Hasil karya eco print dari siswa kls 5 SDI Wae Rii, hasil bimbingan mhs PPG Calon Guru.(Foto: ES)
RUTENG, RANAKANEWS.com – Mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Calon Guru Gelombang 1 Tahun 2026 menggelar Gelar Karya bertema “Cintai Alam dan Ciptakan Karya Melalui Eco-Print” di SDI Wae Rii, Desa Compang Carep, Kecamatan Langke Rembong, Rabu (14/10/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi Mata Kuliah Proyek Kepemimpinan untuk mengembangkan kreativitas, kolaborasi, dan kepedulian calon guru terhadap lingkungan.
Dosen Pengampu Mata Kuliah Proyek Kepemimpinan, Drs. Eliterius Sennen, M.Pd., dalam sambutannya menegaskan bahwa gelar karya tersebut bukan sekadar ajang memamerkan hasil kreativitas mahasiswa, melainkan wujud pembelajaran, pengabdian, kolaborasi, dan pengembangan jiwa kepemimpinan calon guru.
Menurut Eliterius, melalui proyek kepemimpinan, mahasiswa ditantang untuk mengenali kebutuhan nyata di lingkungan sekolah dan masyarakat, merancang solusi, membangun kerja sama, melaksanakan program, serta mengevaluasi manfaat kegiatan.
Mahasiswa, katanya, tidak cukup hanya memahami teori kepemimpinan, tetapi juga harus mampu mengambil inisiatif, menghadirkan inovasi, menggerakkan orang lain, dan memberikan kontribusi nyata bagi lingkungan sekitarnya.
Ia menjelaskan, tema eco-print memiliki relevansi kuat dengan pendidikan dasar karena menghubungkan kreativitas dengan pengenalan alam dan pelestarian lingkungan. Melalui teknik ini, bentuk dan pigmen alami dari daun atau bunga dapat ditransfer ke permukaan kain atau media tertentu untuk menghasilkan motif yang unik.
Proses tersebut membuka kesempatan bagi peserta didik untuk mengenali potensi alam sekaligus mengembangkan keterampilan melalui pengalaman langsung.
Anak-anak juga dapat belajar mengembangkan imajinasi, ketelitian, kesabaran, kemampuan memecahkan masalah, kerja sama, dan rasa percaya diri.
Namun, Eliterius mengingatkan bahwa pemanfaatan bahan alam harus disertai tanggung jawab ekologis. Mencintai alam bukan sekadar menggunakan daun dan bunga sebagai bahan karya, melainkan juga mengambil bahan secara bijaksana, tidak merusak tumbuhan, serta menjaga kebersihan lingkungan.
Eliterius berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai pengalaman sesaat dalam gelar karya, tetapi dapat menginspirasi para guru SDI Wae Rii untuk mengembangkan pembelajaran berbasis lingkungan secara berkelanjutan. Halaman sekolah, kebun, tumbuhan, dan lingkungan sekitar dapat dimanfaatkan sebagai laboratorium pembelajaran terbuka yang mendekatkan materi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari peserta didik.
Eliterius Tekankan Lima Nilai Proyek Kepemimpinan
Dalam sambutannya, Eliterius menekankan lima nilai utama yang perlu dipetik mahasiswa PPG dari pelaksanaan proyek tersebut.
Pertama, kepekaan terhadap kebutuhan lingkungan dan masyarakat. Calon guru diharapkan mampu melihat potensi di balik hal-hal sederhana di sekitarnya dan mengembangkannya menjadi sumber pembelajaran yang kreatif dan bermakna.
Kedua, membangun kolaborasi dan semangat gotong royong. Keberhasilan proyek tidak hanya bergantung pada kemampuan individu, tetapi juga komunikasi, pembagian tugas, tanggung jawab, saling percaya, dan kerja sama.
Ketiga, keberanian mewujudkan gagasan. Ide yang baik tidak boleh berhenti pada pemikiran atau diskusi, tetapi harus direncanakan, diuji, dilaksanakan, dan dievaluasi agar memberikan manfaat nyata.
Keempat, keteladanan dalam pembentukan karakter. Kepedulian terhadap lingkungan tidak cukup diajarkan melalui kata-kata. Guru perlu menunjukkan tindakan nyata, seperti menjaga kebersihan, merawat tanaman, mengurangi sampah, dan menggunakan bahan secara bijaksana.
Kelima, memastikan proyek memberikan dampak dan berkelanjutan. Keberhasilan tidak hanya diukur dari keindahan karya yang dipamerkan, tetapi juga dari perubahan positif pada peserta didik, baik dalam kepedulian terhadap lingkungan, kreativitas, maupun kemampuan bekerja sama.
Karena itu, mahasiswa diharapkan terus melakukan refleksi, menerima masukan, memperbaiki kekurangan, dan mengembangkan program agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.
“Pemimpin yang baik bukan hanya mampu menyelesaikan sebuah kegiatan, melainkan juga mampu meninggalkan inspirasi dan perubahan positif bagi orang lain,” demikian pesan Eliterius.
Selanjutnya Kepala SDI Wae Rii, Wilhelmina Yasmin, dalam sambutannya menyampaikan bahwa gelar karya tersebut bukan sekadar kesempatan untuk menampilkan hasil kreativitas mahasiswa, melainkan juga bukti komitmen, inovasi, dan tanggung jawab calon guru dalam menghadirkan pembelajaran yang bermakna.
“Menjadi guru bukan hanya tentang menguasai materi dan menyelesaikan tugas, melainkan tentang membentuk karakter, menumbuhkan harapan, dan mempersiapkan masa depan generasi bangsa,” tegas Wilhelmina.
Ia mengajak para mahasiswa PPG untuk menjadi guru yang mampu menginspirasi peserta didik dan hadir secara nyata dalam proses pertumbuhan mereka. Menurutnya, guru memiliki peran penting dalam menciptakan pengalaman belajar yang tidak hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter dan mengembangkan potensi anak.
Wilhelmina berharap kegiatan gelar karya tersebut menjadi titik awal lahirnya berbagai gagasan dan praktik pembelajaran yang kreatif, inovatif, serta memberikan dampak positif bagi kemajuan pendidikan.
Ia juga mengharapkan kerja sama antara SDI Wae Rii dan Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng terus terjalin. Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk mendukung penyelenggaraan pendidikan yang semakin berkualitas sekaligus membuka ruang bagi pengembangan inovasi pembelajaran di sekolah.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa PPG Calon Guru Gelombang 1 Tahun 2026 diharapkan semakin siap menjadi guru profesional yang adaptif, kreatif, kolaboratif, dan berkarakter. Lebih dari itu, mereka diharapkan mampu menghadirkan pembelajaran inovatif yang menumbuhkan generasi yang mencintai alam, peduli terhadap lingkungan, serta bertanggung jawab dalam memanfaatkan sumber daya di sekitarnya. (WG)
