Dua Prajurit TNI yang Mengabdi Lewat Politik: SPK dan Yosep Falentinus Kebo Kembali Membangun NTT

Keterangan Foto: Calon Gubernur NTT, Simon Petrus Kamlasi (SPK) foto bersama Yosep Falentinus Delasalle Kebo, dua figur dengan karier militer yang gemilang, telah memutuskan untuk meninggalkan dunia militer demi mengabdi kepada masyarakat melalui jalur politik.

KEFAMENANU, RANAKANEWS.com – Dunia politik Indonesia kembali diwarnai dengan kisah pengorbanan dan pengabdian, kali ini dari dua sosok mantan prajurit TNI yang memilih jalur politik untuk membangun kampung halaman mereka di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Simon Petrus Kamlasi dan Yosep Falentinus Delasalle Kebo, dua figur dengan karier militer yang gemilang, telah memutuskan untuk meninggalkan dunia militer demi mengabdi kepada masyarakat melalui jalur politik.

Simon Petrus Kamlasi: Dari Brigadir Jenderal ke Calon Gubernur NTT.

Simon Petrus Kamlasi, mantan Brigadir Jenderal TNI, lahir di Timor Tengah Selatan pada 14 April 1975. Setelah meniti karier militer sejak lulus dari Akademi Militer pada tahun 1996, Kamlasi mencapai berbagai jabatan strategis di TNI Angkatan Darat, termasuk sebagai Staf Ahli Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD). Namun, pada puncak kariernya, Kamlasi membuat keputusan mengejutkan: meninggalkan posisinya yang prestisius untuk kembali membangun NTT.

“Jika saya tetap menjadi perwira tinggi, itu hanya untuk membanggakan diri saya dan keluarga. Tapi, saya ingin lebih banyak berbuat untuk masyarakat,” kata Kamlasi saat safari politik di perbatasan Indonesia-Timor Leste. Ia merasa terpanggil untuk mendekatkan diri pada rakyat NTT, daerah yang sudah ia kenal secara mendalam sejak menjabat sebagai Kepala Staf Korem 161/Wirasakti Kupang pada tahun 2013.

Kini, Kamlasi maju sebagai calon Gubernur NTT untuk periode 2024-2029 dengan tekad membawa perubahan nyata. Ia berkomitmen untuk mengatasi berbagai persoalan mendasar yang dihadapi masyarakat NTT dan mengembalikan semangat pembangunan di daerah yang ia cintai.

Yosep Falentinus Delasalle Kebo: Mayor yang Berpaling untuk Timor Tengah Utara

Yosep Falentinus Delasalle Kebo, yang lebih akrab disapa Falen, lahir di Wini, Timor Tengah Utara (TTU) pada 10 Februari 1977. Sebagai lulusan Akademi Militer tahun 1999, Falen menjalani karier cemerlang di TNI, termasuk sebagai Komandan Tim Khusus di Satuan Khusus Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI. Namun, pada tahun 2019, ia memutuskan untuk pensiun dini dengan pangkat Mayor demi misi yang lebih besar: membangun daerah asalnya.

“Pengabdian untuk negara sudah cukup, tapi mengabdi untuk masyarakat kita belum,” ungkap Falen, yang kini mencalonkan diri sebagai calon Bupati TTU untuk periode 2024-2029. Setelah pensiun, Falen aktif di organisasi masyarakat (ormas) Beta Timor, yang fokus pada kebutuhan masyarakat TTU. Ia percaya bahwa hanya pemimpin asli daerah yang benar-benar memahami kebutuhan utama masyarakat dan bisa membawa perubahan signifikan.

Pengorbanan Demi Misi yang Sama: Membangun NTT dan TTU

Baik Simon Petrus Kamlasi maupun Yosep Falentinus Delasalle Kebo, meski berasal dari latar belakang militer, berbagi visi yang sama: membangun kampung halaman mereka dengan lebih dekat kepada masyarakat. Mereka percaya bahwa pemimpin yang efektif adalah yang memahami kondisi riil di lapangan dan terjun langsung membantu rakyat. Keduanya membawa semangat pengabdian yang kuat, berbekal pengalaman mereka di dunia militer.

“Sudah waktunya kami berbuat lebih banyak untuk masyarakat,” ujar mereka dalam berbagai kesempatan. Keputusan mereka untuk meninggalkan karier militer demi mengabdi di dunia politik menunjukkan komitmen kuat untuk membawa perubahan yang lebih besar bagi NTT dan TTU.

Langkah ini tidak hanya menjadi cerita pengorbanan pribadi, tetapi juga simbol dari kebangkitan politik lokal yang lebih berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Dalam konteks politik NTT yang kerap diwarnai oleh persaingan kekuasaan, kehadiran tokoh-tokoh seperti Kamlasi dan Falen memberikan harapan baru. Mereka tidak hanya datang untuk memimpin, tetapi juga untuk mengabdi dengan hati dan visi yang jelas.

Masyarakat kini menanti, apakah janji-janji pengabdian ini akan diwujudkan dalam aksi nyata yang membawa perubahan signifikan bagi NTT dan TTU. Dengan semangat dan dedikasi yang mereka tunjukkan, Simon Petrus Kamlasi dan Yosep Falentinus Delasalle Kebo tidak hanya menjadi calon pemimpin, tetapi juga simbol dari harapan baru untuk pembangunan daerah. (*/RN)

error: Konten dilindungi!