Pemeran Yesus disalibkan (foto: Willy G.)
RUTENG, RANAKANEWS.com – Pagi itu, Jumat (3/4/2026), Kota Ruteng seperti menahan napas.
Langit menggantung tenang di atas pegunungan. Udara dingin menyelimuti jalanan yang tak biasa—lengang, hampir tanpa suara. Tidak ada hiruk pikuk kendaraan, tidak ada derap aktivitas pasar. Toko-toko tertutup rapat. Kota kecil itu seakan sepakat untuk berhenti sejenak.
Namun di balik keheningan itu, ada arus manusia yang bergerak perlahan.
Dari gang-gang kecil,dan sudut kota itu, ribuan umat Katolik berjalan kaki menuju satu titik di Natas Labar Motang Rua Ruteng. Tanpa aba-aba, tanpa keramaian, mereka melangkah dalam diam. Seolah ada panggilan batin yang sama: masuk ke dalam misteri Jumat Agung.
Hari itu bukan hari biasa. Itu adalah hari ketika Gereja mengenang penderitaan dan wafat Yesus Kristus. Dan di Ruteng, peringatan itu tidak hanya dirayakan—tetapi dihidupi.
Ratapan yang Menyentuh Langit
Di tengah udara sejuk, ibadat Lamentasi dimulai.
Nada pertama terdengar lirih dari paduan suara Rejois. Lalu perlahan membesar, menyatu dalam ratapan yang dalam dan menggema. Bukan sekadar nyanyian liturgi—ia terasa seperti jeritan jiwa yang ditinggikan ke langit.
Umat berdiri dalam diam.
Sebagian menundukkan kepala, seolah menatap ke dalam diri sendiri. Sebagian lagi memejamkan mata, membiarkan setiap kata meresap. Tak sedikit yang menggenggam tangan erat, seperti menahan sesuatu yang tak terucapkan.
Di momen itu, ruang ibadat berubah menjadi ruang batin.
Pengantar ibadat mengingatkan bahwa lamentasi bukan hanya tentang duka masa lalu. Ia adalah pengakuan bahwa dosa manusia hari ini pun ikut menyalibkan Kristus.
Kata-kata itu tidak menggema keras, tetapi terasa berat. Menggantung di udara. Masuk perlahan ke hati.
Lalu doa itu berulang, sederhana namun menghunjam:
“Kasihanilah kami, ya Tuhan.”
Diulang. Dan diulang lagi.
Seperti napas. Seperti pengakuan paling jujur dari manusia yang rapuh. Sekaligus harapan yang tak pernah padam akan belas kasih.
Di antara kerumunan, wajah-wajah hadir dalam diam: anak-anak yang ikut berdiri tenang, orang muda yang larut dalam refleksi, hingga para lansia yang setia mengikuti setiap bagian ibadat.
Tidak ada yang tergesa-gesa.
Waktu seperti melambat.
Cermin bagi Manusia Hari Ini
Dalam salah satu bagian refleksi, kisah bangsa Israel kembali diangkat—tentang umat yang jatuh karena meninggalkan Sabda Tuhan.
Namun kisah itu tidak berhenti sebagai cerita masa lalu. Ia menjadi cermin.
Bahwa manusia, kapan pun dan di mana pun, mudah tersesat. Mudah menjauh. Mudah lupa.
Namun sekaligus, selalu diberi kesempatan untuk kembali.
Dan di situlah lamentasi menemukan maknanya: bukan sekadar meratapi, tetapi membuka jalan pulang.
Dari Hening ke Visual yang Menggetarkan
Usai ratapan, keheningan tidak benar-benar pergi.
Ia justru berubah bentuk.
Umat diarahkan perlahan menuju lokasi Jalan Salib Hidup tablo. Tidak ada teriakan, tidak ada riuh. Bahkan panitia mengingatkan dengan tegas: matikan telepon genggam, jaga sikap, hormati ruang hening.
Semua diarahkan pada satu tujuan: menjaga kesakralan.
Lalu, kisah itu mulai “hidup”.
Adegan demi adegan dibuka. Dari pengadilan yang penuh ketegangan, langkah berat menuju Golgota, hingga puncak penderitaan di kayu salib.
Para pemeran tampil sederhana, tetapi penuh penghayatan. Tidak berlebihan, tidak dibuat-buat—justru itu yang membuatnya terasa nyata.
Wajah-wajah mereka berbicara.
Ada ketakutan. Ada luka. Ada kepasrahan.
Ketika sosok Yesus memikul salib, langkahnya berat. Perlahan. Tersendat. Setiap jatuh terasa nyata, bukan sekadar adegan.
Dan di antara penonton, keheningan berubah menjadi emosi.
Seorang ibu menutup wajahnya. Seorang anak muda menatap tanpa berkedip. Seorang bapak menunduk dalam-dalam.
Beberapa menahan tangis. Beberapa tidak mampu lagi.
Ketika adegan penyaliban berlangsung, banyak yang memilih menunduk. Seolah penderitaan itu terlalu nyata untuk ditatap lama.
Di titik itu, batas antara “pertunjukan” dan “pengalaman iman” menghilang.
Tablo bukan lagi tontonan.
Ia menjadi perjumpaan.
Sebuah Kota yang Memilih Diam
Apa yang terjadi di Ruteng hari itu lebih dari sekadar rangkaian ibadat.
Itu adalah pengalaman kolektif.
Sebuah kota memilih diam. Ribuan orang meninggalkan rutinitas. Tidak untuk berlibur, tidak untuk hiburan, tetapi untuk merenung.
Dalam dunia yang penuh kebisingan, pilihan untuk hening menjadi sesuatu yang langka—dan justru karena itu, terasa kuat.
Langkah kaki yang sederhana menjadi simbol.
Bahwa mengikuti Kristus bukan tentang kemegahan, tetapi tentang kesetiaan. Tentang berjalan, bahkan ketika jalan itu berat.
Kata sang gembala
Di tengah suasana yang masih diliputi keheningan, Uskup Ruteng Mgr.Sipri Hormat, menyampaikan refleksinya.
Suaranya tidak meninggi, tetapi sarat emosi.
Ia mengaku terharu melihat umat yang datang dan berjalan bersama.
“Ada sesuatu yang sungguh indah ketika umat Allah memilih berhenti sejenak dari kesibukan hidup, lalu bersama-sama melangkah dalam diam mengikuti jalan Tuhan,” ungkapnya.
Ia menegaskan, apa yang terjadi hari itu bukan sekadar kegiatan tahunan.
“Ini bukan hanya acara. Ini adalah ziarah batin bersama.”
Bukan dengan kendaraan, tetapi dengan langkah kaki.
Bukan dengan keramaian, tetapi dengan keheningan.
Bukan dari kejauhan, tetapi dari kedekatan hati.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada semua pihak—panitia, petugas lamentasi, hingga para pemeran tablo dari Paroki Cewonikit—yang telah menghadirkan pengalaman iman yang hidup dan menyentuh.
Namun pesan terpentingnya justru mengarah ke depan.
Bahwa pengalaman ini tidak berhenti di lokasi perayaan.
Ziarah Sesungguhnya Dimulai Saat Pulang
“Semoga kita tidak pulang dengan tangan kosong,” pesannya.
Keheningan yang dialami hari itu diharapkan tidak hanya menjadi suasana sesaat, tetapi menjadi jalan untuk membuka hati.
Agar lebih peka mendengar Tuhan. Lebih peka melihat sesama.Karena, sebagaimana diingatkannya, jalan salib tidak berhenti di Golgota. Ia masih berlangsung—dalam kehidupan sehari-hari. Dalam penderitaan orang kecil. Dalam air mata keluarga. Dalam perjuangan hidup yang sering tak terlihat.
“Ziarah sesungguhnya dimulai saat kita pulang,” kata Yang Mulia lagi.
Sebuah kalimat sederhana, tetapi menggema panjang.
Hening yang Menyimpan Harapan, Jumat Agung di Ruteng akhirnya bukan hanya tentang duka. Di balik ratapan, ada pertobatan. Di balik keheningan, ada kesadaran. Dan di balik salib, selalu ada harapan.
Bahwa penderitaan bukan akhir. Bahwa setelah gelap, akan ada terang. Dan bahwa iman, seperti yang ditunjukkan umat Ruteng hari itu tidak selalu harus bersuara keras. Kadang, ia justru paling kua ketika dijalani dalam diam.( WG )
