Dinamika Kesehatan Mental Perempuan di Masa Pandemi

Dinamika Kesehatan Mental Perempuan di Masa Pandemi

OPINI-RANAKANEWS.com- Pandemi Covid-19 telah menimbulkan dampak yang sangat luas di berbagai aspek, diantaranya aspek ekonomi, social maupun personal. Selain berdampak pada kesehatan fisik, pandemi juga berpengaruh terhadap kesehatan mental setiap orang. Kesehatan mental dan kesehatan fisik merupakan dua hal yang sama pentingnya karena dapat mengantarkan manusia menuju aktualisasi diri. Namun faktanya, perspektif masyarakat tentang pentingnya kesehatan mental masih sangat rendah dibandingkan dengan kesehatan fisik.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, kesehatan mental merupakan kondisi dari kesejahteraan yang disadari Individu, yang di dalamnya terdapat kemampuan-kemampan untuk mengelolah stress kehidupan yang wajar. Singkatnya individu dapat bekerja secara produktif dan menghasilkan sesuatu serta berperan aktif dalam berbagai  aktifitas sosial di lingkungannya. Sejak Covid-19 merebak pada awal tahun 2020, kesehatan mental sudah menjadi sebuah kekhawatiran di berbagai kalangan terutama di bidang kesehatan. Beberapa kebijakan yang diterapkan  oleh pemerintah dengan tujuan untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 ini, memaksa berbagai  kegiatan di ruang public dibatasi. Dengan adanya perubahan tatanan kehidupan masyarakat ini tentunya memicu terjadinya tekanan psikologis apabila tekanan tersebut tidak dapat dikelola dengan baik.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia, 68% orang mengalami depresi akibat Covid-19 dengan menunjukan berbagai gejala seperti depresif, kecemasaan maupun stress. Dari data tersebut, penderita  terbanyak dialami oleh kaum perempuan. Pada masa pandemi ini, tekanan terhadap perempuan lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki. Hal tersebut juga dibuktikan dengan temuan Rapid gender Assesment (RGA)  dan UN Women di Eropa serta Senteral Asia yang menyatakan bahwa 15% perempuan kehilangan pekerjaannya, 41% perempuan mengalami penurunan upah kerja serta  peningkatan jam dan beban kerja perempuan di dalam keluarga. Dengan dihadapkan pada begitu banyak persoalan tersebut,  tentunya peluang untuk berisiko mengalami masalah gangguan  mental misalkan stres, gangguan kecemasan, dan depresi semakin besar  terhadap perempuan. Masalah ini tentunya  menjadi bahan renungan bagi  kita bahwa kesehatan mental masih harus terus diupayakan, terlebih lagi masyarakat Indonesia dan dunia dihadapkan pada pola kehidupan yang baru akibat pandemi Covid-19.

Multi peran yang diemban oleh perempuan dimasa pandemi ini turut menjadi  penyebab perempuan rentan mengalami gangguan kesehatan mental. Peran dan tanggungjawab  yang semakin besar, tekanan social dan ekonomi yang meningkat, pembatasan terhadap mobilitas masyarakat,  serta pendapatan yang semakin menurun juga turut andil di dalamnya. Di samping itu, maraknya kasus yang menjadikan perempuan sebagai objek dari tindakan kekerasan dan pelecehean seksual, serta adanya ketidakseimbangan peran antara laki-laki dan perempuan, menyebabkan perempuan semakin berpotensi mengalami traumatik.

Ketika  kesehatan mental seseorang mulai terganggu, kemampuannya dalam menghadapi berbagai tekanan hidup secara normal serta beraktivitas secara produktif juga akan berkurang. Pada dasarnya interaksi merupakan salah satu cerminan bahwa seseorang memiliki kesehatan mental yang baik, karena setiap individu memerlukan berbagai keterampilan dalam berinteraksi seperti keterampilan interpersonal maupun kemampuan untuk membuka diri dan mnerima orang lain. Tak terkecuali perempuan, saat kesehatan mental perempuan perlahan terganggu, kontribusinya baik sebagai ibu, istri, maupun seorang pekerja akan semakin menurun. Kemampuannya dalam bersosialisasi dengan lingkungan sekitar perlahan dibatasi serta cenderung menarik diri dari berbagai aktivitas sosial lainnnya. Namun, apakah tidak ada solusi yang bisa membebaskan perempuan dari berbagai persoalan gangguan mental tersebut? Tentunya Tidak.  Bukan karena perempuan lebih berpotensi mengalami gangguan mental, tidak berarti perempuan akan selalu terjerat di dalamnya.
Perempuan memang rentan terhadap gangguan mental akibat berbagai faktor tersebut. Tetapi, kerentanan tersebut justru menjadikan peran perempuan  lebih kuat dalam pencapaian kesehata mental. Dengan berbagai peristiwa yang berpotensi mengganggu stabilitas kesehatan mental mereka, menjadikan perempuan belajar untuk menghadapi dan mengatasi berbagai peristiwa yang dapat merusak mentalnya. Sebagai kaum yang kini hidup di zaman modern, perempuan harus mampu  merepresentasikan jiwa emansipasinya dengan berpartisipasi dalam berbagai peran yang setara dengan laki-laki. Kondisi tersebut memberi  peluang bagi perempuan untuk menyuarakan dan memperjuangkan peningkatan kesehatan mental terhadap kaumnya.

Untuk mendukung tercapainya kesehatan mental terhadap kaum perempuan, ada begitu banyak peran yang dapat melibatkan perempuan turut andil di dalamnya. Dalam konteks politik, perempuan memperoleh ruang yang cukup luas untuk menyampaikan aspirasinya terkait dengan peningkatan kesehatan mental. Selain itu, perempuan juga dapat menjadi seorang psikolog karena memiliki sensitivitas yang cukup tinggi sehingga lebih berempati dalam membantu masyarakat untuk meningkatkan  kesehatan mental. Selain berperan untuk masyarakat luas, perempuan juga dapat berperan terhadap peningkatan kesehatan mental di wilayah keluarga. Sebagai seorang Ibu, perempuan memiliki peran yang sangat vital dalam keluarga terutama dalam hal komunikasi dan pengasuhan. Dalam beberapa penenlitian, dijelaskan bahwa pola asuh yang otoritatif dapat berdampak positif terhadap kesehatan mental, yakni anak cenderung lebih bertanggung jawab dan independen.

Cara Menjaga Kesehatan Mental di Masa Pandemi
Pentingnya kesehatan mental merupakan hal yang masih sangat minim untuk disadari oleh setiap orang, tetapi dengan dihadapkan pada situasi pandemik dengan jangka waktu yang terbilang cukup lama, membuat setiap individu lebih menyadari seberapa pentingnya menjaga kondis mental agar tetap sehat. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa, dalam situasi ini Perempuan lebih berpotensi mengalami masalah kesehatan mental yang disebabkan oleh berbagai faktor. Namun, dari sederet penyebab tersebut berikut saya lampirkan solusi  yang dapat diterapkan untuk mengatasinya baik bagi masyarakat pada umumnya maupun secara khusus bagi perempuan.
1. Membangun Relasi Yang Baik Dengan Keluarga Dan Teman.
Dengan diterapkannya bebagai kebijakan oleh pemerintah, mengharuskan beberapa aktivitas yang seharusnya dilakukan di ruang public dibatasi dan dikerjakan dari rumah atau Work from Home. Dalam situasi seperti ini, pentingnya membangun hubungan yang harmonis dengan orang-orang terdekat dapat meminimalisir timbulnya  tekanan dan kecemasan. Di era digital ini, komunikasi kita dengan teman maupun rekan jauh lainnya masih bisa terjalin intensif melalui telepon, atapun komunikasi melalui sosial media. Selain itu, dengan menghabiskan banyak waktu dengan anggota keluarga seperti bersenda gurau bersama, berolahraga bersama, makan bersama, ataupun beribadah bersama dapat mengurangi timbulnya kecemasan.
2. Mengonsumi Makanan Yang Bergizi
Asupan nutrisi yang cukup juga, dapat menjaga kesehatan mental seseorang. Seperti makanan yang mengandung protein, lemak sehat, karbohidrat, vitamin, mineral, serta makanan yang berserat seperti buah-buahan.
3. Melakukan Berbagai Kegiatan Positif Yang Menggunakan Aktivitas Fisik
Selama berada di rumah, hendaknya kita berolahraga ringan seperti lari-lari kecil lompat di tempat dan sebaganya. Selain itu sebagai perempuan yang memiliki peran vital dalam keluarga, membereskan rumah, mencuci dan lainnya dapat meredakan stress. Berdasarkan penelitian, aktivitas tubuh yang lebih produktif dapat memproduksi hormone endorphin yang dapat meredakan stress, mengurangi rasa kekhawatiran dan meningkatkan mood.
4. Lebih Bijak Dalam Menyikapi Berbagai Informasi
Di tengah arus informasi tentang pandemi Covid-19 yang terus berkembang, penting bagi kita untuk menyaring berbagai informasi yang diperoleh. Terlalu banyak mengonsumsi berita dengan topik tertentu dapat membuat kesehatan mental terganggu. Karena di situasi seperti ini, tidak sedikit juga oknum-oknum yang mengambil kesempatan untuk memperoleh keuntungan dengan menyajikan berita bohong atau hoax.

Dengan menerapkan berbagai solusi yang disarankan, maka kesehatan mental masyarakat lebih berpotensi tercapai. Pandemi Covid-19 boleh mengubah tatanan kehidupan kita, namun perempuan tetaplah menjadi obor yang tanpa batas memberikan harapan ditengah gelapnya terpaan pandemi  ini, perempuan tetaplah menjadi cahaya yang selalu bersinar dengan kasih sayangnya.. Tetapi, tentunya peran tersebut harus mendapat dukungan penuh, baik itu dari orang-orang terdekat maupun yang mencakup masyarakat secara luas. Karena dalam mencapai tujuan mulia tersebut, perempuan tidak boleh berjalan sendirian namun membutuhkan kekuatan tambahan dari berbagai komponen pendukung lainnya.

Oleh: Trivonia Arut, Mahasiswa Semester 4, Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat- FKM Undana Kupang

error: Konten dilindungi!