Oleh: Adrianus Darmawan Purnama
Pancasila sebagai dasar falsafah serta ideologi bangsa dan Negara Indonesia, bukan terbentuk secara mendadak dan bukan hanya diciptakan oleh seorang sebagai mana yang terjadi pada ideologi lain di dunia. Namun terbentuknya pancasila melalui proses yang cukup panjang dalam sejarah bangsa Indonesia.
Sejarah mencatat bahwa Pancasila dirumuskan oleh tiga tokoh nasional Indonesia, yakni: Mohammad Yamin, Soepomo dan Soekarno.
Pemikiran ketiga tokoh ini tidak langsung jadi tetapi melalui proses yang cukup panjang, rumit dan pelik. Namun proses panjang ini dapat dihadapi dan dilalui oleh ketiga tokoh nasional kita. Alhasil, buah pemikiran dari ketiga tokoh ini dicetuskan oleh presiden pertama Indonesia pada sidang BPUPKI 1 Juni 1945.
Saat pidato pada 1 Juni itu Bung karno menyatakan dengan tegas bahwa Pancasila sebagai Dasar Negara. “Sila artinya asas atau dasar, dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan Negara Indonesia kekal dan abadi” (pidato Soekarno, 1 Juni 1945). Sejak saat itulah 1 Juni dikenal dengan hari lahirnya pancasila.
Hari ini rakyat Indonesia memperingati hari lahirnya Pancasila, kita tentu bersyukur atas rahmat yang istimewa yang kita dapatkan ini. Namun perlu kita ketahui bersama bahwa Pancasila sebagai ideologi akan sungguh terwujud apabila pancasila dijadikan sebagai falsafah hidup oleh masyarakat Indonesia.
Secara sederhana Pancasila dapat diartikan sebagai tekad bangsa Indonesia untuk saling menerima antara satu dengan yang lain dan siap untuk berjalan besama sehati sejiwa dalam membangun negara.
Memang ini bukan pekerjaan yang mudah, sebab hakekatnya negara Indonesia terbentuk dari berbagai macam keberagaman; mulai dari keberagaman suku, budaya, adat istiadat, agama, etnik, ras dan sebagainya.
Tidak bisa dipungkiri bahwa dari berbagai macam latar belakang ini memiliki perspektif atau sudut pandang tersendiri dalam menjalani hidup.
Ibaratnya Indonesia ini bagaikan sebuah keluarga yang didalamnya terbentuk dari individu-individu. Kumpulan individu yang tinggal dalam satu komunitas kecil menjadikan keluarga itu terlihat indah dan bersahaja.
Secara umum dalam satu keluarga terdiri dari beberapa pribadi, yakni suami, istri dan anak. Setiap pribadi ini memiliki sifat dan karakter yang berbeda-beda.
Namun justru dari perbedaan itulah yang menjadi kekhasan dalam suatu keluarga. Demikian juga dalam hidup bermasyarakat dan bernegara (Indonesia) yang mana di dalamnya terbentuk dari berbagai macam karakter sesuai dengan latar belakangnya.
Oleh karena itu, karakter yang berbeda-beda ini tidak perlu dibenturkan atau diperbandingkan antara satu dengan yang lain melainkan tetap menjaga eksistensi dan keunikannya sehingga pada akhirnya negara akan terlihat rukun, damai dan sejahtera.
Agar kerukunan ini tetap terjaga setiap individu, kelompok dan/atau golongan perlu mengembangkan sikap keterbukaan untuk menghargai perbedaan.
Sikap seperti ini akan menumbuhkan sikap toleran kepada orang yang ada di sekitar. Sedemikian terbuka pada orang lain sehingga bukan hal yang mustahil Indonesia akan bertumbuh dan berkembang secara bersama-sama menuju negara yang lebih maju.
Dengan menerapkan sikap toleran, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila bukan hanya sebatas konsep belaka tetapi suatu nilai yang dapat diejawantahkan.
Wujud nyata dari Pancasila inipun dapat dilakukan dalam tindakan yang sederhana yaitu dengan menjunjung tinggi rasa persaudaraan melalui tindakan nyata.
Menghormati dan menghargai orang-orang yang ada di sekitar adalah wujud nyata dari nilai yang tertuang dalam Pancasila.
Seperti yang diungkapkan oleh Bapak Presiden RI Joko Widodo saat memberikan Presidential Lecture pada Dies Natalis ke-67 Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung.
Pada kesempatan itu, Jokowi mengungkapkan bahwa implementasi dari nilai pancasila adalah gotong royong. Maka semestinya kita harus bekerja sama, saling menolong dan bahu-membahu untuk bisa mencapai tujuan bersama-sama.
Dengan menjunjung tinggi sifat dan sikap gotong royong kita akan bisa hidup secara harmonis dalam rumah kita besama, yakni Indonesia.
Melalui gotong royong visi dari Pancasila, yakni terwujudnya kehidupan yang menjunjung tinggi ketuhanan, nilai kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan akan tercapai.












