Interoperabilitas Layanan Sistem Pembayaran dan QRIS Tahun 2021

KUPANG, RANAKANEWS.com- Dalam rangka edukasi dan literasi masyarakat khususnya mahasiswa NTT, terkait layanan sistem pembayaran dan juga QRIS, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bersama dengan Departemen Penyelenggara Sistem Pembayaran (DPSP) menyelenggarakan sosialisasi  Interoperabilitas Layanan Sistem Pembayaran dan QRIS Tahun 2021 secara virtual, Selasa (12/10/202).

“Saat ini dunia sudah bergerak kearah digitalisasi. Revolusi digital dalam satu dekade terakhir mengubah secara drastis perilaku transaksi agen ekonomi. Bahkan dengan adanya platform digital berdimensi global, tidak ada lagi batasan- batasan yuridiksi (borderless). Kita bisa berbelanja produk-produk negara lain dengan mudah, bahkan bisa juga berwisata ke Eifel- Paris, Pyramid-Mesir secara virtual.

Begitupula sebaliknya, orang luar negeri dapat berbelanja produk- produk kita dan dapat pula melihat keindahan wisata Indonesia melalui aplikasi digital. Digitalisasi semakin cepat dan tumbuh secara eksponensial didorong oleh pandemic Covid-19 yang menyebabkan pembatasan mobilitas manusia,” jelas Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, I Nyoman Ariawan Atmaja dalam keterangan tertulisnya yang diterima media ini, Selasa (12/10/2021).

Meskipun demikian, pesatnya perubahan perilaku masyarakat dan dunia usaha ke arah digital, menuntut otoritas kebijakkan untuk ber-inovasi merespon berbagai perubahan yang terjadi. Jika dianalogikan bahwa teknologi digital menyebabkan mobil dapat melaju dengan super cepat, maka diperlukan perubahan pada kualitas jaringan jalan raya, rambu-rambu lalu lintas, mengurangi simpul- simpul kemacetan, mengurangi risiko bahaya dan sebagainya,” sambungnya.

Nyoman menjelaskan salah satu digitalisasi adalah Efisiensi. Inovasi digfital mengubah interaksi sosial kearah demokratisasi ekonomi, meningkatkan efisiensi karena tambahan kemampuan agen ekonomi dalam mengakses dan memanfaatkan informasi. Interkonektivitas agen ekonomi memotong rantai distribusi barang  dan jasa, mendorong sebaran informasi secara lebih merata, dan secara keseluruhan mengefisienkan aktivitas ekonomi.

Oleh sebab itu, menurut Nyoman, Bank Indonesia yang salah satu tugasnya merupakan otoritas sistem pembayaran, juga harus memastikan bahwa aktivitas perekonomian digital dapat difasilitasi dengan metode pembayaran digital yang cepat, aman, mudah, murah dan handal. Selain itu sistem pembayaran juga dipastikan dapat saling terhubung (interconnected) dan saling dapat dioperasikan (interoperable).

“Bank Indonesia terus mendorong  akselerasi digitalisasi ekonomi dan keuangan nasional sebagai bentuk konkret dalam menjalankan mandat menjaga kelancaran sistem pembayaran di Indonesia, BI telah mengeluarkan Blue Print Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2025. Beberapa inisiatif implementasi dari BSPI 2025 yakni pengembangan infrastruktur sistem pembayaran ritel seketika (real time) dan tersedia sepanjang waktu 24/7), Bank Indonesia Fast, penyusunan Standar Open Application Programming Interfaces (open API) Pembayaran bagi para pelaku industri, GPN dan QRIS,” ungkap Nyoman.

Bagaimana perkembangan digitalisasi ekonomi di NTT?

NTT juga turut mengejar ketinggalan dari daerah lain yang lebih maju dan digital di Indonesia. Secara transaksi, pada triwulan II 2021 jumlah transaksi  e- Commerce di NTT mencapai Rp214,74  juta, atau mengalami peningkatan 87,45 % (yoy), lebih tinggi bila dibandingkan transaksi periode yang sama tahun sebelumnya. Transaksi  Uang Elektronik  atau dompet elektronik pada periode Januari sampai  dengan Agustus 2021 mencapai Rp192,61 juta, meningkat 614,14 % (yoy).

Ia menyebut, untuk transaksi pembayaran menggunakan QR Code atau QRIS dari Januari hingga Juli 2021 tercatat telah mencapai RP18,74 miliar. Rata-rata transaksi yang relatif meningkat, menggambarkan Provinsi NTT telah mulai bergerak menuju digitalisasi dan pertumbuhan transaksinya cukup signifikan.

“Dengan adanya digitalisasi sistem pembayaran di NTT tersebut, kami harapkan pertumbuhan ekonomi di NTT pada triwulan II 2021 tumbuh sebesar 4, 22 % (yoy), dan kami perkirakan di triwulan III 2021 ini masih terus meningkat dan dapat tumbuh sebesar 3.49% (yoy),” ungkap Nyoman.

Menurut Nyoman, tantangan dalam mengakselerasi digitalisasi ekonomi dan keuangan tentunya sangat banyak. Salah satunya adalah literasi digital SDM Indonesia yang masih relatif rendah khususnya di NTT. Oleh karena itu, BI secara intensif melakukan sosialisasi dan edukasi seperti yang dilaksanakan pada hari ini.

“Kami percaya, Akademisi dan Mahasiswa/Mahasiswi di NTT dapat menjadi agen perubahan dan berperan aktif dalam mendorong  transformasi digital di Indonesia khususnya di NTT. Cara mudah dalam berpartisipasi adalah dengan menggunakan layanan Sistem Pembayaran secara non tunai dalam bertransaksi. Ayo dukung transformasi digital Indonesia,” pintanya.

Dalam pantunnya, “Makan jagung bose pakai sambal manta, minumnya ditambah tuak manis. Apapun jenis pembayarannya  tinggal scan aja pakai QRIS,” tutupnya.

Hadir sebagai narasumber dari Departemen Penyelenggaraan  Sistem Pembayaran, yaitu Bapak Novi Cahyono, dan dari Bank Perwakilan BI Provinsi NTT, Bapak Daniel Agus Prasetyo.

Juga dihadiri Rektor Universitas Tribuana- Kalabahi, Bapak Avonso F. Gorang, S.Sos,MM, Wakil Rektor Bidang kerjasama, Universitas Flores, Dr. Ernesta Leha, Wakil Rektor 2 bidang Kelembagaan dan Sumber Daya, Universitas St. Paulus Ruteng, Dr. Marselus Ruben Payong, M.Pd, Wakil Rektor 3, Bidang Kemahasiswaan, Universitas Widya Mandira, Dr. Rodriques Servaius, M.Si, Kepala Bagian Kemahasiswaan, Universitas Wira Wacana,Yonathan Tulundima, Kepala Biro Mahasiswa dan Kerjasama, Universitas Nusa Nipa, Maximinus Adrianus Sarto,serta Akademis dari Universitas/ Perguruan Tinggi  di NTT. (MD)

error: Konten dilindungi!
Exit mobile version