Opini  

Menjaga Perahu Persaudaraan di Tengah Perbedaan

Oleh: Dr. Laurensius Lehar

Di zaman media sosial saat ini, sebuah potongan video berdurasi beberapa detik sering kali lebih cepat menyebarkan emosi daripada penjelasan panjang yang disampaikan secara utuh. Dalam hitungan jam, sebuah percakapan dapat berubah menjadi perdebatan, dan perdebatan dapat berkembang menjadi pertentangan yang melibatkan banyak orang. Hal yang belakangan menjadi perhatian masyarakat melalui perdebatan yang melibatkan Pdt Mell Atock Vs Pater Café menunjukkan bahwa ruang publik kita sedang menghadapi tantangan besar: bagaimana menjaga ketenangan di tengah perbedaan pandangan.

Pada dasarnya, perbedaan bukanlah sesuatu yang baru dalam kehidupan manusia. Sejak dahulu, manusia hidup dengan berbagai cara berpikir, keyakinan, dan cara memandang suatu persoalan. Perbedaan itu tidak selalu menjadi ancaman. Justru dalam banyak keadaan, perbedaan menjadi sarana untuk saling melengkapi dan memperluas cara pandang. Persoalan muncul ketika perbedaan tidak lagi dipahami sebagai kekayaan, melainkan dianggap sebagai ancaman yang harus dilawan.

Indonesia sendiri lahir dari keberagaman. Bangsa ini dibangun bukan dari satu kelompok saja, melainkan dari berbagai suku, budaya, bahasa, dan agama yang memilih untuk berjalan bersama dalam satu rumah besar bernama Indonesia. Para pendiri bangsa memahami bahwa perbedaan adalah kenyataan yang tidak dapat dihindari. Karena itu, mereka tidak mencari keseragaman, tetapi membangun persatuan.

Dalam kehidupan demokrasi, setiap orang memiliki hak untuk menyampaikan pendapat dan keyakinannya. Tokoh agama, akademisi, maupun tokoh masyarakat memiliki ruang untuk menyampaikan pandangan berdasarkan apa yang diyakininya. Namun kebebasan berbicara juga perlu berjalan berdampingan dengan tanggung jawab moral. Sebab ketika sebuah pernyataan telah masuk ke ruang publik, dampaknya tidak hanya berhenti pada pembicara, tetapi juga menyentuh masyarakat yang mendengar dan mengikutinya.

Sering kali membuat suasana menjadi panas bukan hanya isi perdebatan itu sendiri, melainkan reaksi para pendukung yang terbawa emosi. Di media sosial, kita melihat kecenderungan untuk membelah segala sesuatu menjadi dua kubu: yang mendukung dan yang menolak. Akibatnya, diskusi berubah menjadi arena saling menyerang. Kata-kata yang seharusnya menjadi jembatan pemahaman berubah menjadi alat untuk melukai.

Padahal jika diamati dengan tenang, tidak semua perbedaan harus berakhir dengan kemenangan satu pihak dan kekalahan pihak lain. Ada banyak hal dalam kehidupan yang dapat dipahami dari sudut pandang berbeda. Seseorang mungkin memiliki penafsiran yang berbeda, pengalaman yang berbeda, dan cara penyampaian yang berbeda. Perbedaan tersebut tidak otomatis menjadikan seseorang lebih rendah atau lebih tinggi dari yang lain.

Dalam suasana seperti ini, masyarakat membutuhkan kebijaksanaan, bukan sekadar kecepatan bereaksi. Kemajuan teknologi memang memberikan kemudahan dalam menyebarkan informasi, tetapi teknologi juga menuntut kedewasaan dalam menyikapi informasi tersebut. Potongan video yang terpisah dari konteks lengkap sering kali melahirkan kesalahpahaman. Kalimat tertentu dapat memicu kemarahan ketika diterima secara setengah-setengah.

Karena itu, budaya literasi menjadi sangat penting. Literasi bukan hanya soal kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan memahami persoalan secara utuh sebelum mengambil kesimpulan. Masyarakat perlu belajar untuk tidak cepat marah, tidak cepat membenarkan informasi yang belum pasti, dan tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang memecah persaudaraan.

Di tengah berbagai dinamika itu, pesan-pesan keagamaan sesungguhnya dapat menjadi sumber keteduhan. Dalam Injil Matius 5:9 tertulis: “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” Firman ini mengingatkan bahwa nilai tertinggi dalam kehidupan bukanlah memenangkan perdebatan, melainkan menghadirkan damai di tengah sesama.

Firman lain dalam Roma 12:18 mengatakan: “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang.” Pesan tersebut mengajarkan bahwa menjaga hubungan baik dengan sesama bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk kedewasaan.

Namun nilai-nilai seperti ini sebenarnya tidak hanya hidup dalam satu ajaran agama tertentu. Hampir seluruh agama mengajarkan kasih, penghormatan, persaudaraan, dan kemanusiaan. Cara orang berdoa mungkin berbeda, tata ibadah mungkin tidak sama, tetapi tujuan untuk menghadirkan kebaikan bagi sesama pada dasarnya bertemu pada satu titik yang sama.

Ada sebuah perumpamaan sederhana yang dapat menjadi renungan bagi kita semua.

Bayangkan ada sebuah perahu besar yang sedang berlayar di tengah lautan luas. Di dalam perahu itu terdapat banyak orang dari berbagai latar belakang. Ada yang berasal dari timur, ada yang berasal dari barat. Ada yang berbeda bahasa, berbeda budaya, dan berbeda cara berdoa. Masing-masing memiliki pengalaman serta pandangan yang tidak sama.

Pada awal perjalanan, semuanya berjalan baik. Namun di tengah lautan, beberapa orang mulai memperdebatkan arah angin. Sebagian mengatakan angin bergerak ke timur, sebagian lagi yakin angin bergerak ke barat. Perdebatan semakin panjang. Suara mulai meninggi. Masing-masing merasa paling benar.

Karena terlalu sibuk mempertahankan pendapat, mereka tidak menyadari bahwa air mulai masuk melalui celah kecil di bagian bawah perahu. Mereka sibuk berdebat, sementara perahu yang membawa mereka bersama perlahan mulai tenggelam.

Melihat keadaan itu, seorang tua berdiri dan berkata, “Kita boleh berbeda tentang arah angin, tetapi jangan sampai kita lupa menjaga perahu yang membawa kita bersama.”

Semua orang terdiam

Mereka akhirnya sadar bahwa yang paling penting bukan siapa yang paling benar mengenai arah angin, melainkan bagaimana mereka menjaga perahu agar semua bisa sampai ke tujuan dengan selamat.

Indonesia sesungguhnya ibarat perahu besar itu. Kita semua berada di dalamnya. Kita boleh berbeda dalam pendapat, cara berpikir, maupun keyakinan, tetapi jangan sampai perbedaan itu membuat kita melubangi perahu persaudaraan yang telah dibangun dengan pengorbanan panjang oleh para pendahulu bangsa.

Laut tidak pernah bertanya siapa penumpangnya; ketika badai datang, semua orang akan merasakan ombak yang sama. Demikian juga kehidupan berbangsa. Ketika persaudaraan rusak, dampaknya tidak memilih siapa yang akan merasakan akibatnya.

Karena itu, di tengah perdebatan apa pun yang sedang terjadi, masyarakat perlu mengutamakan kebijaksanaan, menjaga hati, dan merawat rasa hormat kepada sesama. Sebab pada akhirnya, bangsa yang kuat bukanlah bangsa yang tidak pernah berbeda pendapat, melainkan bangsa yang tetap mampu berjalan bersama meskipun memiliki banyak perbedaan. Persatuan tidak lahir karena semua orang sama, tetapi karena semua orang memilih untuk tetap saling menjaga.

“Dalam ilmu tanaman, seorang petani yang bijak tidak memaksa semua benih tumbuh dengan bentuk yang sama. Ia tahu bahwa padi, jagung, tanaman buah-buahan, sayuran dan bunga memiliki cara tumbuh yang berbeda. Namun satu hal yang sama: semuanya membutuhkan tanah yang baik, air yang cukup, dan perawatan yang penuh ketulusan. Begitu pula manusia; kita mungkin berbeda dalam pandangan, keyakinan, dan cara berpikir, tetapi jika hati terus disiram dengan kasih, rasa hormat, dan persaudaraan, maka perbedaan tidak akan tumbuh menjadi duri yang melukai, melainkan menjadi taman kehidupan yang indah bagi semua.”

Penulis: Dosen Jurusan Tanaman Pangan dan Hortikultura Politeknik Pertanian Negeri Kupang.

error: Konten dilindungi!