Oleh: Yohanes Roman
Di era sekarang ini, internet menjadi salah satu kebutuhan penting bagi kehidupan masyarakat. Internet bukan sekadar sarana komunikasi saja, tetapi juga sebagai pintu bagi masyarakat luas untuk masuk menuju pendidikan, layanan publik, informasi terkini dan juga peluang ekonomi. Ini merupakan kemajuan yang perlu untuk terus dikembangkan karena cukup dari rumah atau dimanapun kita berada, semua informasi terkini dapat diketahui dengan mengakses internet. Kemajuan ini perlu terus dikembangkan karena hanya dengan mengakses internet, masyarakat dapat memperbaharui informasi kapan saja dan di mana saja.
Banyak daerah pelosok belum menikmati penggunaan internet seperti di daerah yang menjadi pusat aktivitas publik seperti pusat kabupaten. Kesenjangan ini menjadi suatu masalah serius yang perlu untuk dicari solusinya, karena internet harus bisa dirasakan oleh seluruh masyarakat di zaman sekarang yang ditandai dengan kemajuan teknologi ini.
Melalui sudut pandang “Teologi Minjung”, masyarakat yang menghadapi kesulitan dalam mendapatkan akses internet bisa dilihat sebagai minjung modern, yaitu kelompok yang terputus dari struktur sosial yang tidak memberi mereka kesempatan yang setara. Jika sebelumnya penindasan sering kali terjadi dalam bentuk politik atau ekonomi, saat ini ketidakadilan juga bisa muncul sebagai kesenjangan digital. Mereka yang tidak mendapatkan akses internet yang memadai berisiko mengalami kemunduran dalam pendidikan, pekerjaan, dan keterlibatan sosial.
Teologi Minjung mengajarkan bahwa Allah hadir di tengah mereka yang tersisih dan menderita. Oleh karena itu, kesenjangan digital bukan sekadar persoalan teknis pembangunan infrastruktur, tetapi juga persoalan moral dan kemanusiaan. Keterbatasan akses teknologi dapat mengurangi kesempatan seseorang untuk berkembang dan memperjuangkan masa depannya. Dalam konteks ini, upaya menghadirkan internet yang merata merupakan bagian dari perjuangan menegakkan martabat manusia dan keadilan sosial.
Inti dari Teologi Minjung adalah kebebasan, keadilan dan pengakuan atas martabat kemanusiaan dari rakyat kecil yang terpinggirkan. Teologi minjung menempatkan rakyat kecil sebagai subjek sejarah, bukan sekadar objek belas kasihan. Rakyat kecil memiliki kemampuan dan peran penting dalam memperjuangkan perubahan sosial yang lebih adil. Terlepas dari perubahan zaman yang didominasi oleh perkembangan teknologi, kita perlu untuk membangun kesadaran kita agar peduli terhadap keadaan sekitar kita.
Zaman modern ini mulai didominasi oleh sikap individualis yang tinggi, sehingga dengan perlahan rasa solidaritas mulai pudar. Keadaan ini tidak boleh menguasai kita, karena kita manusia adalah makhluk sosial yang pada dasarnya membutuhkan satu sama lain untuk terus hidup.
Sebagai contoh, masyarakat di daerah pelosok mengalami keterbatasan informasi dan tertinggal dari isu-isu terkini yang sedang berkembang di publik. Contoh lainnya dalam dunia pendidikan terdapat perbedaan antara sekolah yang berada di kota dan sekolah yang berada di pedesaan. Sekolah-sekolah di perkotaan mulai memberlakukan sistem ujian secara online, sedangkan sekolah-sekolah yang berada di pedesaan masih menggunakan sistem ujian secara offline.
Dari contoh-contoh ini sangat jelas bahwa internet belum dirasakan oleh semua orang. Akibatnya mereka yang tingal di daerah pelosok belum mahir bahkan belum menguasai dengan baik teknologi yang tengah berkembang pesat di era sekarang ini.
Perkembangan teknologi tidak boleh menciptakan jurang pemisah antara yang mampu dan kurang mampu. Manusia memiliki martabat yang setara, karena itu terdapat beberapa langkah konkret yang terinspirasi dari Teologi Minjung dalam menghadapi kesenjangan digital yang terjadi saat ini.
Pertama, pemerataan infrastruktur digital seperti memperluas jaringan internet, listrik dan sarana telekomunikasi ke daerah-daerah terpencil. Kedua, peningkatan literasi digital bagi semua kalangan. Ketiga, pemberdayaan masyarakat sebagai subjek pembangunan dengan melibatkan masyarakat lokal dalam perencanaan dan pelaksanaan program digitalisasi. Keempat, mewujudkan keadilan digital. Beberapa Langkah ini dapat membantu mewujudkan pemerataan akses digital yang adil.
Kemajuan teknologi tidak boleh menjadi sebuah jurang pemisahan bagi manusia. Dengan mengambil semangat untuk memperjuangkan kesetaraan dalam Teologi Minjung, kita harus berani untuk bersuara dan memperjuangkan kesetaraan martabat manusia agar jurang pemisah tersebut hilang dan tercipta masyarakat yang adil dan sejahtera. Kemajuan teknologi harus menjadi salah satu sarana untuk menyamakan kesetaraan martabat manusia.
Kita harus memastikan bahwa semua orang memiliki hak untuk merasakan perkembangan zaman yang terus berkembang untuk memudahkan aktivitas manusia untuk menjadi lebih baik.
Penulis: Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang.
