Setahun Erupsi Lewotobi, Dari Abu Pagi 23 Desember 2023, dan Kembang Natal 2024 Yang Hilang

Kondisi SMPK Santissima Trinitas Hokeng yang diguyur hujan abu vulkanis Gunung Api Lewotobi Laki-laki saat erupsi pertama Sabtu 23 Desember 2023 pukul 07.45 WITA: Foto (OLA/Ranakanews com)

LARANTUKA,RANAKANEWS.com-
Erupsi panjang Gunung Api Lewotobi Laki-laki sejak Sabtu, 23 Desember 2023 pukul 07.45 WITA, yang menebar abu vulkanis, hingga letusan dahsyat Minggu 23 November 2024 pukul 24.00 WITA, yang memuntahkan batu api pijar mematikan, hingga merenggut korban jiwa, membuat warga harus lari berhamburan menerobos pekatnya malam menyelamatkan diri serta memaksa desa zona merah direlokasi, telah menulis lembaran sejarah barunya, yang terus hidup bagi generasi hari ini, hingga kembang Natal 2024 yang hilang.

Bahkan peristiwa alam ini telah menarik perhatian dunia dan membuat banyak pihak, termasuk para ahli Vulkanologi dan Geologi untuk terus mencari tahu apa penyebabnya, sehingga erupsi ini belum juga berakhir.

Berbagai bantuan kemanusiaan pun telah mengalir datang membantu para korban erupsi.

Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuming Raka, didampingi Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto dan disusul Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo pun langsung turun tangan mengunjungi dan membantu warga terdampak.

Sementara, Badan Nasional Penanggulangan Bencana Republik Indonesia, bersama Kementerian terkait seperti Kementerian Perumahan Rakyat, Kementerian Sosial, dan sejumlah Kementerian lainnya, TNI-POLRI kini kebut membangun Hunian Sementara, biar warga penyintas yang kehilangan rumah bisa menempatinya, sambil menunggu Pemerintah menyelesaikan hunian tetap.

Suka atau tidak suka, dampak letusan Gunung Api Lewotobi Laki-laki, sekejap telah merubah banyak wajah kehidupan bagi warga yang mendiami bumi di sekelilingnya.

Biasanya Tembang lagu Natal dan Tahun Baru, hingga Kembang lampu hias yang ramai meriah di sekeliling Kaki Gunung Lewotobi, kini sirna lenyap ditelan bumi.

Yang tersisa adalah jalan-jalan sunyi senyap, gelap gulita di sepanjang Dulipali, Goloriang Klatanlo, Hokengjaya, Padang Pasir, Podor hingga Nawakote, terus ke Boru Klobong.

Kompleks SMPK Santissima Trinitas Hokeng, Seminari Menengah San Dominggo Hokeng hingga Gereja Hokeng yang biasanya ramai dengan nyala lampu kelap kelip Natal Tahun Baru yang indah, kini sudah tidak ada lagi.

Gema latihan koor yang biasanya terdengar untuk memeriahkan perayaan Misa Natal Tahun Baru, pun lenyap seketika.

Sungguh, nestapa panjang erupsi Gunung ‘kembar’ Se Dunia ini teramat dahsyat, ditengah hari-hari Tuhan datang kembali.

Paling tragis ialah, SMPK Santissima Trinitas Hokeng dibuat porak poranda hingga merenggut nyawa Pimpinannya Suster Nikolin,SSpS.

Dan, memaksa sekolah yang telah mencetak sangat banyak generasi unggul ini harus ‘angkat kaki’ selamanya.

Demikian pula dengan Seminari Menengah San Dominggo Hokeng, pun harus pusing tujuh keliling, apakah tetap bertahan hidup dengan kondisi sekolah yang rusak parah, atau harus juga ‘angkat kaki’ pindah ke tempat lainnya.

Sulit memang membayangkan, erupsi panjang yang dimulai Sabtu 23 Desember 2023 pagi, ternyata membawa petaka besar hampir setahun kemudian, yang membuat ‘jarum Jam kehidupan’ banyak warga Kecamatan Wulanggitang dan Ile Bura, berputar kembali dan berbalik arah ke titik minus.

Dan, harus memulai baru lagi anak tangga kehidupannya dari titik nol.

Desa Dulipali Kecamatan Ile Bura, kemudian Desa Klatanlo, Hokengjaya dan Nawakote Kecamatan Wulanggitang, menjadi wilayah terdampak paling parah, yang dulu terkenal hijau serta kaya hasil alam, dan punya daya tarik karena rasa aman ditempati, kini hangus dan bahkan jadi tempat yang dilarang tidak boleh dihuni.

Apa yang terjadi selepas Natal 25 Desember 2024 dan Tahun Baru 1 Januari 2025, belum ada yang tahu.

Namun, semoga nestapa dahsyat ini akan berakhir. Natal 25 Desember 2024 ini membawa kelahiran baru, terang damai baru, menuju kebahagiaan baru di tahun yang baru 2025.

Gunung Lewotobi kembali ‘tersenyum’ menyembuhkan dirinya dan memberikan kehidupan baru yang damai serta bahagia baru anak cucunya.

Semua orang akan lekas kembali ke rumahnya, hidup baru dengan senyum tawa, tanpa ada rasa takut lagi.

Malam-malam yang mencemaskan karena gemuruh dashyat dan lontaran batu pijar di langit turun hujan pasir, berubah menjadi hujan kesuburan membawa berkah para petani dan nelayan yang ke laut menangkap ikan.

Pasar Boru pun boleh pulih aktivitasnya, dan orang boleh duduk makan tenang di warung Bakso. (OLA)

error: Konten dilindungi!
Exit mobile version