Minggu Sore Kelabu, Tragedi Pantai Buranilan Renggut Nyawa Siswa SMPK Ile Bura Nona Amel Knoba

Siswa SMPK Ile Bura Kelas 7A, Maria Karmelia Mala Knoba (14) asal Dusun Buranilan Desa Lamawalang, Putri sulung Bapak Stanilaus Dopen Knoba dan Mama Maria Jawa Tobi harus meregang nyawa meninggal dunia karena tenggelam di pantai Buranilan saat mandi air laut bersama 2 temannya, Minggu 15 Maret 2026 sore. Nona Amel menjadi korban tragedi Minggu kelabu setelah terseret ombak deras air laut. Nyawanya tak tertolong dan ditemukan di kedalaman kurang 5 meter, meski sempat dibawa ke Puskesmas Ile Bura.

Siswa Berprestasi Kelas 7A SMPK Ile Bura Maria Karmelia Mala Knoba (14), Juara Umum SMPK Ile Bura saat menerima piagam dari Kepala Sekolah Paulus Senggo Hokeng,S.Fil, korban meninggal dunia tenggelam ketika mandi air laut di Pantai Buranilan Desa Lamawalang Kecamatan Ile Bura, Minggu 15 Maret 2026 sore: Foto (Doc./OLA/Ranakanews.com)
Siswa Berprestasi Kelas 7A SMPK Ile Bura Maria Karmelia Mala Knoba (14), Juara Umum SMPK Ile Bura saat menerima piagam dari Kepala Sekolah Paulus Senggo Hokeng,S.Fil, korban meninggal dunia tenggelam ketika mandi air laut di Pantai Buranilan Desa Lamawalang Kecamatan Ile Bura, Minggu 15 Maret 2026 sore: Foto (Doc./OLA/Ranakanews.com)

 

LARANTUKA,RANAKANEWS.com-Cuaca ekstrim dengan gelombang tinggi dan ombak besar, Minggu 15 Maret 2026 sore, di pantai Buranilan Desa Lamawalang Kecamatan Ile Bura, membawa tragedi memilukan dan hari yang kelabu bagi Nona Maria Karmelia Mala Kenoba (14) siswi Klas 7A SMPK Ile Bura, yang meninggal dunia terseret ombak besar, saat mandi air laut bersama 2 temannya.

Putri sulung Bapak Stanilaus Dopen Knoba dan Mama Maria Jawa Tobi, dari dua bersaudara yang dikenal sebagai anak cerdas, dan meraih juara umum di SMPK Ile Bura ini, harus meregang nyawa dalam usia yang masih sangat muda, lantaran tersapu derasnya ombak di pantai Buranilan, setelah beberapa menit tersedot ke dalam pusaran arus hingga kedalaman sekitar 5 meter.

Seorang temannya yang ikut mandi berupaya menolong pun, hampir saja ikut tertelan arus air laut yang deras.

Korban Nona Amel, yang akrab disapa, harus meninggal dunia karena diduga kuat tertelan air laut pada kedalaman lebih dari 5 meter, membuat napasnya habis sebelum warga datang memberi pertolongan.

“Kejadiannya diperkirakan sekitar pukul 14.30 Wita.

Saat itu korban Nona Amel, Putri sulung, kelahiran 16 Juni 2012, anak cerdas berbakat pelukis handal yang lagi tidur, diajak bersama dua temannya pergi mandi air laut di Pantai Buranilan.

Ketika pergi ke pantai, Nona Amel tak diketahui Mamanya. Entah, sial apa yang terjadi di depannya, akhirnya Nona Amel pergi selamanya dan tak pulang kembali

Mereka bertiga saja mandi. Lalu, saat itu ombak besar datang seret Nona Amel hingga ke tengah dan akhirnya meninggal.

Sempat diberikan pertolongan warga yang datang bantu evakuasi ke darat, tapi nyawanya tak tertolong.

Saat dibawah ke Puskesmas Ile Bura pun, korban sudah meninggal dunia,”terang salah satu petugas kesehatan Puskesmas Ile Bura, Bidan senior Ibu Serly Kebo saat ditemui Wartawan di Kompleks Puskesmas Ile Bura, Minggu (15/3/2026) malam, usai korban Nona Amel dipulangkan menuju rumah duka Dusun Buranilan Desa Lamawalang.

Ibu Serly Kebo juga menjelaskan, tidak ada bekas luka, goresan karang atau tanda lainnya di tubuh korban.

“Tubuh korban bersih. Pasir juga tidak ada. Semuanya baik-baik saja,”ujar Serly Kebo, lagi.

Ditanya lebih lanjut apakah ada informasi lainnya, memang temannya sempat bantu tapi tidak bisa.

“Tapi, temannya itu akhirnya selamat setelah warga datang tolong.

Tubuh korban Nona Amel akhirnya bisa ditemukan lebih cepat setelah warga menyelam hingga kedalaman kurang lebih 5 meter.

Sempat dibantu dengan berbagai cara oleh warga di Pantai Buranilan, sebelum dibawa ke Puskesmas Ile Bura, namun nyawanya tak tertolong,”sambung Yanto Mukin, dan Ibu Eta Puka Guru Kelas korban Nona Amel, saat ditemui Wartawan.

Dibagian lainnya, disebutkan kejadian naas yang begitu cepat itu sangat mengejutkan dan membawa trauma yang sangat berat bagi orang tua korban.

Pasalnya, disebutkan saat kejadian Mama korban sedang tidak ada di rumah, ketika Anaknya Nona Amel ini bangun tidur lalu pergi ke laut untuk mandi.

“Mamanya saat itu sesuai penuturan warga, sedang pergi beli beras di Kios.

Mamanya tahu saja kalau Anaknya Nona Amel ini lagi tidur di kamar.

Dia (Mamanya,red) kaget ketika dengar banyak orang teriak berlarian ke Pantai Buranilan,”sambung Yanto Mukin.

Peristiwa naas ini pun ikut membikin kaget para guru dan siswa SMPK Ile Bura yang sedang latihan Bola Volly di Kompleks SMA Swasta Ile Bura.

Kepala SMPK Ile Bura Paulus Senggo Hokeng,S.Fil bersama beberapa guru pun langsung menuju Puskesmas Ile Bura saat korban dibawa ke Unit Gawat Darurat (UGD) Puskesmas Ile Bura untuk dapat pertolongan cepat.

“Kami benar-benar merasa kehilangan seorang siswa cerdas berprestasi juara umum di sekolah.

Anak ini sangat cerdas, pandai menggambar. Bercita-cita menjadi pelukis.

Dia sedang persiapan ikut Olimpiade Bahasa Inggris,”ujar Ibu Guru Eta Puka, lebih lanjut.

Guru SMPK Ile Bura lainnya Ibu Lis Blolon saat mengirim biodata singkat korban, diketahui anak bernomor induk sekolah 2455, dengan tanggal masuk sekolah 14 Juni 2025, sempat dipercayakan menjadi MC saat perayaan HUT ke 58 SMPK Ile Bura beberapa waktu lalu.

“Kami semua sungguh sangat merasakan kehilangan, karena anak Amel ini masuk dalam salah satu peserta lomba sains Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).

Anak Amel juga dalam rencana yang sudah disampaikan guru mata pelajaran bahwa tahun depan ikut lomba melukis.

Dan, sesuai target dalam wejangan Bapak Kepala Sekolah (Kasek) SMPK Ile Bura pada apel pagi, Senin 16 Maret 2026, dipercayakan sebagai MC dalam ivent-ivent tertentu.

Anak Amel juga dipilih menjadi peserta cerdas cermat pada bulan Mei 2026,”cerita Ibu Lis Blolon, sembari menceritakan semua guru dan siswa menangis dan sangat sedih, karena pada apel pagi Senin 16 Maret 2026, Anak Amel sebenarnya bertugas sebagai protokol.

Namun, takdir Tuhan berkehendak lain, Minggu 15 Maret 2026 sekitar pukul 14.30 WITA, jarum jam kehidupan Anak Amel di bumi berhenti berdetak maju.

Langkahnya terhenti dalam sebuah tragedi yang sangat menyayat kalbu. Semua, terlebih Mama, Bapa, Adik dan semua orang yang pernah mengenalnya, termasuk para guru dan siswa SMPK Ile Bura.

Hari-hari kemarin, semuanya tinggal kenangan dalam balutan prestasi di sekolah, juga laku baik yang ditinggalkan Nona Amel.

Termasuk apa yang dikenang seorang siswi Klas 8A SMPK Ile Bura, Rosari Agnesia Rari Duli yang juga menuturkan, Amel sangat rajin membaca buku dan pandai melukis.

“Banyak lukisannya yang indah. Juga punya buku Bahasa Inggris dan Korea.

Sedih sekali Amel meninggal begitu cepat,”sebut Oca, berlinangan air mata.

Selamat jalan Nona Amel Knoba menuju rumah kedamaian abadi di Surga. Kembalilah menjadi pendoa bagi Kami semua yang masih berziarah di bumi. Doakan Kami menyertai langkahmu masuk kerajaan Surga,”katanya.

Rencananya, jenasah Nona Amel Knoba dikebumikan Senin, 16 Maret 2026 sore, menunggu Bapaknya Stanis Knoba tiba setelah jalan panjang dari Kalimantan.

Nona Amel Knoba mengakhiri perjalanan hidupnya di dunia sebegitu singkat, meninggalkan jejak ceritanya terhenti di bangku SMPK Ile Bura dengan prestasi yang luar biasa, mencetak point sempurna juara umum sekolah.

Nona Amel yang begitu dibanggakan para guru dan siswa, bakal bisa angkat nama sekolah dalam pentas Olimpiade yang bakal diikutinya, pun sirna.

Minggu 15 Maret 2026 sore telah menghentikan langkahnya.

Nona Amel telah pergi kembali ke Surga. Hari Senin 16 Maret 2026, menjadi hari masuk sekolah di SMPK Ile Bura, tanpa suara Nona Amel selaku protokol selamanya. (OLA)

error: Konten dilindungi!
Exit mobile version