Min Jemada senyum sumringah di dekat tanaman fanili miliknya di Lingko Wodong. ( Foto dok.pribadi )
RUTENG, RANAKANEWS.com – Aktivitas berkebun yang dilakukan Hasnadaya Manseitus, akrab disapa Min Jemada, di Lingko Wodong, Kelurahan Karot, menjadi potret nyata bagaimana tradisi pertanian Manggarai yang tetap hidup di tengah arus modernisasi. Lebih dari sekadar rutinitas, kegiatan ini sejalan dengan arah kebijakan pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan dan melestarikan lingkungan.
Min Jemada, warga Jln. Glodial, Kelurahan Pau yang berasal dari Karot Ruteng, dikenal sebagai sosok yang tekun merawat kebun di Lingko Wodong. Ia menanam vanili, padi, jagung, ubi, sayuran, hingga memelihara ikan.
“Setiap hari saya turun ke kebun. Kalau tidak dirawat, tanaman bisa rusak. Kebun ini harus dijaga dengan hati,” ungkapnya.
Lingko Wodong, yang terletak dekat Jalan Negara Ruteng–Reo, merupakan sistem kebun komunal khas Manggarai. Pola tanam serentak sesuai musim yang diterapkan di lingko sejalan dengan kebijakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Dalam Peraturan Menteri LHK Nomor P.81/MENLHK/SETJEN/KUM.1/10/2016, ditegaskan:
“Dengan meningkatnya kebutuhan nasional akan pangan seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, diperlukan ketersediaan pangan yang cukup untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional. Diperlukan kebijakan untuk mengatasi sebagian kebutuhan pangan yang masih dipenuhi dari impor melalui penyediaan lahan.”
Kebijakan ini menunjukkan bahwa aktivitas masyarakat seperti berkebun di tanah milik bukan hanya tradisi, tetapi juga bagian dari strategi nasional memperkuat ketahanan pangan melalui pemanfaatan lahan secara berkelanjutan.
Kementerian Pertanian melalui Rencana Strategis Hortikultura 2020–2024 menekankan pentingnya pembangunan hortikultura sebagai bagian dari daya saing pertanian nasional.
“Pembangunan hortikultura nasional merupakan bagian dari upaya integrasi untuk membangun daya saing dan meningkatkan peran pertanian nasional dalam percaturan perekonomian. Pembangunan hortikultura meliputi produksi, rantai pasok, dan kelembagaan tani sebagai kesatuan utuh dan berkelanjutan.”
Selain itu, program Diversifikasi Pangan menegaskan:
“Diversifikasi pangan adalah upaya untuk meningkatkan variasi jenis makanan yang dikonsumsi, sehingga tidak hanya bergantung pada satu jenis pangan pokok, seperti beras. Ini penting untuk meningkatkan ketahanan pangan, gizi, dan kesejahteraan masyarakat.”
Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) NTT 2025 memperkuat urgensi ini:
– Pertumbuhan ekonomi NTT 2024 tercatat 3,73%, namun sektor pertanian hanya tumbuh 1,75%, jauh di bawah rata-rata PDRB.
– Subsektor tanaman pangan mengalami kontraksi pada 2023 sebesar -3,53%, menunjukkan tantangan serius dalam produksi pangan pokok.
– Sebaliknya, subsektor perkebunan mencatat pertumbuhan positif hingga 10,82% pada 2023, menandakan potensi besar hortikultura dan tanaman perdagangan.
Ketahanan pangan NTT masih bergantung pada tiga aspek utama: ketersediaan, keterjangkauan, dan pemanfaatan pangan.
Aktivitas Min Jemada yang menanam padi, jagung, ubi, sayuran, vanili, dan memelihara ikan menjadi contoh nyata implementasi kebijakan diversifikasi pangan sekaligus jawaban atas tantangan subsektor tanaman pangan dan perdagangan di NTT.
Min Jemada berharap anak-anak Manggarai tetap mengenal kebun sebagai identitas budaya sekaligus ruang belajar.
“Kalau mereka hanya kenal supermarket, nanti lupa bahwa pangan itu lahir dari tanah. Kebun harus tetap hidup agar mereka tahu asal-usulnya,” tegasnya.
Aktivitas Min Jemada di Lingko Wodong bukan hanya menjaga tradisi, tetapi juga mendukung arah kebijakan pemerintah dalam ketahanan pangan, diversifikasi pertanian, dan pelestarian lingkungan.
Dengan data BPS yang menunjukkan tantangan serius subsektor tanaman pangan di NTT, kebun Min Jemada menjadi bukti bahwa solusi ada di akar rumput: ketekunan, diversifikasi, dan cinta tanah leluhur adalah kemestian. ( WG )
