WAIKABUBAK, RANAKANEWS.com– Sekretaris Daerah Kabupaten Sumba Barat Yermia Ndapa Doda,S.Sos membuka dengan resmi kegiatan sosialisasi dan pembentukan desa tangguh bencana Rabu (02/11/2022) di Lobi Kantor BPBD Sumba Barat
Turut hadir Sekda Sumba Barat Yermia Ndapa Doda,S.Sos,Pimpinan OPD,Para Camat,Para Kepala Desa,tokoh masyarakat,para narasumber.
Sementara itu,Bupati Sumba Barat Yohanis Dade dalam sambutannya yang dibacakan oleh Sekretaris Daerah Yermia Ndapa Doda,S.Sos menyampaikan bahwa Kabupaten Sumba Barat merupakan salah satu daerah yang rawan terhadap bencana, baik Bencana yang diakibatkan oleh alam seperti: gempa bumi, banjir, gelombang tsunami, tanah longsor dan sebagainya. Ada juga bencana yang disebabkan oleh perbuatan manusia, seperti: peperangan, gejolak sosial, kebakaran, kecelakaan industri yang waktunya dapat berlangsung singkat tetapi juga dapat berlangsung dalam waktu yang panjang dan menyebabkan korban jiwa dan material.
Oleh karenanya,untuk mengantisipasi kejadian Bencana di Kabupaten Sumba Barat, diperlukan langkah antisipasi sedini mungkin dengan membangun sinergi, kolaborasi serta akselerasi semua pihak. Karena untuk pencegahan dan penanggulangan bencana, harus dilakukan secara holistic integratif, tidak bisa dilakukan secara sendiri-sendiri atau Parsial.
Untuk itu, desa dan kelurahan dengan berbagai komunitas yang ada diwilayahnya, saya berharap dapat lebih proaktif dalam melakukan tahapan-tahapan pengurangan resiko terjadinya bencana tersebut. Mulai dari pembentukan forum pengurangan resiko bencana, rekrutmen dan mengorganisir para relawan untuk bersama-sama membuat perencanaan penanggulangan bencana, melaksanakan kegiatan pelatihan dan simulasi, sosialisasi, serta kegiatan lainnya.
Kepala Pelaksana BPBD Sumba Barat
Antonius S.Kabba,S.STP mengatakan bahwa Mengatakan pembentukan Desa/Kelurahan yang Tangguh Bencana adalah Desa/Kelurahan yang memiliki kemampuan mandiri untuk beradaptasi dalam menghadapi ancaman bencana, serta dapat memulihkan diri/melenting balik dengan segera dari dampak bencana yang merugikan, sehingga daerah yang terkena dapat kembali bahkan lebih baik dari semula.
Antonius juga menyampaikan bahwa Desa/Kelurahan Tangguh Bencana harus memiliki kemampuan untuk mengenali ancaman di wilayahnya dan mampu mengorganisir sumber daya masyarakat untuk mengurangi kerentanan dan sekaligus untuk meningkatkan kapasitas demi mengurangi risiko bencana. (YB/TD)












