Festival Mekko, Datang Tak Lewati Jalan Rusak Hingga Terlantarkan Warga Penari Dolo-Dolo 

Penjabat Gubernur NTT Ayodhia Kalake dan Penjabat Bupati Flotim Sulastri Rasyid saat berada di Pantai Wisata Mekko, dalam rangka festival mini Mekko, Sabtu 3 Agustus hingga Minggu 4 Agustus 2024. Tampak keindahan alam Pantai Mekko di Sore hari: Foto (RS/OLA/Ranakanews.com)
Penjabat Gubernur NTT Ayodhia Kalake dan Penjabat Bupati Flotim Sulastri Rasyid saat berada di Pantai Wisata Mekko, dalam rangka festival mini Mekko, Sabtu 3 Agustus hingga Minggu 4 Agustus 2024. Tampak keindahan alam Pantai Mekko di Sore hari: Foto (RS/OLA/Ranakanews.com)

LARANTUKA,RANAKANEWS.com –
Gelaran festival mini Mekko, Witihama Flores Timur, Sabtu 3 Agustus 2024 hingga Minggu 4 Agustus 2024 yang dihadiri langsung Penjabat Gubernur NTT Ayodhia G.Kalake dan Penjabat Bupati Flotim Sulastri Rasyid untuk promosi wisata Mekko, dikritik keras warga, karena dinilai hanya menghabiskan dana, ajang show pejabat untuk sedot dana perjalanan dinas, dan juga karena menelantarkan warga yang ikut menari dolo-dolo, akibat kerja panitia yang tidak becus.

Selain itu, kedatangan Penjabat Gubernur NTT dan Penjabat Bupati Flotim melalui jalur laut, dan tak melewati kondisi jalan rusak, juga mendapat kritikan warga.

Sejumlah Netizen memberikan kecaman kerasnya di Group WhatsApp Suara Flotim.

Pasalnya, Pemda Flotim yang rajin menggelar festival, mestinya lebih mempersiapkan dengan baik gelaran festival Mekko kali ini agar memberi dampak positif bagi warga dan daerah, dalam kaitan dengan pertumbuhan ekonomi dan perbaikan infrastruktur hari ini maupun kedepan.

Florianus Kopong, salah satu Netizen dalam pesannya menyebutkan, “Mekko sudah indah dan cantik, mestinya promosi pasar pariwisata juga harus indah dan cantik.

Tanpa itu sia-sialah. Pemda Flotim khususnya Dinas Pariwisata harus berani jual dan promosi agar dunia tahu bahwa ada surga di Adonara seperti ini.

Tapi, kalau hanya membuat festival dan menghabiskan uang, maka sia-sialah.

Intinya, promosikan semua ini agar rakyat Mekko dan sekitarnya pun ikut menikmati semua ini.

Di Bali, namanya Subak pun dipromosikan oleh desa sendiri untuk menarik para turis datang menikmati Sunset diatas terassering yang indah dan gagah untuk menghasilkan uang untuk masyarakatnya,”tulis Florianus Kopong.

Hal yang sama diungkapkan Simeon Saka dalam cuitannya, “Seharusnya Pak Kadis Pariwisata/Panitia Festival Mini Mekko berani menunjukkan ke Pak Ayodhia Kalake dan Ibu Sulastri Rasyid melewati jalan darat agar Beliau berdua dapat berpikir dan menindaklanjuti program peningkatan pembangunan jalur jalan menuju Mekko kedepannya,”.

Ia juga menyoroti keseriusan Pemda Flotim sejak menjadi Pulau Pasir di Mekko sebagai wisata andalan, yang belum membangun sarana tambatan perahu motor yang melayani wisatawan.

“Juga sarana prasarana penunjang lainnya seperti warung, perkiosan yang menyediakan berbagai kebutuhan wisatawan.

Semua ini sudah harus disiapkan Pemda Flotim dan juga Pemdes Pledo,”sarannya.

Kritikan juga dilontarkan warga lainnya. “Jika masyarakat sekedar jadi penonton menyaksikan show para pejabat, dan instansi terkait yang turun dengan biaya dinas, tanpa peduli dengan sarana prasarana milik masyarakat setempat seperti perahu motor, maka sama saja nol manfaat dari festival ini,”tukas Simeon Saka, lagi.

Keluhan juga dilontarkan Atman Kia Teron, “Jangankan transportasi laut, penjemputan rombongan juga mobil dinas yang punya peran di Bandara Larantuka, sementara mobil-mobil rental jadi penonton. Tidak ada pengaruh ekonomi bagi awak mobil rental,”cuitnya.

Sementara terkait diterlantarkannya Warga Penari Dolo-Dolo asal Desa Tuwagoetobi Witihama yang diundang khusus untuk acara penjemputan Gubernur NTT Ayodhia Kalake dan Penjabat Bupati Flotim Sulastri Rasyid, yang sudah hadir sejak jam 13.00 WITA di Pulau Pasir Mekko, hingga pukul 20.00 WITA, lalu dibatalkan panitia karena kondisi laut tak mengijinkan, juga menuai kekecewaan para penari, dan kritik keras.

Pasalnya, kerja panitia dianggap tidak becus dan profesional dalam mempersiapkan festival.

“Kami sangat kecewa, karena sudah tiba sejak pukul 13.00 WITA tanpa bawa bekal, lalu dibatalkan.

Kami sampai lapar dan haus. Air minum juga tidak ada. Perahu motor untuk bawa pulang Kami ke darat juga tidak disiapkan panitia.

Untung saja ada perahu yang lewat, lalu Kami minta antar pulang ke darat,”ujar salah seorang warga Desa Tuwagoetobi Witihama sebagaimana dirilis MetroTimor.com.

Diketahui, dibatalkan tarian Dolo-Dolo ini lantaran rombongan Gubernur NTT Ayodhia Kalake yang tiba melalui jalur laut menumpang kapal Perikanan Flotim mengalami macet mesin dan hadang gelombang tinggi hingga lambat masuk ke Mekko sekitar pukul 18.00 WITA, sehingga tak bisa lagi merapat ke Pulau Kelelawar dan Pasir Putih.

Hal ini membuat warga penari Dolo-Dolo mengamuk karena sudah jemur dan lelah menunggu dari jam 13.00 WITA, hingga 20.00 WITA, dan tak ada penjemputan ke darat, sementara air laut di Pasir Putih mulai penuh kembali. (OLA)

error: Konten dilindungi!
Exit mobile version