GM PT.Tigate Trees Indonesia Apresiasi Kunjungan Ketua DPRD Sikka Lihat Sentra Pertanian Modern & Terintegrasi

General Manager (GM) PT.Tigate Trees Indonesia, David Novianto bersama jajarannya mengapresiasi kunjungan kerja Ketua DPRD Sikka Stefanus Sumandi dalam rangka melihat praktek baik pengembangan perkebunan Mente seluas 800 hektar milik PT.Tigate, yang terintegrasi dengan produk turunan Mente seperti Arak Mente (Wain,red), Gula Cair Mente, juga Minyak Sere Merah, Hydrosol, Sabun mandi herbal Sere Merah, juga ada peternakan Ayam KUB2, pembibitan Sere Merah, yang dilakukan secara organik. Kunjungan ini juga menjadi point penting bagi kebijakan pembangunan pertanian Kabupaten Sikka kedepannya.,

Kunjungan kerja Ketua DPRD Sikka Stefanus Sumandi dan rombongan ke PT.Tigate Trees Indonesia, Rabu 28 Oktober 2026, diterima dan diapresiasi langsung General Manager (GM) PT.Tigate Trees Indonesia David Novianto dan jajaran karyawannya dengan sangat respek dan penuh antusias. Ketua DPRD Sikka Stefanus Sumandi datang didampingi Kabid Produksi, Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Dinas Perkebunan Flotim, Aloysius T.Payong,SP dan jajarannya ikut saksikan pembuatan gula cair Mente, Wain/Arak Mente, Minyak Sere Merah dan Hydrosol: Foto (OLA/Ranakanews.com)
Kunjungan kerja Ketua DPRD Sikka Stefanus Sumandi dan rombongan ke PT.Tigate Trees Indonesia, Rabu 28 Oktober 2026, diterima dan diapresiasi langsung General Manager (GM) PT.Tigate Trees Indonesia David Novianto dan jajaran karyawannya dengan sangat respek dan penuh antusias. Ketua DPRD Sikka Stefanus Sumandi datang didampingi Kabid Produksi, Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Dinas Perkebunan Flotim, Aloysius T.Payong,SP dan jajarannya: Foto (OLA/Ranakanews.com

LARANTUKA,RANAKANEWS.com-Kunjungan kerja Ketua DPRD Kabupaten Sikka, Stefanus Sumandi ke Sentra Perkebunan modern dan terpadu, PT.Tigate Trees Indonesia, Desa Waibao Kecamatan Tanjung Bunga, Rabu 28 Oktober 2026, dalam rangka melihat langsung sistem perkebunan Mente moderen, yang terintegrasi dan menjaga keseimbangan alam, serta tanpa sampah mendapat respek dan apresiasi yang tinggi dari Manajemen PT.Tigate Trees Indonesia.

Kunjungan kerja Ketua DPRD Sikka dan rombongan ini, menandai bahwa praktek-praktek terbaik perkebunan tentang tanaman Mente, yang dikelolah PT.Tigate Trees Indonesia selama ini, telah mendorong antusias banyak pihak untuk datang melihatnya, serta bisa memberikan kesempatan luas kepada Pemerintah dan Masyarakat Kabupaten Sikka untuk berkolaborasi dan bekerjasama dalam hal baik,”demikian keterangan Pers yang disampaikan General Manager PT.Tigate Trees Indonesia, David Novianto kepada Wartawan di Management Complex dan Sunset Point PT.Tigate Trees Indonesia, Rabu (28/10/2026) sore.

Dikatakannya, dalam kunjungan kali ini, pihaknya sangat respek mendampingi Pak Stef Sumandi melakukan beberapa kegiatan dimulai dari, meninjau langsung lokasi pembibitan 160 ribu anakan Mente, dalam hamparan seluas 3 hektar.

Kemudian, Pak Stef Sumandi dan rombongan, melihat beberapa produk turunan dari Jambu Mente dan Sere Merah sebagai tanaman selah yakni Hydrosol atau air sulingan Sere dan minyak Sere Merah yang bernilai ekonomis dan kesehatan yang tinggi, dengan harga 1 Kg Rp370.000.

“Rombongan juga melihat olahan produk Sabun mandi herbal Sere Merah, hasil olahan minyak Kelapa dan Sere Merah.

Juga ada pengolahan gula cair Mente, Minuman Wine (Arak Mente,Red), serta Pupuk Organik Cair (POC) dan Biopestisida Bacillus Thuringlensis berbasis bakteri untuk kendalikan hama-hama ulat dan serangga yang dikembangkan, kemudian Sarana Prasarana pendukung pengendalian hama, Telescopic Spraying Stick atau Tongkat Steak Mesin mekanis semprot dan Drone air 2 unit yakni; DJI T30 dan T25P, yang mampu semprot lahan Mente seluas 1 hektar dalam waktu 15 menit.

Alat ini bekerja sangat efektif dan efisien, dimana satu hari saja bisa menyemprot lahan Mente seluas 45 hektar.

Jadi, bisa untuk melakukan pemupukan secara otomatis,”terang David Novianto.

Untuk turunan tanaman Sere Merah, salah satu Staf Ahli PT.Tigate, Mas Joko menjelaskan, Hydrosol atau air sulingan Sere Merah berfungsi untuk mematikan hama ulat putih pada tanaman Mente, yang disemprotkan dengan menggunakan Drone.

“Hama putih ini akan mati dan jatuh menjadi mulsa organik,”katanya.

Sementara masih terkait Drone milik PT.Tigate, David Novianto lebih jauh menjelaskan, keunggulan Drone ini bisa mengikuti kontur lahan yang bergelombang, jurang, bukit dan datar, karena ada kemampuan deteksi sensor radar.

Selain itu, katanya, Drone ini bisa melakukan penyemprotan pada pagi, siang dan malam hari.

Mau jam 9 malam, jam 2 dinihari hingga pukul 04.00 atau 05.00 pagi pun tak masalah tanpa rasa khawatir terkena gangguan, karena sensor radarnya bekerja sangat optimal,”terang David Novianto, lagi.

Menurutnya, selain meningkatkan produktivitas kerja, pihaknya memakai Drone, bertujuan untuk memastikan keselamatan kerja karyawan.

“Mereka datang kerja selamat dan pulang dengan selamat.

Maksudnya, secara jangka panjang menghindari manusia bekerja terpapar bahan kimia.

Sehingga Kami memakai mesin semprot Drone itu, selain karena memang produktivitasnya tinggi karena cakupan kerja sangat luas,”katanya menambahkan.

Ketua DPRD Sikka Sempat Kunjungi Lokasi PT.Tigate Yang Masih Panen Mente

David Novianto kepada Wartawan lebih jauh mengatakan, kunjungan kerja Ketua DPRD Sikka kali ini juga ke lokasi panen Mente milik PT.Tigate Trees Indonesia yang masih berlangsung sampai hari ini, dan juga melihat pohon Mente yang masih berbunga.

“Ini kejadian anomali, ketika Kita lihat Mente -Mente masyarakat pada umumnya sudah mulai berkurang, kering dan buahnya mulai jarang, tetapi kebun Mente PT.Tigate masih panen dan berbunga, yang membuktikan secara nyata apa yang Kami lakukan dalam praktek perkebunan modern organik terbukti.

Ketua DPRD Sikka juga berkunjung ke lokasi pembibitan 160 ribu anakan Mente dalam kebun 3 hektar.

Lalu, melihat grating sambung pucuk Mente, Perkecambaan Mente dengan teknik yang benar.

Beliau sangat kagum terhadap apa yang ada di lokasi pembibitan,”beber David Novianto.

Tak hanya itu, Ketua DPRD Sikka, yang didampingi Kabid Produksi, Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan, Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunter) Flotim, Aloysius T.Payong,SP, dalam kesempatan ini juga mengunjungi sentra pembuatan gula cair Mente, Minyak Sere, menyaksikan penerbangan Drone semprot Mente, lokasi Kandang Ayam KUB2 dengan sistem pertanian yang terintegrasi, dimana ada tanam tanaman sebagai pakan ayam, kemudian ayam makan, kotorannya menjadi pupuk bagi tanaman lainnya.

“Ayam ini secara genetis beradapetasi baik di Flores yang punya cuaca panas, membuat Ayam sangat produktif.

Umur 2 bulan saja beratnya 1 Kilogram. 4-5 bulan sudah bertelur, dengan 1 (Satu) ekor Betina bisa bertelur 250 sampai 350 butir per tahun.

Baiknya lagi, Kita tidak tergantung pembelian pakan ayam dari pabrikan.

Kita meramu dan meracik makanan sendiri dari bagi ayam.

Targetnya, membuat ayam senang berkembang biak dan mengarah ke kemandirian bibit ayam dan pakan ayam.

Sehingga prinsip kelestarian akan bisa terjaga,”sambung David Novianto, lebih detail soal ayam KUB2, sembari menambahkan, pihaknya berencana akan melakukan penetasan bibit ayam, dengan harapan bisa dijual kepada peternak lokal.

Sementara saat ditanya Wartawan terkait apakah ada tindak lanjut pembicaraan dengan Ketua DPRD Sikka usai kunjungan ke PT.Tigate Trees Indonesia? GM David Novianto menegaskan, dalam diskusi bersama Ketua DPRD Sikka Stefanus Sumandi disampaikan, akan ada tindak lanjut lagi dalam kunjungan berikut, serta menggagas kelompok tani agar ada bimbingan teknis di Sentra Perkebunan PT.Tigate Trees Indonesia, supaya bisa dikembangkan dan makin terasa dampaknya bagi masyarakat Kabupaten Sikka.

Kunjungan Ketua DPRD Sikka ini juga menjadi Kabupaten ke 3 yang datang berkunjung, setelah Flotim dan Lembata.

“Kabupaten Lembata sering kirim petugas PPL ke sini untuk dilatih.

Dinas Perkebunan dan Peternakan Flotim juga sering datang dilatih.

Selain itu, Kami juga ada MoU dengan Universitas Nusa Nipa (UNIPA) Kabupaten Sikka untuk kerjasama di bidang riset, PKL, Susun Skripsi dan kegiatan lainnya.

Kami juga kerjasama dengan Institusi lainnya, seperti Pemprov NTT, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, untuk mengembangkan Agropertanian di areal hutan sosial milik negara, guna meningkatkan daya beli masyarakat.

Ketua DPRD Sikka Puji Perkebunan Terintegrasi & Bebas Sampah PT.Tigate Trees Indonesia 

Dibagian lainnya, Ketua DPRD Sikka Stefanus Sumandi dalam kunjungannya ke PT.Tigate Trees Indonesia kali ini secara terbuka di hadapan Wartawan, memuji model pengembangan perkebunan/pertanian yang dibuat PT.Tigate Trees Indonesia yang patut menjadi contoh bagi model kebijakan pembangunan pertanian kedepan, terutama perkebunan di Kabupaten Sikka.

“Disini, setelah Kita lihat dari dekat, manajemen pengelolaan perkebunan terintegrasi dan pertanian terpadu (Integrated Farming,red), yang didalamnya kalau Kita lihat ada hal yang luar biasa yakni bebas sampah.

Dimana, sampah-sampah semua yang dihasilkan dari kebun, dikembalikan ke kebun menjadi pupuk pestisida organik dan lainnya.

Seperti Jambu Mente diambil air buah semunya jadi arak (Wine,red), gula cair Mente.

Di bawah Jambu Mente ada tanaman Sere Merah, daunnya diolah jadi minyak Sere Merah dan Air sulingan Hydrosol jadi POC untuk semprot hama kutu putih Mente, lalu POCnya jatuh menjadi mulsa organik.

Kemudian, Ayam KUB2 kotorannya jadi pupuk. Saya kira ini yang harus menjadi perhatian serius untuk kebijakan pembangunan pertanian yang berkelanjutan,”ujarnya saat diwawancarai Wartawan usai kunjungan kerja tersebut.

“Kami sebelumnya telah mendapat presentasi dari PT.Tigate tentang pengembangan Jambu Mente.

Karena itu, dalam rangka mengambil kebijakan pembangunan daerah, terutama sektor pertanian, Saya pikir perlu melihat dari dekat apa yang dilakukan PT.Tigate,”katanya menjawab pertanyaan Wartawan.

Dikatakannya, kebijakan pembangunan pertanian yang terintegrasi dan berkelanjutan harus menjadi perhatian serius kedepannya.

“Pasalnya, kalau tanpa model pembangunan pertanian ini, maka Kita lihat di kebun-kebun petani Kita, yang kurang perhatikan sistem pertanian organik/berkelanjutan, hasil kebunnya setiap tahun menurun.

Kalau meningkat, itupun mengandalkan peningkatan penggunaan sarana produksi seperti dosis pupuk tahun ini, dari pupuk sintesis, misalnya pakai 10 liter, tahun depan meningkat 1 liter lagi.

Demikian juga ada hama yang resistensi terhadap pestisida. Jika seperti ini, maka harus tingkatkan dosis supaya bisa basmi hama dan penyakit.

Nah, sistem yang dikembangkan PT.Tigate menjaga keseimbangan ekosistem dengan baik, karena menggunakan pestisida organik.

Kemudian, ada lahan pertanian khusus untuk kendalikan hama dan penyakit.

Tidak perlu secara massif membunuh mereka, tapi tidak membiarkan mereka berkembang. Ini hal yang luar biasa di PT.Tigate,”bebernya secara terbuka.

Lebih jauh, Stefanus Sumandi menjelaskan, dari kunjungan ke PT.Tigate, ada hal positif lain yang ditemukan, yakni: pengembangan pestisida organik di PT.Tigate Trees Indonesia, ternyata bisa memangkas biaya produksi 30-35 persen.

“Jika ini dikembangkan pada lahan-lahan pertanian Kita secara terintegrasi dan berkelanjutan, maka suatu waktu, biaya produksi bisa ditekan sampai dengan 20 persen sisanya.

Karena itu, perlu ada kebijakan pemerintah Sikka tentang pertanian yang ramah alam dan berkelanjutan.

“Jika ini bisa maksimal diterapkan, suatu saat petani Kita akan maju.

Selain itu, secara sosial, soliditas masyarakat untuk kerja gotong-royong bisa timbul kembali.

Sebab, selama ini banyak peralatan dan sarana produksi yang dibantu pemerintah, justru menimbulkan individualistik petani, dimana petani biasa kerja sendiri karena bahan kimia ada.

Berbeda dengan apa terjadi di PT.Tigate, dimana kohesi sosial terbentuk kuat antara komunitas dan individu,”ujarnya.

Hal ini, menurut Stefanus Sumandi, mengingatkan Kita tentang kebudayaan bertani secara organik awalnya tumbuh kuat di kalangan petani, tapi kemudian alami pergeseran sejak revolusi hijau 1960-1970 an yang berkembang di Amerika Latin, kemudian ke India dan Indonesia, turut berpengaruh terhadap penggunaan bahan kimia.

“Memang, awalnya kebijakan revolusi hijau untuk peningkatan produktivitas pertanian, tapi lama kelamaan terjadi penurunan/degradasi unsur hara tanah, berkembang biaknya hama dan penyakit, serta produktivitas pertanian ikut terpengaruh, seiring dengan meningkatnya penggunaan pupuk dan pestisida yang tinggi, hingga ikut menekan ekonomi masyarakat,”tohoknya, mengingatkan.

Olehnya, Bagi Stef Sumandi, Politisi Muda Sikka yang lagi ‘naik daun’ ini, jika kembali ke sistem pertanian selaras alam, merupakan hal yang sangat baik.

Ia lebih jauh berharap, ada tindak lanjut program prioritas dari kunjungan ini dengan Pemda Sikka.

“Tentunya, Kita berharap ini bisa diterima untuk dikembangkan Pemda Sikka.

Selain itu, Saya juga akan ajak semua pihak, termasuk di desa-desa lewat BUMDes berkesempatan mari saling berbagi ilmu antar satu komunitas dengan yang lainnya, untuk belajar mengembangkan pola pertanian terintegrasi dan tersistematis dengan baik seperti di PT.Tigate.

Saya kira, Mereka bisa datang belajar di PT.Tigate, selain di tempat-tempat lainnya,”tutupnya.

Lahan Mente PT.Tigate Trees Indonesia Seluas 800 Hektar

Lahan perkebunan Mente di Desa Waibao yang kini dikelolah PT.Tigate Trees Indonesia memiliki luas total mencapai 800 hektar.

Dari 800 hektar, sudah 750 hektar yang dikelolah ditanami pohon Jambu Mente.

Selain di Desa Waibao Kecamatan Tanjung Bunga Flores Timur, PT.Tigate Trees Indonesia juga punya kebun Mente seluas 1,2 hektar di Bali, dan Lembata seluas 2000 hektar.

“Rencana Kami, sisa lahan seluas 50 hektar itu akan ditanami dengan tanaman selah seperti Jagung, Sorgum dan Pepaya.

Kami mau kerjasama dengan Polres Flotim terkait ketahanan pangan reguler masyarakat,”katanya.

David Novianto juga menjelaskan, dari total lahan Mente seluas 750 hektar, kini telah hasilkan produk turunan Mente glondongan yang dijual ke pembeli Arab Saudi.

“Memang dari Vietnam dan India juga minta, tapi stoknya belum cukup.

Sedangkan, produk turunan Mente lainnya seperti Wain (Arak Mente), Gula Cair Mente, Minyak Sere Merah, Hydrosol (Air Sulingan Sere Merah), Sabun mandi herbal Sere Merah, baru mulai dan sedang dalam proses urus ijin produknya.

Untuk Sere Merah baru ditanami seluas 5 hektar dari total lahan 800 hektar.

Sementara terkait rencana Pemda Flotim melalui Dinas Perkebunan untuk mendorong program budidaya Sere Merah sebagai tanaman pestisida organik bagi hama kutu putih Mente, David Novianto sangat mendukung.

“Kami siap bekerja sama dengan semua pihak, termasuk Sere Merah dengan Dinas Perkebunan Flotim.

Prinsipmya, PT.Tigate Trees Indonesia secara profesional dan prinsip, siap bekerjasama dengan semua pihak untuk kemajuan pembangunan perkebunan dan kesejahteraan masyarakat,”pungkasnya.

Kunjungan kali ini berakhir pukul 16.00 WITA, ditutup dengan foto bersama, sebelum berpamitan kembali ke Kabupaten Sikka, dengan satu harapan bersama ada tindak lanjut kerjasama yang nyata di bidang perkebunan, pertanian terintegrasi dan selaras alam. (OLA)

error: Konten dilindungi!