Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur, Irjen Pol. (Purn.) Dr. Drs. Johni Asadoma, M.Hum., mengunjungi dan memberikan motivasi bagi siswa siswi SMAN Lantoka, di Desa Lantoka, Kecamatan Alor Timur, Kabupaten Alor, Selasa (13/10/2026). (Foto: DC)
KALABAHI, RANAKANEWS.com – Mengawali Kunjungan kerja hari ke 2 di kabupaten Alor Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur, Irjen Pol. (Purn.) Dr. Drs. Johni Asadoma, M.Hum., mengunjungi dan memberikan motivasi bagi siswa siswi SMAN Lantoka bertempat di Desa Lantoka, Kecamatan Alor Timur Kabupaten Alor Selasa (13/10/2026).
Turut mendampingi Wakil Bupati Alor, Rocky Winaryo dan Jajaran Pimpinan Perangkat Daerah Kabupaten Alor.
Kunjungan tersebut merupakan langkah implementasi mendukung Dasa Cita ke 6 yakni Sekolah Vokasi Unggulan, yang berfokus pada pembangunan dan pengembangan sekolah kejuruan yang berorientasi pada peningkatan keterampilan peserta didik serta disesuaikan dengan kebutuhan dunia kerja dan potensi unggulan daerah.
Dalam arahannya, Wagub Johni mengapresiasi kepala sekolah, para guru, dan siswa yang telah berupaya memanfaatkan potensi serta sumber daya yang tersedia di lingkungan sekolah.
“Saya mengapresiasi kepala sekolah, guru-guru, dan siswa-siswi dengan apa yang telah dilakukan. Tentu ini sesuatu hal yang baik, membiasakan anak-anak untuk rajin bekerja, pandai melihat situasi, dan melatih cara berpikir. Ketika kita melihat sesuatu dan melakukan sesuatu, itu berarti otak kita bekerja,” ungkapnya.
Ia mengingatkan para siswa agar bersyukur atas kesempatan belajar dan memanfaatkan setiap peluang untuk mengembangkan diri.
“Tidak ada yang didapat dengan santai. Dengan kerja keras, disiplin, tekad yang kuat, dan doa, cita-citamu akan tercapai. Semua pintar, masalahnya kamu bisa mengelola kepintaran atau tidak?” tegas Johni.
Untuk memotivasi para siswa, Wagub juga membagikan pengalaman perjalanan hidup dan kariernya melalui pemutaran video profil Gubernur NTT. Ia menceritakan perjuangannya menempuh pendidikan dengan berjalan kaki sejauh enam kilometer dari rumah ke sekolah karena keterbatasan ekonomi keluarga.
“Saya jalan dari rumah ke sekolah enam kilometer, pergi pulang 12 kilometer. Karena apa? Orang tua tidak mampu kasih uang naik bemo, tidak mampu juga beli jajan. Intinya belajar,” kenangnya.
Ia menekankan pentingnya kebiasaan membaca, penguasaan bahasa Inggris, kedisiplinan, dan keberanian dalam membangun masa depan.
“Anak-anak kalau mau maju harus belajar bahasa Inggris. Nilainya bagus, kuliah dapat beasiswa. Itu banyak sekali, salah satunya LPDP atau beasiswa dari negara-negara lain,” ujarnya.
Wagub Johni juga mengingatkan para siswa agar bijak memanfaatkan teknologi dan media sosial, memilih pendidikan lanjutan sesuai kebutuhan dunia kerja, serta menjauhi kebiasaan yang dapat merusak masa depan.
“Jangan minum minuman keras, jauhi mereka yang suka minum-minum keras. Kalau mau sukses, jangan minum sopi. Rokok jangan. Kerja keras, tetap belajar, dan bawa buku ke mana-mana. Berdoa dan baca Alkitab, maka Tuhan akan memberkati jalanmu,” pesannya.
Lebih lanjut, ia mengajak siswa untuk membangun kepercayaan diri, memperluas jaringan pertemanan, kreatif, komunikatif, pantang menyerah, serta menghormati dan menyayangi orang tua.
Dalam sesi dialog, salah seorang perwakilan siswa, Melianus, menyampaikan harapan agar pemerintah dapat mendukung pembangunan asrama bagi siswa SMAN Lantoka. Menurutnya, jarak tempat tinggal siswa yang berjauhan menjadi salah satu tantangan dalam mengakses pendidikan.
Menanggapi aspirasi tersebut, Wagub Johni menjelaskan bahwa pembangunan asrama masih diprioritaskan secara bertahap, terutama untuk sekolah menengah kejuruan (SMK), dengan mempertimbangkan keterbatasan anggaran daerah.
“Masalah asrama, kita masih prioritaskan SMK, salah satunya di SMK Kokas, karena SMK merupakan sekolah kejuruan. Tentu anggaran kita terbatas, jadi kita lakukan secara bertahap, harap sabar ke depan akan kita perhatikan,” jelasnya.
Kepala SMAN Lantoka, Yason Abraham Adang, menjelaskan bahwa sejak berdiri pada 2005, sekolah berkomitmen membentuk siswa yang beriman dan bertakwa serta mengembangkan potensi sumber daya lokal.
Dengan luas lahan 3,7 hektare, SMAN Lantoka saat ini memiliki 90 siswa, 16 guru, dan empat tenaga kependidikan. Namun, sekolah masih menghadapi keterbatasan peralatan pertanian dan berharap adanya dukungan pembangunan asrama untuk menunjang akses pendidikan siswa dari wilayah sekitar. (LA/ RN)
