KUPANG, RANAKANEWS.com – Senator Ir. Abrahan Paul Liyanto meluncurkan buku biografi yang mengisahkan perjalanan hidup, perjuangan, dan pengalaman imannya.
Anggota DPD RI empat periode (2009-2029) yang kaya gagasan, banyak berbagi ilmu dan pengalamannya, serta tekun menjalankan tugasnya, baik sebagai penyambung lidah masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) di panggung politik nasional, juga sebagai wakil DPD RI di Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).
Acara peluncuran dan bedah Buku Biografi tersebut, berlangsung di Aula Lantai 5 Universitas Citra Bangsa (UCB) Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (24/10/2026).
Rektor UCB Kupang, Prof. Dr. Frans Salesman, S.E.,M.Kes., menilai Buku Biografi Ir Abraham Paul Liyanto berjudul “Diberkati untuk Memberkati” sebagai warisan nilai yang dapat menjadi sumber inspirasi bagi dunia pendidikan, khususnya bagi dosen, mahasiswa, dan seluruh civitas academica UCB.
Ia mengatakan, judul Diberkati untuk Memberkati mengajak setiap orang untuk melihat perjalanan hidup sebagai bagian dari rahmat dan tuntunan Tuhan. Berkat yang diterima, menurutnya, tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi harus terus mengalir dan memberikan kehidupan bagi sesama.
“Bagi kami di Universitas Citra Bangsa, semangat dari buku ini sebagai sebuah karya yang sangat berarti untuk menjadi bekal dalam kami menapaki dan membangun Universitas Citra Bangsa saat ini maupun di masa depan,” kata Frans dalam sambutannya.
Menurutnya, buku tersebut tidak sekadar merekam perjalanan hidup seseorang, tetapi juga mengandung nilai-nilai kerja keras, kepedulian, keberanian, dan kesetiaan yang dapat menjadi bekal dalam membangun masa depan.
Frans menjelaskan, Universitas Citra Bangsa merupakan salah satu wujud kontribusi Abraham Paul Liyanto dalam pengembangan pendidikan di NTT.
Saat penggabungan perguruan tinggi yang menjadi cikal bakal UCB, jumlah program studi tercatat enam dengan total mahasiswa baru ratusan orang. Kini, setelah tujuh tahun berkembang, UCB memiliki 15 program studi yang tersebar di lima fakultas dengan lebih dari ribuan mahasiswa.
UCB juga telah membuka Fakultas Ilmu Keguruan dan Pendidikan yang saat kegiatan berlangsung telah memasuki semester pertama perkuliahan.
Menurut Frans, perkembangan tersebut menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab untuk terus memperkuat kualitas pendidikan di tengah tantangan dan persaingan global.
Ia menegaskan, membangun institusi pendidikan bukanlah pekerjaan mudah. Dibutuhkan visi jauh ke depan, perencanaan yang matang, serta keberanian mengambil keputusan yang mengandung risiko.
Sosok Abraham Paul Liyanto, kata Frans, telah memberikan kontribusi penting dalam pengembangan pendidikan Citra Bangsa, mulai dari pendidikan anak usia dini (PAUD), taman kanak-kanak (TK), sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), sekolah menengah atas (SMA), hingga perguruan tinggi.
Ia juga menyoroti kontribusi lembaga pendidikan tersebut dalam menyiapkan sumber daya manusia dan membuka peluang kerja bagi masyarakat. Lulusan yang dihasilkan disebut telah berkontribusi di sejumlah negara, antara lain Australia, Jepang, Singapura, Jerman, dan Italia.
Bagi Frans, peluncuran buku biografi tersebut menjadi kesempatan untuk mengambil pelajaran dari perjalanan hidup dan pengabdian Abraham, sekaligus menjadikannya sebagai referensi bagi generasi mendatang.
“Saya harap buku ini dapat menjadi sumber inspirasi bagi kita semua, khususnya bagi para dosen, para mahasiswa dan seluruh civitas academica Universitas Citra Bangsa,” ujarnya.
Senator Ir. Abrahan Paul Liyanto, dalam sambutannya menjelaskan, gagasan penulisan buku biografi tersebut muncul ketika dirinya melakukan perjalanan ke Portugal bersama mantan Ketua DPD RI dua periode, Irman Gusman, pada April 2026.
Dalam perjalanan itu, muncul ide untuk mendokumentasikan perjalanan hidup Abraham bertepatan dengan usianya yang ke-70 tahun.
Buku tersebut tidak hanya merekam perjalanan hidup Abraham, tetapi juga memuat pesan tentang kerja keras, ketekunan, rasa syukur, dan keyakinan akan pertolongan Tuhan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Paul mengungkapkan, perjalanan hidup selama tujuh dekade tidak terlepas dari perjuangan sejak usia dini. Ia bahkan memperkirakan telah menghabiskan sekitar 60 tahun hidupnya untuk bekerja.
“Kalau saya hitung-hitung, 70 tahun ini saya bekerja 60 tahun. Karena masih dari SD sudah jual kue,” ungkap anak kelima dari sembilan bersaudara itu.
Menurut Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Provinsi NTT ini, pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan hidup yang ingin dibagikannya kepada masyarakat, terutama generasi muda di NTT.
Ketua Dewan Pembina Yayasan Citra Bina Insan Mandiri ini berharap, kisah hidupnya dapat menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang bagi seseorang untuk terus berjuang dan meraih keberhasilan.
Paul mengaku sempat merasa sungkan untuk menuliskan kisah hidupnya. Namun, setelah diperkenalkan dengan penulis Piter Daslani, proses penyusunan buku tersebut mulai berjalan.
Ia mengapresiasi Piter yang tetap meluangkan waktu di tengah kesibukannya sebagai jurnalis internasional.
Kesamaan latar belakang sebagai sesama orang NTT juga membuat komunikasi keduanya berjalan lebih dekat.
“Karena sama-sama kita orang NTT, begitu telepon satu kali, ternyata kita sama. Ceritanya dulu pikul air, ambil air di kali, mandi
Melalui sejumlah pertemuan dan komunikasi, proses penyusunan buku itu akhirnya rampung dan diluncurkan bertepatan dengan perayaan ulang tahun Paul Liyanto.
Salah satu bagian yang berkesan dalam perjalanan hidup Paul Liyanto adalah pengalaman ketika dirinya harus menjalani operasi batu ginjal.
Ia menceritakan, peristiwa tersebut bermula saat dirinya merasakan sakit di bagian pinggang pada tengah malam, menjelang jadwal keberangkatan ke Jakarta untuk melanjutkan perjalanan dinas ke Papua dan Maluku.
Awalnya, ia mengira rasa sakit itu merupakan keluhan biasa. Namun, kondisinya semakin memburuk hingga tubuhnya menggigil dan tangannya terasa dingin.
Keluarga kemudian membawanya ke instalasi gawat darurat (IGD). Setelah menjalani pemeriksaan, dokter menemukan batu ginjal.
Paul mengaku bersyukur karena masih mendapat kesempatan untuk menjalani perawatan dan kembali beraktivitas.
Dengan nada berseloroh, ia menyebut kedua batu ginjal tersebut sebagai dua batu berlian yang akan dipersembahkan kepada kedua anaknya, Yessy dan Hansel.
Bagi Paul, pengalaman itu menjadi pengingat tentang pentingnya kesehatan, keluarga, dan rasa syukur atas pertolongan Tuhan.
“Kalau tidak pertolongan Tuhan, tidak mungkin saya masih ada berdiri di sini,” ujarnya.
Abraham Paul Liyanto mengatakan, penerbitan buku biografi tersebut bukan semata-mata untuk mengenang perjalanan hidupnya, tetapi juga untuk membagikan pengalaman yang dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda.
Ia menegaskan, keberhasilan seharusnya tidak hanya diukur dari pencapaian pribadi, tetapi juga dari manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain.
“Buku diberkati untuk memberkati, bukan sekadar cerita saya masa lalu, tetapi diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi muda bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berjuang dan berhasil,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Paul Liyanto turut menyampaikan apresiasi kepada sejumlah tokoh yang mendukung penerbitan buku tersebut, Irman Gusman, Ketua DPD RI Sultan B.Najamudin, Gubernur NTT periode 1993- 1998 Mayor Jenderal TNI (Purn) Herman Musakabe, Rektor Universitas Citra Bangsa (UCB) Kupang, Prof. Dr. Frans Salesman, S.E.,M.Kes, Prof. Vincent Gasperz, Prof.Maks U.E.Sanam, Prof. Frans Umbu Datta, Prof. David B.W.Pandie.
Ia juga berterima kasih kepada penulis, para narasumber, keluarga, sahabat masa kecil, rekan kerja, serta seluruh undangan yang hadir.
Sementara itu, mantan Ketua DPD RI Irman Gusman, menyebut, Paul sebagai sosok yang mampu bertahan dan meraih keberhasilan melalui kerja keras meskipun berasal dari lingkungan dengan berbagai keterbatasan.
Ia bahkan menyebut Paul sebagai the living legend atau legenda hidup.
“Pak Paul ini ada the living legend buat saya. Jadi legenda yang hidup,” kata Irman.
Menurut Irman, perjalanan Paul menunjukkan bahwa seseorang yang berasal dari daerah dengan keterbatasan dapat berkembang menjadi tokoh nasional melalui kerja keras selama bertahun-tahun.
Ia juga mengapresiasi perhatian Paul terhadap pengembangan pendidikan dan kesehatan di NTT.
Irman mengaku terkesan dengan perkembangan fasilitas pendidikan yang dibangun di lingkungan Yayasan Citra Bina Insan Mandiri, termasuk keberadaan fakultas kedokteran di UCB.
Ia juga menyinggung rencana pengembangan fasilitas kesehatan berupa rumah sakit serta fasilitas lainnya yang tengah dikembangkan.
Ditengah kesibukannya sebagai anggota DPD RI dan Ketua Badan Sosialisasi MPR RI yang bertugas menyosialisasikan Empat Pilar MPR, Paul dinilai tetap memberikan perhatian terhadap pembangunan di daerah asalnya.
Ia menilai, apa yang dilakukan Paul tidak semata-mata berkaitan dengan pencapaian pribadi, tetapi juga didorong oleh keinginan untuk memberikan yang terbaik bagi keluarga, masyarakat, daerah, dan bangsa.
Irman berharap, kontribusi tersebut dapat terus memberikan manfaat bagimasyarakat NTT.
Gubernur NTT periode 1993- 1998 Mayor Jenderal TNI (Purn) Herman Musakabe juga mengapresiasi penerbitan buku biografi Paul Liyanto.
Menurut Herman, buku tersebut bukan sekadar catatan perjalanan hidup, melainkan sarana untuk mewariskan nilai-nilai kehidupan dari generasi senior kepada generasi berikutnya.
“Beliau adalah manusia kaya arti yang memberi arti bagi orang lain,” ujar Herman.
Ia juga menegaskan pentingnya dukungan para tokoh senior terhadap upaya mendokumentasikan perjalanan hidup seseorang yang dinilai memiliki kontribusibagi masyarakat.
Ia mengatakan, pengalaman dan karya Paul dapat menjadi sumber pembelajaran bagi generasi muda agar tidak hanya mengejar kepentingan sesaat, tetapi juga berupaya memberikan manfaat bagi sesama.
Herman berharap,buku tersebut dibaca bukan hanya sebagai hiburan atau kisah masa lalu, melainkan sebagai bahan refleksi tentang kerja keras, pengapdian, dan nilai-nilai kehidupan. (TD)
