya yang terkenal “Le Pari,” Pascal tidak berusaha membuktikan Tuhan dalam kerangka metafisika yang kaku, melainkan menggoyahkan ilusi netralitas itu sendiri. Ia menyingkap bahwa dalam perkara Tuhan, manusia tidak pernah benar-benar berada di luar permainan, bahkan diam adalah bentuk keterlibatan. Maka, antara percaya dan tidak percaya, manusia selalu sudah berada dalam taruhan, sebuah pertaruhan eksistensial yang tak bisa dihindari, hanya bisa disadari atau diabaikan.

Atheisme modern kerap berdiri di atas satu fondasi yang tampak kokoh, yang mereka namakan sebagai “sains dan rasionalitas.” Kedua hal ini kerap menolak Tuhan bukan karena gejolak emosi, melainkan karena ketiadaan bukti yang dianggap memadai. Dalam paradigma ini, ketidakpercayaan tampil sebagai posisi paling aman, sebuah wilayah epistemologis yang seolah bersih dari spekulasi metafisik, netral dari komitmen, dan bebas dari risiko. Namun justru di balik klaim netralitas itu, tersembunyi sebuah ilusi yang jarang disadari. Sebab dalam ranah eksistensial, tidak memilih bukanlah kemungkinan yang nyata; ia hanyalah topeng dari keputusan yang tidak diakui. Ketika seseorang berkata “saya tidak percaya,” ia sesungguhnya telah mengambil posisi, bukan kehampaan, melainkan sikap yang diam-diam mengafirmasi cara hidup tertentu yakni “hidup seolah-olah Tuhan tidak ada.”

Tampak dalam episode yang menegangkan ini, retakan sains dan rasionalitas modern mulai menunjukan taringnya. Sebab keputusan itu, meski sering diselubungi sebagai netralitas, membawa konsekuensi logis yang menjalar ke seluruh horizon hidup, membentuk cara manusia memahami makna, menimbang moralitas, dan memaknai penderitaan serta kematian. Atheisme, dengan demikian, tidak pernah benar-benar bebas nilai; ia adalah pilihan yang menyamar sebagai ketidakberpihakan, keputusan yang enggan mengakui dirinya sebagai keputusan. Pada titik inilah rasionalitas dan sains menemukan batasnya sendiri, mereka bukan lagi tentang menghindari risiko, melainkan tentang keberanian mengakui bahwa setiap posisi mengandung taruhan.

Manusia modern tidak pernah hidup dalam kepastian yang utuh, melainkan dalam kemungkinan yang selalu terbuka dan tak selesai. Ia tidak memiliki akses penuh pada kebenaran absolut, namun tetap harus menjalani hidup seolah-olah ia memahami arah yang ditempuhnya. Di sinilah eksistensi menjelma sebagai pertaruhan yang tak terhindarkan, sebuah ruang di mana setiap langkah, sadar atau tidak, adalah pilihan. Bahkan dalam diam, bahkan dalam penundaan, manusia tetap memilih, menentukan apa yang bermakna, apa yang layak diperjuangkan, dan apa yang dapat dibiarkan larut. Maka hidup tidak pernah netral; ia selalu merupakan afirmasi yang terselubung, keputusan yang terus berlangsung tanpa henti.

Dalam horizon ini, pertanyaan tentang Tuhan tidak pernah sekadar teoretis, melainkan menyentuh inti keberadaan itu sendiri. Menjawab atau mengabaikannya sama-sama menentukan arah hidup secara menyeluruh. Atheisme, karena itu, bukan hanya posisi intelektual, tetapi keputusan eksistensial, memilih untuk hidup tanpa horizon transenden, menutup kemungkinan akan yang tak terhingga, dan membatasi makna dalam lingkup dunia yang terbatas. Namun di balik keputusan itu, tersembunyi tegangan yang tak mudah didamaikan. Manusia merindukan makna yang melampaui dirinya, tetapi sekaligus gentar melangkah ke wilayah yang tak dapat dibuktikan. Ia berdiri di antara dua arus yakni, hasrat akan yang abadi dan ketakutan akan ketidakpastian, sebuah ketegangan yang justru menyingkapkan kedalaman misteri dirinya sendiri.

Di tengah tegangan antara hasrat akan kepastian dan keterbatasan pengetahuan manusia, Blaise Pascal menghadirkan sebuah pendekatan yang unik sekaligus menggugat. Seperti yang telah saya kemukakan di awal yakni konsep “Le Pari” yang artinya (taruhan). Ia tidak memulai dari fondasi kepastian, melainkan dari pengakuan akan ketidakpastian itu sendiri. Manusia, bagi Pascal, tidak pernah memiliki bukti definitif tentang Tuhan, namun tetap tidak bisa menghindar dari pertanyaan yang paling radikal sekaligus fundamental, jika kita tidak tahu, bagaimana kita harus hidup? Dari sini, Pascal menggeser fokus rasionalitas dan sains bukan lagi mencari kepastian yang mutlak, tetapi mempertimbangkan risiko yang melekat pada setiap pilihan. Hidup pun dipahami sebagai arena pertaruhan, di mana setiap sikap membawa konsekuensi yang tak dapat diabaikan.

Dalam koridor yang tampak indah ini, pilihan untuk percaya atau tidak percaya tidak pernah netral. Jika seseorang memilih untuk percaya, ia mungkin tampak melepaskan sebagian kenikmatan duniawi; namun jika Tuhan ada, ia memperoleh yang tak terhingga. Sebaliknya, jika seseorang memilih untuk tidak percaya, ia tampak hidup lebih bebas; tetapi jika Tuhan ada, ia mempertaruhkan segalanya. Di sinilah kekuatan konsep Le Pari dari Blaise Pascal, ia membongkar ilusi keamanan dalam atheisme, menunjukkan bahwa ketidakpercayaan pun adalah sebuah taruhan, bahkan mungkin yang paling sunyi dan paling berisiko. Lebih progresif lagi, Pascal menyingkapkan sesuatu yang esensial tentang manusia bahwa ia tidak pernah benar-benar berada di luar permainan makna. Bahkan dalam upaya untuk tidak memilih, ia tetap sudah terlibat dalam pilihan itu sendiri.

Petualangan ini tidak pernah sungguh-sungguh berakhir. Konsep filosofis Le Pari Pascal tidak berhenti pada kalkulasi dingin yang mekanis. Ia justru membuka sebuah undangan eksistensial, untuk melangkah, untuk mencoba hidup seolah-olah Tuhan ada, dan membiarkan pengalaman itu berbicara. Pada akhirnya, manusia tidak pernah bebas dari risiko; ia hanya dapat memilih risiko mana yang ingin ia tanggung. Atheisme mungkin tampak aman, tetapi menyimpan pertaruhan yang tak kalah besar; iman mungkin tampak sebagai lompatan dalam ketidakpastian, tetapi membuka kemungkinan yang jauh melampaui batas dunia. Di antara keduanya, manusia berdiri di ambang batas, tidak pernah sepenuhnya pasti, namun selalu dituntut untuk memilih. Dan mungkin di situlah martabat manusia menemukan kedalaman maknanya, bukan pada kepastian yang dimilikinya, melainkan pada keberanian untuk bertaruh di tengah ketidakpastian, sebab, pada akhirnya, kita semua sedang bertaruh, entah kita mengakuinya

Fr TOP di Biara Novisiat, Bogenga, Bajawa, Nusa Tenggara Timur.

 

error: Konten dilindungi!
Exit mobile version