La Nina Berakhir, Musim Kemarau Akan Datang Lebih Awal dan Berpotensi El Nino Lemah

Kepala Biro Administrasi Pimpinan Setda NTT, Prisila Q.Parera didampingi Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT Lecky Frederich  Koli dan Kepala Badan Penanggulangan Bencana  Daerah (BPBD) NTT Amrosius Kodo dalam jumpa pers, yang digelar di Kantor Gubernur NTT, Kamis (29/3/2023) (Foto: TD/ranakanews.com)

KUPANG, RANAKANEWS.com– Badan Meteorologi, Klimatologi, Geofisika (BMKG), Nusa Tenggara Timur (NTT) memprediksi bahwa musim hujan 2022/2023 akan turun lebih awal dibanding biasanya.

Kemudian hasil pemantauan hingga Februari  2023 ini  menunjukkan bahwa sudah 100 persen  zona musim di NTT ini telah memasuki musim penghujan.

Secara umum sebagian besar ZOM memasuki musim hujan  pada bulan Oktober hingga Nofember 2022 serta mengalami puncak pada bulan Februari 2023.

Hal ini disampaikan Kepala Stasiun BMKG NTT, Rahmattuloh Adji didampingi Kepala Biro Administrasi Pimpinan Setda NTT Prisila  Q.Parera, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT Lecky Frederich  Koli dan Kepala Badan Penanggulangan Bencana  Daerah (BPBD) NTT Amrosius Kodo dalam jumpa pers, yang digelar di Kantor Gubernur NTT, Kamis (29/3/2023).

 La Nina diprediksi ini segera beralih menuju netral.

Hingga Februari 2023, lanjut Adji, pemantauan terhadap anomali iklim global di Samudera Pasifik  menunjukkan La-Nina lemah masih berlangsung namun dengan indeks yang mendekati ambang batas normal yaitu -0, 52. Sedangkan di Samudera Hindia, pemantauan suhu  muka laut menunjukkan kondisi netral.

“Fenomena La-Nina ini diprediksi akan segera menuju netral pada periode  Maret 2023 dan terus bertahan hingga akhir semester pertama 2023. Pada semester kedua, terdapat peluang sebesar 50-60%  bahwa kondisi netral akan beralih menuju fase El Nino lemah. Sementara  itu, kondisi IOD diprediksi akan tetap netral hingga akhir tahun 2023,” terang Adji.

Kapan awal musim kemarau 2023?

Awal musim kemarau umumnya berkait erat dengan peralihan angin baratan (Monsun Asia) menjadi angin timuran  (Monson Australia).

Ia menyebut kan, BMKG memprediksi awal musim kemarau terjadi seiring aktifnya Monsun Australia pada April 2023 yang akan dimulai dari wilayah Nusa Tenggara dan Bali. Dari total 28 ZOM  di NTT, sebanyak 27 ZOM (96,43 %) diprakirakan akan mengawali musim kemarau bulan April  2023, sedangkan untuk  1 ZOM (3,57%), awal musim kemarau terjadi pada bulan Mei 2023. Jika dibandingkan terhadap rerata klimatologis, awal musim kemarau (periode 1991-2020), maka awal musim kemarau 2023 di NTTdiperkirakan maju pada 13 ZOM  (46, 43%).

Sama dengan normalnya pada 8 ZOM  (28,57%) dan mundur pada 7  ZOM (25,00%). Wilayah yang awal kemaraunya diprediksikan maju yaitu sebagaian kecil Kabupaten Manggarai Barat, Kabupaten Manggarai, Kabupaten Mangarai Timur, Kabupaten Ngada, Kabupaten Nagekeo, Kabupaten Ende, Kabupaten Sikka, Kabupaten Flores Timur, Kabupaten Sumba Barat Daya, Kabupaten Sumba Barat, Kabupaten Sumba Tengah, Kabupaten Sumba Timur, Kabupaten Rote Ndao, Kabupaten Kupang, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Kabupaten Kabupaten Timor Tengah Utara, Kabupaten Belu, dan Kabupaten Malaka.

Lebih lanjut, sifat hujan pada musim kemarau ini, secara umum musim kemarau 2023 diprediksi bersifat bawah normal (musim kemarau lebih kering, yaitu curah hujan lebih rendah dari reratanya) sebanyak  16 ZOM  (57, 14%), namun terdapat  4 ZOM (14,3%) yang diprediksikan akan bersifat atas normal (musim kemarau lebih basah, yaitu curah hujan lebih tinggi dari reratanya) dan sejumlah 8 ZOM (28,57%) .

“Diprediksikan akan bersifat normal atau sama dengan rerata klimatologisnya. Wilayah yang diprediksi mengalami sifat musim kemarau dibawah normal yaitu sebagian kecil Kabupaten Manggarai Timur, Kabupaten Ngada, Kabupaten Nagekeo, Kabupaten Ende, Kabupaten Sikka, Kabupaten Flores Timur, Kabupaten Lembata, Kabupaten Alor, Kabupaten Sumba Barat Daya, Kabupaten Sumba Barat, Kabupaten Sumba Tengah, kabupaten Sumba Timur, Kabupaten Sabu Raijua, Kabupaten Rote Ndao, Kabupaten Kupang, Kabupaten TTS, Kabupaten TTU, Kabupaten Belu, Kabupaten dan Kabupaten Malaka,” jelasnya.

Kapan puncak musim kemarau Tahun 2023?

Puncak musim kemarau 2023 di wilayah NTT diperkirakan umumnya terjadi pada bulan Agustus 2023 sebanyak 17 ZOM  (60,71%). Namun demikian, terdapat beberapa wilayah yang mengalami puncak musim kemarau pada bulan Juli 2023 sebanyak 5 ZOM  (17,86%) dan Sepetember 2023 sebanyak  6 ZOM  (21,43%).

Kesimpulan prakiraan musim hujan 2022/2023

Musim kemarau pada tahun 2023 umumnya akan tiba lebih awal dibandingkan dengan biasanya. Curah hujan yang turun pada periode musim kemarau 2023 diprediksi akan normal hingga lebih kering dibandingkan biasanya. Meskipun demikian ada beberapa daerah yang diprediksi mengalami curah hujan yang lebih tinggi dibandingkan biasanya. Meskipun demikain ada beberapa daerah yang yang diprediksi mengalami curah hujan yang lebih tinggi dibandingkan biasanya. Periode puncak musim kemarau diprediksi umumnya terjadi di Agustus 2023.

Rekomendasi menghadapi musim kemarau 2023

Dalam mengahadapi musim kemarau 2023, BMKG mengimbau K/L, pemerintah daerah, Institusi terkait, dan seluruh masyarakat untuk lebih siap dan antisipatif terhadap kemungkinan dampak musim kemarau terutama di wilayah yang mengalami sifat musim kemarau bawah normal (lebih kering dibanding biasanya).

Wilayah tersebut diprediksi  mengalami peningkatan risiko bencana kekeringan meteorologis, kebakaran hutan dan lahan, dan kekuarangan air bersih. Pemerintah Daerah dapat lebih optimal melakukan penyimpanan air pada akhir musim hujan ini untuk memenuhi danau, waduk, embung, kolam retensi, dan penyimpanan air buatan lainnya di masyarakat melalui gerakan memanen air hujan.

“Mari kita jadikan informasi prakiraan musim kemarau 2023 ini sebagai bentuk peringatan dini (Early Warning), untuk dimanfaatkan oleh para pemangku kepentingan dalam aksi dini ((Early Action), sehingga upaya pencegahan dapat terus diprioritaskan dengan tetap adanya penanggulangan bila bencana terjadi,” tegasnya. (TD)

error: Konten dilindungi!
Exit mobile version