Oleh: Save Dagun
Mohon maaf bagi teman-teman yang kurang tertarik dunia tulis-menuls buku dan Kamus. Tulisan ini untuk berbagi dengan teman-teman yang senasib sebagai penulis.
Suatu ketika saya melihat kamus bahasa Inggris Webster edisi lengkap. Saya tertegun melihat karya yang mulai dirilis abad 19 lalu. Kamus ini tebal kurang lebih 2500-an dengan ukuran huruf kira-kira 8 poin, kecil sekali.
Saya berpikir betapa hebatnya orang Eropa yang menyusun kamus ini. Tradisi tulis-menulis sudah menjadi kultur sejak berab- abad lampau.
Sejak melihat kamus itu saya terus berpikir dan berpikir. Muncullah mimpi dan bahkan “big dream” bagaimana bisa berbuat seperti kamus Webster itu.
Sekitar tahun 1987, kakak saya Dr. Lorens Bagus (alm) ahli filsafat, membuat tim kerja untuk menterjemahkan berbagai tema-tema yang berkaitan dengan filsafat termasuk kamus-kamus filsafat. Lalu terbitlah karya ikonik “Kamus Filsafat” karya Dr. Lorens Bagus. Inilah pengalaman awal saya mulai mengembara di dunia tulis-menulis buku dan kamus.Sejak itu, saya mulai melacak berbagai kamus di buku loak pasar Senen. Nyaris semua sudut pasar Senen dan Kwitang bolak-balik mencari kamus bekas.
Sebelum mulai susun kamus, saya membeli sejumlah perangkat komputer. Kala itu komputernya layar hijau, yang kala itu disebut layar jangkrik dan untuk data pakai disket.
Kebetulan, ketika mulai susun kamus, saya bekerja sebagai penerjemah di desk luar negeri harian Jayakarta. Kerjaan utama adalah menterjemahkan berita dari Reuter dan AP. Betapa tersiksa kerja ini karena Inggris tidak begitu paham, nyaris setiap saat buka kamus.
Hanya dengan gaji kecil sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup, saya bertahan. Karyawan lain diangkat pegawai tetap setelah satu bulan kerja, sementara saya, setelah 3 tahun baru diangkat.
Saya tidak begitu peduli cara diskriminasi ini dan tidak menuntut banyak di tempat kerja. Bagi saya yang penting ada leluasa menyusun kamus dengan waktu yang panjang.
Kerja di Harian Jayakarta mulai perang Teluk 1991 hingga bubar reformasi 1998. Tahun 1997 “Kamus Besar Ilmu Pengetahuan” edisi pertama terbit dan terus menyusun kamus-kamus lain. Kamus Besar Tokoh Indonesia dan Dunia terbit, menyusul kamus besar lain.
Dari tujuh karya Kamus, yang rumit penyusunan adalah “Kamus Acuan Utama Bahasa Indonesia.”
Kamus ini berbeda dengan Kamus Bahasa Indonesia Poerwardaminta dan Anton Mulyono cs.
Jika dalam kamus Bahasa Indonesia terdahulu, misalnya entri kata “kerja’ dengan imbuhan dalam satu lema “Kerja” sementara dalam “Kamus Acuan Utama Bahasa” entri kerja diabjad K, kemudian “Mengerjakan” diabjad M dan “Dikerjakan” di abjaf D. Tetapi kata dasar “kerja” juga dijelaskan.
Pola ini memudahkan orang asing melacak entri-entri. Muatan Kamus Acuan Utama Bahasa Indonesia jauh lebih banyak dibanding Kamus-kamus bahasa Indonesia sebelumnya.
Karya puncak adalah Kamus Besar Ilmu dan Bahasa. Karya ini sudah nyaris setebal dan hurufnya sama dengan Kamus Webster. Rasanya “big dream” nyaris tembus.
Selain 7 Kamus juga menyusun ensiklopedia kearifan lokal, mulai dari NTT 9 ensiklopedia. Jawa Barat 10 ensiklopedia, Papua 8 ensiklopedia, Sumatera Utara 11 ensiklopedia.
Targetnya seluruh etnis di Nusantara akan dibuat ensiklopedia kearifan lokal. Selain kamus dan ensiklopedia juga terbit beberapa buku seperti buku Psikologi Keluarga dan biografi tokoh-tokoh.
Yang masih obsesi adalah penyusunan “Kamus Bahasa Nusantara vs Bahasa Daerah” Ada 700-an bahasa daerah dan diharapkan kamus ini bisa mencapai 54 jilid. Belum mulai disusun kamus ini tetapi sejak belasan tahun sudah lobi sana-sini tetapi kandas. Program ini tidak kuat jika bergerak sendirian.
Pertanyaan tersisa, bagaimana nasib karya-karya ini?. Sebagian kamus-kamus ini sudah terbit, tetapi sebagian lagi dalam bentuk PDF dan disimpan di awan, di Sillicon Valey, California.
Kendala keterbatasan dana, maka untuk sementara simpan di awan dulu. Tidak ada sponsor yang mendukung program ini dan benar-benar “flying alone”
Jalur ini penuh onak dan duri. Mental harus kuat, ibarat kita mengangkat batu dari kaki bukit ke puncak dan berat pikulan lebih berat dari kita.
Penulis: Pengarang Buku
