Oleh: Ferdy Robin Dana.
RUTENG, RANAKANEWS.com – Setiap daerah memiliki kisah tentang asal-usulnya. Namun, hanya sedikit yang mampu terus melahirkan tokoh lintas zaman, dari manusia purba hingga pemimpin bangsa. Manggarai adalah salah satunya.
Pada 19–25 Juli 2026, ratusan kader Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) dari seluruh Indonesia berkumpul di Ruteng dalam Kongres XXXIV dan Majelis Permusyawaratan Anggota (MPA) XXXIII.
Bagi banyak orang, ini adalah agenda organisasi. Namun, bagi kader-kader PMKRI, Ruteng adalah tempat pulang—bukan sekadar ke lokasi kongres, melainkan ke sebuah tanah yang telah melahirkan begitu banyak pemimpin nasional.
Manggarai bukan hanya sebuah wilayah di Pulau Flores. Ia adalah ruang sejarah yang panjang. Dari perut bumi Liang Bua lahir penemuan manusia purba Homo floresiensis yang mengubah peta ilmu pengetahuan dunia.
Dari bentang alamnya hidup komodo, satwa purba yang menjadi ikon Indonesia di mata internasional. Dan dari masyarakatnya lahir tokoh-tokoh yang memberi warna dalam politik, birokrasi, pendidikan, media, hingga kehidupan gereja.
Di sinilah sejarah dan masa depan seolah bertemu.
Dari Liang Bua Menuju Indonesia
Jauh sebelum nama Manggarai dikenal melalui sektor pariwisata, kawasan ini telah menarik perhatian dunia lewat penemuan fosil Homo floresiensis di Liang Bua. Penemuan itu menjadi salah satu temuan arkeologi paling penting abad ke-21.
Sementara di bagian barat Flores, komodo menjadi simbol ketangguhan alam Indonesia yang hanya ditemukan di kawasan ini.
Dua ikon tersebut seakan menjadi metafora tentang Manggarai: tanah yang menyimpan sesuatu yang langka dan bernilai bagi dunia.
Di bidang sumber daya manusia, Manggarai pun memperlihatkan kisah serupa. Banyak putra-putrinya tumbuh menjadi tokoh nasional melalui proses panjang pendidikan, organisasi, dan pengabdian. Salah satu ruang pembentuk karakter yang paling menonjol adalah PMKRI.
PMKRI, Sekolah Kepemimpinan
Sejak berdiri, PMKRI telah menjadi tempat lahirnya banyak pemimpin Indonesia. Di Manggarai, organisasi ini tidak hanya hadir sebagai wadah mahasiswa Katolik, tetapi juga menjadi ruang pembentukan karakter, tradisi berpikir kritis, dan keberanian menyampaikan gagasan.
Diskusi hingga larut malam, kaderisasi yang ketat, latihan kepemimpinan, hingga keberanian menyuarakan kepentingan masyarakat menjadi bagian dari perjalanan para kader.
Dari ruang-ruang sederhana itulah lahir sejumlah tokoh yang kemudian memberi pengaruh besar bagi bangsa.
Putra-putri Manggarai yang Menorehkan Sejarah
Nama pertama yang hampir selalu disebut adalah dr. Ben Mboi, dokter militer, negarawan, sekaligus Gubernur Nusa Tenggara Timur dua periode. Kepemimpinannya dikenang karena keberpihakan kepada pelayanan kesehatan masyarakat hingga pelosok desa.
Semangat pengabdiannya banyak dikaitkan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang ditempa selama aktif di PMKRI.
Dalam sejarah gerakan mahasiswa Indonesia, terdapat pula nama Saverinus Suardi, salah seorang tokoh yang dikenal sebagai penggagas Tritura tahun 1966—tiga tuntutan rakyat yang menjadi momentum penting perubahan politik nasional.
Manggarai juga melahirkan Rofinus Lahur, salah seorang pendiri Centre for Strategic and International Studies (CSIS), lembaga kajian yang selama puluhan tahun memberi kontribusi dalam perumusan kebijakan nasional.
Di dunia pers, nama Don Bosco Salamun dikenal sebagai salah satu tokoh yang membangun tradisi jurnalisme profesional. Kiprahnya menunjukkan bahwa kekuatan tulisan mampu menjadi alat perubahan sosial.
Generasi berikutnya terus bermunculan.
Ada Beny Kabur Harman, politisi dan pengacara yang dikenal vokal di parlemen. Ada Sebast Salang, peneliti senior Formappi yang konsisten mengawal kinerja DPR melalui riset dan data. Ada pula Ansy Lema, politisi nasional yang pernah mewakili NTT di DPR RI.
Di bidang pemerintahan daerah, nama Christ Rotok, Deno Kamelus, dan menjadi bagian dari perjalanan kepemimpinan di Manggarai Raya.
Dunia akademik mengenal sosok Prof. Alo Entah, sementara bidang pendidikan, gereja, dan pelayanan masyarakat turut diwarnai kiprah tokoh seperti Endi Jaweng Eduardus Bo, Paul Baut, dan Nobert Nomen.
Masih banyak nama lain yang tak mungkin disebut satu per satu. Mereka datang dari latar belakang profesi yang berbeda, tetapi memiliki satu titik temu: dibesarkan oleh budaya Manggarai dan ditempa dalam tradisi intelektual PMKRI.
Mengapa Manggarai?
Pertanyaan itu kerap muncul.
Mengapa daerah di ujung timur Indonesia ini mampu melahirkan begitu banyak tokoh?
Jawabannya tidak sederhana.
Bentang alam Manggarai yang berbukit dan menantang membentuk karakter masyarakat yang tangguh. Perjuangan menempuh pendidikan bukanlah sesuatu yang mudah. Banyak anak harus berjalan jauh setiap hari hanya untuk sampai ke sekolah.
Di sisi lain, budaya Manggarai memiliki tradisi dialog yang kuat. Dalam kehidupan adat, musyawarah selalu menjadi jalan utama menyelesaikan persoalan. Tradisi lonto leok dan pertemuan di mbaru gendang membiasakan masyarakat berpikir bersama, mendengar, sekaligus menyampaikan pendapat dengan argumentasi.
Nilai itu kemudian bertemu dengan tradisi pendidikan yang dibangun Gereja Katolik melalui sekolah-sekolah misi. Pendidikan tidak hanya membuka akses terhadap ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk kesadaran sosial dan kepedulian terhadap sesama.
PMKRI hadir sebagai jembatan antara iman, intelektualitas, dan pengabdian.
Ruteng Kembali Menjadi Panggung Sejarah
Dipilihnya Ruteng sebagai tuan rumah Kongres XXXIV dan MPA XXXIII PMKRI bukan sekadar soal lokasi penyelenggaraan. Bagi banyak kader, keputusan itu merupakan pengakuan bahwa pusat-pusat pemikiran Indonesia tidak hanya berada di kota-kota besar di Pulau Jawa.
Ketua PMKRI Cabang Ruteng, Margareta Kartika, menyebut kepercayaan menjadi tuan rumah sebagai sebuah kehormatan sekaligus tanggung jawab besar.
Ruteng diharapkan kembali melahirkan gagasan-gagasan baru untuk menjawab tantangan zaman, mulai dari disrupsi digital, krisis demokrasi, hingga menguatnya penyebaran informasi palsu yang mengancam ruang publik.
Rahim yang Terus Melahirkan
Sejarah Manggarai tidak berhenti pada nama-nama besar masa lalu.
Setiap generasi memiliki tantangannya sendiri. Jika generasi Ben Mboi berjuang membangun pelayanan publik, jika generasi Saverinus Suardi bergerak dalam arus perubahan politik nasional, maka generasi hari ini menghadapi tantangan menjaga demokrasi, memperkuat literasi digital, serta merawat persatuan di tengah derasnya arus informasi.
Kongres PMKRI di Ruteng menjadi pengingat bahwa sejarah bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga diteruskan.
Manggarai telah berkali-kali membuktikan dirinya sebagai tanah yang melahirkan pemikir, pemimpin, dan pelayan masyarakat.
Dari Liang Bua hingga Senayan, dari kampung-kampung di kaki gunung hingga ruang-ruang pengambilan keputusan nasional, jejak itu masih terus berlanjut.
Selama budaya berpikir, berdialog, dan mengabdi tetap hidup, Manggarai akan terus menjadi rahim yang melahirkan sejarah.
Pro Ecclesia et Patria.
Penulis: alumni PMKRI Malang tinggal di Jakarta
