Rapim ASJI 2025 di Tawangmangu “Menyalakan Api Magis di Tengah Sejuk Lereng Lawu”

Romo Johanes Sudrijanta, SJ (Rektor Kolese Le Cooq d’Armandville, Nabire), Romo Emanuel Baskoro, SJ (Rektor Kolese Gonzaga, Jakarta) dan Edi Danggur (Anggota Dewan Pengurus ASJI dan anggota Pengurus Perkumpulan Strada, Jakarta). ( Foto: Edi Danggur )

TAWANGMANGU, RANAKANEWS.com – Di akhir November 2025, kabut tipis menyelimuti lereng Gunung Lawu. Tawangmangu, dengan udara sejuk dan hutan pinus yang menenangkan, menjadi ruang perjumpaan para pendidik Jesuit dan kerabatnya.

Dari 30 November hingga 2 Desember, Asosiasi Sekolah Jesuit Indonesia (ASJI) menggelar Rapat Pimpinan (Rapim) tahunan, sebuah forum yang bukan sekadar evaluasi program kerja, melainkan ziarah bersama untuk menyalakan kembali api magis—semangat Ignatian yang selalu mencari yang lebih baik.

Suasana dan Makna
Tawangmangu menghadirkan atmosfer refleksi. Alam seolah mengundang para peserta untuk berhenti sejenak, menimbang perjalanan setahun, dan menatap masa depan dengan kejernihan hati.

Dalam tradisi Ignatian, tempat ini menjadi “ruang doa” yang luas, di mana setiap keputusan pendidikan dipandang sebagai bagian dari panggilan pelayanan.

Evaluasi dan Harapan
Rapim ASJI menegaskan dua hal: mempertahankan yang sudah baik, dan mengoreksi yang belum optimal. Program peningkatan kualitas guru menjadi sorotan utama. Lebih dari seratus guru Strada telah menyelesaikan studi S2, ratusan lainnya sedang menempuhnya, bahkan ada yang melangkah ke jenjang S3. Ini bukan sekadar angka, melainkan tanda keseriusan ASJI membangun fondasi pendidikan yang kokoh: guru yang berilmu, berjiwa, dan berkomitmen.

Ciri Ignatian
Ciri khas Ignatian—cura personalis (perhatian pada pribadi), refleksi, dan panggilan menjadi men for others—terus ditegaskan.
ASJI ingin agar setiap sekolah anggota, baik milik SJ maupun kerabat, menjadi rumah pembentukan manusia yang utuh: cerdas, berbelarasa, dan siap melayani.

Suara Institusional
Ketua ASJI: Rm Johanes Heru Hendarto, SJ
“Rapim bukan sekedar forum evaluasi, melainkan ruang discernment. Kita menimbang dengan jujur apa yang sudah baik, lalu mencari cara agar menjadi lebih baik lagi. Semangat Ignatian mengajak kita untuk selalu mencari ‘magis’ yang lebih, yang lebih bermakna, yang lebih melayani.” tegasnya

Perwakilan Guru Strada:
“Dukungan ASJI terhadap studi lanjut sungguh nyata. Banyak di antara kami yang bisa menempuh S2 bahkan S3 berkat dorongan ini. Kami merasa dihargai bukan hanya sebagai pengajar, tetapi sebagai pribadi yang terus bertumbuh.”

Pengurus ASJI, Edi Danggur:
“Kehadiran ASJI adalah jembatan antara tradisi Jesuit dan kebutuhan pendidikan modern. Kita ingin memastikan bahwa setiap sekolah anggota, baik milik SJ maupun kerabat, tetap menjadi rumah pembentukan manusia yang utuh—cerdas, berbelarasa, dan siap melayani.” pungkasnya.

Penutup
Rapim ASJI 2025 di Tawangmangu bukan hanya pertemuan tahunan. Ia adalah perjalanan spiritual dan intelektual untuk memastikan bahwa pendidikan Jesuit di Indonesia tetap relevan, maju, dan berakar pada nilai-nilai Injil.

Kabut Tawangmangu mungkin akan hilang ketika matahari pagi menembus pepohonan, tetapi semangat magis yang dinyalakan di sana akan terus hidup, menuntun langkah ASJI menuju masa depan pendidikan yang lebih terang.

Seperti ditegaskan oleh Romo Johanes Sudrijanta, SJ (Rektor Kolese Le Cooq d’Armandville, Nabire), Romo Emanuel Baskoro, SJ (Rektor Kolese Gonzaga, Jakarta), dan Edi Danggur (Anggota Dewan Pengurus ASJI,

Rapim ini adalah komitmen bersama untuk menyalakan api magis pendidikan Jesuit di Indonesia. ( WG )

error: Konten dilindungi!