LARANTUKA,RANAKANEWS.com- Pro kontra terkait rencana cepat pembelian 2 (unit) Excavator bencana senilai Rp5 M oleh Pemda Flotim bagi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Flotim, untuk siaga tanggap darurat saat banjir lahar Gunung Lewotobi, melalui Pos dana bencana APBN senilai Rp20 M, dinilai penting menjadi perhatian serius pemerintah sebagai kebutuhan vital serta mendesak bagi keselamatan nasib ribuan jiwa di 6 Desa di Kecamatan Ile Bura dan 4 Desa di Kecamatan Wulanggitang, yang bisa terisolasi jika banjir lahar Gunung Lewotobi menerjang dan melumpuhkan akses transportasi darat saat musim hujan tiba.
Apalagi, faktanya selama ini Pemda Flotim tak punya Excavator bencana dan kesulitan bergerak cepat saat tanggap darurat banjir lahar Gunung Lewotobi, serta hanya mengandalkan tenaga manusia kerja gotong royong, dengan peralatan seadanya.
Seperti yang terjadi di jalur Nobo-Nurabelen, Ile Bura, maupun Nawokote-Kali Waiwuring Wulanggitang, lantaran selain akses untuk mobilisasi alat berat susah, tapi karena tidak ada alat berat milik Pemda Flotim.
Berharap pada jasa peralatan milik pengusaha lokal pun susah, karena terbatas.
Buktinya, setelah banjir lahar Gunung Lewotobi menerjang pemukiman warga, merusak akses jalan raya, jembatan hingga transportasi dan aktivitas publik lumpuh, tidak ada alat berat seperti Excavator yang siap siaga di lokasi bencana.
Excavator baru bisa tiba setelah beberapa hari, bahkan lebih lama. Itupun kerja tidak maksimal karena keterbatasan dana sewa pakai oleh Pemda Flotim.
Belum lagi gangguan teknis alatnya rusak, BBM tersendat dan operatornya tinggal di Larantuka, sedangkan lokasi kerja di Nurabelen.
Karena itu, kesiapsiagaan Pemda Flotim dengan membeli Excavator bencana, sangat urgen, vital dan mendesak dan diharapkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Republik Indonesia, menyetujui dan segera direalisasikan, biar pekerjaan penanganan jalur banjir lahar Gunung Lewotobi bisa dimulai sebelum musim hujan tiba.
“Kalau memang ini vital dan mendesak kebencanaan, maka beli, sembari Pemda Flotim bisa melobi pemerintah pusat minta tambahan Excavator kebencanaan.
Tapi, mungkin ada baiknya cukup beli 1 (unit) Excavator dulu, sementara dana sisanya dari Rp5 Milyar ini bisa dipakai buat penanganan pekerjaan darurat seperti normalisasi jalur-jalur banjir lahar Gunung Lewotobi, juga perbaikan cepat Plat Deker yang berpotensi dilalui banjir lahar agar lebih siap,”ujar salah seorang mantan Pejabat Pemda Flotim, yang enggan disebutkan namanya, saat berbicara dengan Wartawan, per telepon, Kamis 3 September 2026, malam.
Menurutnya, kondisi banjir lahar Gunung Lewotobi di Jalur Nobo-Nurabelen Ile Bura dan Nawokote-Kali Waiwuring Wulanggitang itu memang harus diakui butuh Excavator untuk antisipasi penanganan keadaan darurat.
“Namun, cukup beli 1 (satu) unit saja dan harus siaga di Nurabelen dalam pengelolaan BPBD Flotim sebagai Excavator bencana, bukan untuk kerja proyek lainnya di luar bencana.
Kita berharap Pemerintah Pusat dalam hal ini BNPB merestui usulan pembelian Excavator ini,”ujarnya lagi.
Meskipun demikian, Ia mengatakan, Pemkab Flotim harus bisa memastikan menjamin Excavator tersebut bisa berfungsi dengan baik, dijaga kualitas barangnya tetap terawat dan tidak boleh disalahfungsikan, serta selalu mampu menyediakan dana perawatannya, ongkos kerja operatornya dengan baik.
Pasalnya, pengalaman selama ini bahwa banyak barang inventaris milik pemerintah seperti Excavator PUPR, Pertanian dan juga Lingkungan Hidup kerap tidak diperhatikan dengan baik, hingga rusak dan ditelantarkan.
Sebagaimana data yang diperoleh Wartawan di lapangan, beberapa alat berat seperti Excavator milik PUPR rusak dan tak diperbaiki di Workshop milik PUPR di Waibalun.
Kemudian sebuah alat berat Louder PUPR rusak dibiarkan saja di Kebun Raya Waiwerang hingga kini.
Warga Korban Erupsi dan Banjir Lahar Gunung Lewotobi, Excavator Sangat Dibutuhkan
Terlepas dari banyak pihak yang anjurkan agar belanja Excavator bencana ditangguhkan, karena masih ada kebutuhan lainnya yang lebih urgen, namun usulan Pemda Flotim membeli Excavator bencana tersebut mendapat dukungan penuh dari warga korban erupsi dan banjir lahar Gunung Lewotobi.
Pasalnya, keberadaan Excavator bencana ini merupakan kebutuhan nyata dan paling mendesak, serta vital ketika banjir lahar Gunung Lewotobi menerjang pemukiman warga dan menghancurkan jalan, jembatan hingga melumpuhkan arus transportasi darat karena membawa material batu, pasir, lumpur dan kayu.
“Seperti pengalaman kemarin saat banjir lahar, jalan dan jembatan hancur tak bisa dilintasi kendaraan.
Terpaksa penumpang harus turun jalan kaki saat malam hari, melintasi lumpur, batu besar yang begitu banyak, kayu besar dengan jarak sekitar 2 Km dari Nobo ke Nurabelen.
Sangat memprihatinkan keadaan saat itu. Ancaman keselamatan nyawa sangat nyata. Semuanya lumpuh total. Kondisi jalan raya sangat buruk.
Mobil angkutan umum milik Saya dan angkutan lainnya harus parkir di Nobo. Tak bisa melintasi jalan trans Nobo-Nurabelen-Lewotobi.
Karena itu, usulan Pemda Flotim membeli Excavator bencana dari dana bantuan Presiden Republik Rp20 M itu sangat tepat, karena memang yang paling dibutuhkan saat ini untuk kami masyarakat di Ile Bura yang terdampak langsung banjir lahar Gunung Lewotobi,”ujar Boy Kedang, pengusaha muda angkutan umum, dalam komentarnya, belum lama ini.
Ia mengatakan, cukup beli satu unit Excavator juga tidak apa-apa jika dananya terbatas dan alat itu harus standby di Nurabelen, karena itu titik yang dilalui banjir lahar Gunung Lewotobi.
Dirinya sangat berharap Pemerintah Pusat menyetujui usulan Pemda Flotim tersebut.
Dipihak lain, beberapa kalangan juga menganjurkan agar Pemda Flotim mesti selektif dalam membeli Excavator agar kualitas baik supaya umur manfaatnya panjang dan harganya terjangkau.
“Tergantung dananya. Jika dana Rp5 M dan rencana beli 2 unit, maka cari tipe Excavator yang harganya Rp1,5-Rp2 M, karena harus beli juga Aksesoris lainnya seperti Braker.
Lalu jika Excavator Rantai maka juga mesti siap beli dengan Mobil Tronton. Atau beli Excavator rodanya Ban biar tidak usah beli mobil Tronton lagi,”ujar salah satu narasumber yang enggan ditulis identitasnya. (OLA)












