Opini  

Air Mata atau Air Bersih: Warisan Apa yang Mau Kita Berikan?

Oleh: Amadeus Arilsteven Tampani

Kita sering berbicara tentang masa depan Indonesia dengan penuh optimisme. Pertumbuhan ekonomi, pembangunan dan cita-cita Indonesia emas 2045 menjadi gambaran kehidupan yang lebih baik. Namun optimisme itu terasa ironis ketika di sejumlah wilayah, terutama Kalimantan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali mengancam kehidupan masyarakat dan juga ekosistem lainnya.

Hutan terbakar, udara tercemar dicemari asap, aktivitas warga terdistraksi, banyak ekosistem yang hangus terbakar, tumbuhan dan satwa khusus yang hampir punah. Kita berbicara tentang masa depan yang gemilang, tetapi belum sepenuhnya serius menjaga syarat paling mendasar untuk mewujudkannya.

Karhutla tidak seharunya dilihat sebagai bencana musiman yang cukup disesali ketika terjadi, dan setelahnya dilupakan setelah api padam dan kabut menipis. Lebih dari itu persoalan ini harus dibedah dengan mendalam dan serius agar dapat menemukan akar permasalahan serta solusi mutakhir demi mencegah problem ini terulang lagi. Sebab, persoalnnya tidak berhenti pada luas lahan yang terbakar atau pekatnya asap.

Ada kerusakan ekosistem, kesehatan yang terganggu, ancaman terhadap punahnya habitat, dan dampak ekonomi yang berlangsung jauh lebih lama dari pada peristiwa kebakaran itu sendiri. Api mungkin sudah dipadamkan namun bukan berarti dengan itu semua problem sudah teratasi.

Berangkat dari semua ini maka perlu bagi kita untuk sedikit berefleksi dan tidak berhenti pada pertanyaan bagaimana agar supaya api bisa dipadamkan, tetapi lebih dari itu kita juga perlu bertanya mengapa persoalan yang sama ini terus melanda kita.

Apakah kita benar-benar belajar dari kerusakan yang terjadi, atau justru melihat semuanya ini sebagai hal biasa yakni sebagai konsekuensi yang tidak dapat dihindarkan demi terjadinya pembangunan. Sebab apa yang terbakar di hari ini bukan hanya hutan dan lahan, lebih dari itu sebagian dari kemungkinan kehidupan yang layak bagi generasi mendatang juga digerogoti.

Kemajuan Yang Mengabaikan Tanggung Jawab

Tidak ada alasan untuk menolak pembangunan. Masyarakat membutuhkan lapangan kerja, negara membutuhkan pertumbuhan ekonomi. Sumber daya alam memang perlu untuk dimanfaatkan untuk dapat meningkatkan kesejahteraan.

Namun yang perlu dikritisi ialah apakah keuntungan dan kesejahteraan yang menjadi tujuan tersebut apakah untuk segelintir oknum ataukah untuk seluruh masyarakat. Apakah keuntungan yang dinikmati hari ini akan berlangsung seterusnya ataukah malah mendatangkan malapetaka bagi generasi mendatang.

Kita cendeung jatuh pada kerdilnya paradigma tentang sebuah keberhasilan, di mana keberhasilan hanya dilihat melalui apa yang telah dibangun, seberapa banyak keuntungan yang diapat, atau seberapa cepat dan besar pertumbuhan ekonomi yang diperoleh. Ukuran-ukuran itu penting, namun tidak cukup.

Kita juga harus sampai pada tahap melihat apa yang hilang, siapa yang menanggung kerugian, dan harga seperti apa yang harus dibayar jika terjadi kegagalan atau kerusakan. Dengan demikian diperlukan pendekatan holistik untuk melihat permasalahn ini.

Hutan bukan sekedar hamparan lahan yang menunggu untuk dimanfaatkan. Ia merupakan bagian dari sistem kehidupan yang menopang keanekaragaman hayati, menjaga mata air, menyimpan karbon, dan menyediakan ruang hidup bagi manusia maupun makhluk lainnya.

Ketika hutan rusak dampaknya tidak hanya dirasakan oleh masyarakat yang tinggal disekitarnya. Kerusakan itu dapat menjalar melalui udara, air, dan berbagai hubungan ekologis yang melampaui batas wilayah.

Karena itu, penanganan karhutla tidak cukup berhenti pada pemadaman api. Kita perlu memperkuat pencegahan, pengawasan pemanfaatan lahan, dan penegakan hukum terhadap pelanggaran lingkungan. Pemerintah harus memastikan kebijakan pengelolaan sumber daya alam tidak memberi dampak negatif bagi masyarakat dan ekosistem alam.

Tanggung Jawab Kepada Generasi Berikutnya sebagai Etika Kepedulian

Hans Jonas seorang filsuf asal Jerman mengemukakan sebuah gagasan tentang etika tanggung jawab masa depan. Melalui teorinya ini Jonas ingin mengingatkan bahwa kekuatan dari tindakan manusia telah mengalami perkembangan sedemikian besar hingga akibatnya dapat melampaui ruang dan waktu kehidupan sendiri.

Keputusan dan tindakan yang kita buat hari ini tidak hanya akan berdampak pada hari ini tetapi dampaknya juga akan dirasakan oleh generasi mendatang. Untuk itu tanggung jawab moral tidak cukup pada kepentingan manusia yang hidup sekarang, tetapi juga harus mempertimbangkan keberlangsungan hidup di masa depan.

Gagasan ini sejatinya mengajak kita untuk melihat karhutla dari sudut pandang yang lebih luas. Keputusan mengenai pengolahan hutan dan lahan mungkin menghasilkan keuntungan ekonomi hari ini, tetapi dampaknya akan berlangsung puluhan tahun.

Oknum-oknum yang menikmati keuntungan belum tentu menjadi orang-orang yang kelak akan menanggung seluruh kerugiannya. Bahkan, sebagian dari yang mereka yang paling terdampak mungkin belum lahir ketika keputusan dibuat.

Di sinilah letak persoalan moralnya. Generasi mendatang tidak hadir dalam ruang pengambilan keputusan. Mereka tidak dapat menyampaikan keberatan jika lingkungan dirusak, tidak dapat menuntut pertimbnagna yang lebih matang ketika resiko ekologis diabaikan, dan tidak memiliki kesempatan untuk mencegah keputusan yang kelak mempengaruhi kehidupan mereka. Namun ketidakhadiran mereka tidak berarti kepentingannya boleh diabaikan.

Dalam konteks ini, tanggung jawab bukan sekedar mengakui kesalahan setelah bencana terjadi. Tanggung jawab berarti memikirkan konsekuensi sebelum bertindak dan bersedia membatasi kepentingan sesaat demi keberlangsungan kehidupan yang lebih baik kedepannya. Kita tidak berhak memperlakukan masa depan seolah-olah ia merupakan ruang kosong untuk menampung segala akibat dari keputusan hari ini.

Warisan Tidak Selalu Tentang Harta

Ketika berbicara tentang warisan, yang sering muncul di dalam pikiran kita adalah tentang tanah, rumah, uang atau harta benda lainnya. Padahal sejatinya ada warisan yang lebih mendasar dan berharga seperti udara yang terbebas dari polusi, air yang bersih, tanah yang subur, hutan yang terjaga dan ekosistem yang mendukung bagi kehidupan.

Kita terbiasa menikmati semua itu seolah-olah alam akan terus menyediakannya tanpa batas. Karhutla mengingatkan bahwa hal itu tidak benar. Ketika hutan terbakar, yang terancam bukan hanya pepohonan, tetapi juga keseimbangan ekologis yang menopang kehidupan. Ketika lingkungan rusak ada harga yang harus dibayar, dan harga itu akan sangat mahal.

Bukankah tidak adil apabila suatu generasi menikmati keuntungan dari pemanfaatan alam, sementara generasi berikutnya harus membayar biaya kerusakannya? Ketidakadilan ini semakin nyata ketika kerusakan yang sebenarnya dapat dicegah, tetapi dibiarkan demi kepentingan sesaat.

Air Mata Atau Air Bersih?

Barangkali persoalan terbesar dari karhutla bukan semata-mata kenyataan bahwa hutan dapat terbakar melainkan kemungkinan bahwa kita terus mengulangi kesalahan yang sama tanpa sungguh-sungguh belajar darinya. Kita dapat merasakan keprihatinan ketika menyaksikan bagaimana kempulan asap menembus dinding-dinding udara dan mendengar ratapan dari saudara-saudara yang terdampak.

Akan tetapi, keprihatianan ini akan kehilangan makna ketika hanya berakhir dalam kata dan tidak ada aksi nyata untuk memperbaiki. Semuanya itu akan menjadi sia-sia apabila tidak diikuti dengan perubahan dalam cara kita melihat dan memperlakukan alam.

Kita tidak dapat menuntut masa depan yang cerah bagi generasi mendatang jika pada saat yang sama mengabaikan tanggung jawab untuk mempersiapkannya. Masa depan bukan sesutu yang datang dengan sendirinya. Ia ada dan menjadi melalui keputusan-keputusan yang kita buat sekarang.

Maka dari itu, karhutla seharunya menjadi peringatan bagi kita semua untuk merefleksikan kembali arti dan makna dari suatu kemajuan. Penting bagi kita untuk bertanya bukan saja tentang keuntungan apa yang dapat kita dapat hari ini melalui lingkungan, tetapi juga mengenai apa yang akan kita wariskan setelah semua keuntungan itu dinikmati.

Pertanyaan ini menuntut kedewasaan moral, hal ini karena tidak semua hal yang mendatangkan keuntungan di hari ini layak dipertahankan apabila akibatnya mengancam kehidupan di kemudin hari.

Akhirnya ialah bahwa air bersih atau air mata bukanlah sebuah permainan diksi belaka, tetapi lebih dari itu, ada pesan dan makna mendalam yang terkandung di dalam dan dibaliknya, yakni tentang dua asumsi kemungkinan warisan yang sedang kita persiapkan bagi generasi mendatang, bagi anak cucu kita.

Penulis: Mahasiswa Fakultas Filsafat, Universitas Katolik Widya Mandira.

error: Konten dilindungi!
Exit mobile version