Oleh: Nikodemus Nono
Nusa Tenggara timur atau yang biasa dikenal dengan sebutan NTT merupakan salah satu provinsi yang berada di Indonesia bagian timur. Provinsi ini merupakan salah satu wilayah yang sangat menjunjung tinggi toleransi atau hidup beragama, dan masyarakatnya sangat menghormati dan menomorsatukan agama, sehingga tidak ada konflik antaragama seperti yang terjadi di daerah-daerah lainnya. Masyarakat NTT justru saling bahu membahu dalam menyuksukseskan acara atau pesta agama lain seperti natal-paskah, hari raya nyepi, idul fitri, dan hari-hari besar lainnya.
Media sosial atau platform digital yang memanfaatkan teknologi internet sebagai tempat penyaluran berita-berita seperti kejadian menarik untuk diketahui atau hal lain yang dianggap viral. Gereja juga mulai berperan aktif melalui media sosial pada awal tahun 2020, dimana dunia dikuasai dengan adanya virus corona yang mampu membuat manusia berhenti beraktivitas. Virus inilah yang membuka jalan bagi media sosial untuk digunakan dalam melakukan apa saja. Adanya banyak larangan yang terkait dengan covid-19 atau pandemi ini, maka gereja mengambil langkah terbaik yaitu tetap mengadakan perayaan ekaristi setiap hari minggu secara virtual agar umatnya tetap mendapatkan pelayanan secara online.
Pada awal adanya perayaan ekaristi secara online atau misa online, banyak orang sangat antusias untuk mengikuti perayaan ekaristi karena dapat diikuti dimana saja. Akan tetapi semakin lama kebiasaan misa online ini semakin hilang nilai kerohaniannya karena ulah manusia itu sendiri. Banyak orang mengatakan bahwa misa online serasa kurang berahmat karena orang hanya dapat mengikutinya melalui jarak jauh dan sangat membosankan.
Ternyata semua permasalahan ini muncul dari satu kebisaan atau satu hal yang paling sakral dalam perayaan ekaristi yang menjadi pusat dari seluruh perayaan ekaristi itu. Hal yang dimaksudkan adalah komuni tubuh dan darah kristus yang tidak bisa dirasakan dalam perayaan ekaristi seperti masa sebelum covid-19 atau pandemi. Banyak orang merasa perayaan ekaristi itu tidak sakral jika tidak ada komuni kudus dalam perayaan itu.
Orang katolik (khususnya daerah NTT) sangat memahami dan menghargai agama lebih dari segalanya. Sehingga dalam perayaan ekaristi jika tidak ada penerimaan sakramen maha kudus atau komuni rasanya ada yang sangat kurang. Semuanya itu di pengaruhi oleh nilai kesakralan dalam ajaran katolik, karena pusat dari perayaan ekaristi terletak pada inkarnasi dimana hostia dan anggur berubah rupa menjadi tubuh dan darah kristus yang dikonsekrasikan oleh imam yang adalah Impersona Christi (kristus itu sendiri).
Banyak orang menolak adanya perayaan ekaristi secara online karena akan merusak generasi mudan dan yang akan datang. Hal ini dapat membuat orang untuk malas dalam berdoa maupun dalam membaca kitab suci karena mengaggap media sosial sebagai sarana yang dapat mempermudah segalanya dan orang mulai menghindar dari Tuhan. Oleh karena itu harus dihilangkan adanya perayaan ekaristi secara online agar tidak menghilangkan nilai-nilai kristiani yang tercantum di dalamnya.
Generasi muda saat ini harus dibina dan di damping untuk terus menghayati nilai-nilai kristiani yang ada dalam gereja agar tidak hilang di masa depan akibat efek dari media sosial yang mampu membuat segala sesuatu menjadi instan. Sebagai daerah dengan mayoritas umat katolik terbanyak di Indonesia, masyarakat NTT harus mengambil jalan terbaik dengan mendidik generasi muda untuk menjaga Marwah daerah NTT seperti toleransi dan gotong royong dalam mensukseskan acara agama lain.
Agama merupakan salah satu kepercayaan setiap orang berdasarkan imannya akan Tuhan yang mereka sembah. Namun jika kepercayaan itu tidak dijalankan dengan benar maka sia-sialah orang itu beriman. Hal ini dimaksudkan agar setiap orang mampu menjaga nilai-nilai imannya dengan benar. Seperti di daerah NTT, semua orang menolak adanya perayaan ekaristi secara online karena nilai kesakralan yang ada akan hilang.
Penulis: Mahasiswa Fakultas Filsafat, Universitas Widya Mandira Kupang.
