Kemiskinan Sumba Timur: Menjaga Adat, Membangun Ekonomi Masyarakat Berkelanjutan

WAINGAPU,RANAKANEWS.com – Di tengah hamparan savana yang luas dan budaya leluhur yang masih terjaga kuat, Kabupaten Sumba Timur menyimpan persoalan kemiskinan yang belum sepenuhnya terselesaikan. Daerah ini dikenal kaya akan adat istiadat, solidaritas sosial, dan nilai gotong royong yang masih hidup dalam keseharian masyarakat.

Namun di balik kekayaan budaya tersebut, masih banyak masyarakat yang hidup dalam keterbatasan ekonomi. Kemiskinan di Sumba Timur tidak hanya berkaitan dengan rendahnya pendapatan, tetapi juga dipengaruhi oleh akses pendidikan, kesehatan, lapangan kerja, hingga ketergantungan terhadap musim dan hasil pertanian tradisional.

Data tahun 2025 menunjukkan jumlah penduduk miskin di Sumba Timur mencapai sekitar 70,35 ribu jiwa atau 25,64 persen dari total penduduk. Angka tersebut jauh di atas rata-rata Provinsi Nusa Tenggara Timur dan menunjukkan bahwa satu dari empat warga masih hidup dalam kondisi ekonomi yang sulit.

Tidak hanya jumlah penduduk miskin yang tinggi, kedalaman dan keparahan kemiskinan di Sumba Timur juga tergolong serius. Banyak keluarga miskin memiliki jarak pengeluaran yang cukup jauh dari garis kemiskinan sehingga sangat rentan terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok maupun gagal panen.

Dalam kehidupan masyarakat Sumba, adat memiliki posisi yang sangat penting. Upacara pernikahan, kematian, dan berbagai ritual adat dipandang sebagai simbol kehormatan keluarga serta penghormatan kepada leluhur. Karena itu, masyarakat sering rela mengorbankan hasil panen, menjual ternak, bahkan berutang demi memenuhi kewajiban adat.

Di satu sisi, budaya tersebut menjadi kekuatan sosial yang luar biasa karena mempererat hubungan kekeluargaan dan solidaritas masyarakat. Namun di sisi lain, biaya adat yang besar juga dapat menjadi tekanan ekonomi, terutama bagi masyarakat kecil yang penghasilannya masih terbatas dan tidak menentu.

Persoalan kemiskinan semakin kompleks karena masih rendahnya tingkat pendidikan masyarakat kelompok ekonomi terbawah. Banyak warga usia produktif belum memiliki ijazah pendidikan dasar maupun keterampilan yang memadai sehingga sulit bersaing di dunia kerja modern dan tetap bergantung pada sektor pertanian tradisional.

Harapan baru mulai muncul melalui berbagai program pemberdayaan ekonomi seperti Makan Bergizi Gratis dan penguatan Koperasi Merah Putih. Program tersebut dinilai dapat menggerakkan ekonomi desa apabila bahan pangan dipasok langsung oleh petani, peternak, nelayan, dan pelaku usaha lokal di Sumba Timur.

Ke depan, pengurangan kemiskinan di Sumba Timur membutuhkan pembangunan yang mampu berjalan seiring dengan pelestarian budaya. Nilai gotong royong dan solidaritas sosial harus menjadi modal utama untuk memperkuat pendidikan, koperasi, serta ekonomi masyarakat agar adat tetap terjaga dan kesejahteraan masyarakat terus meningkat.

Penulis : Sulastri F. Selan (Statistisi Ahli Muda-BPS Kabupaten Sumba Timur)

error: Konten dilindungi!