KUPANG, RANAKANEWS.com- Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 3 Komodo dengan alamat di jalan Trans Flores Labuan Bajo, Desa Golo Bilas, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) memilki 3 (tiga) kompetensi keahlian, diantaranya yaitu wisata bahari dan eko wisata serta seni tari dan karya tekstil dengan konsentrasi pada tenun ikat.
Sekolah tersebut siap mendidik dan membimbing siswa-siswinya menjadi tenaga kerja yang kompetetitif.
Demikian disampaikan Kepala SMKN 3 Komodo, Hortensia Herina, S.Pd kepada wartawan RANAKANEWS.com di Kupang pada Rabu (15/6/2022).
“Kompetensi keahlian yang ada di SMKN 3 Komodo Labuan Bajo ada tiga yaitu wisata bahari dan eko wisata, seni tari dan karya tekstil dalam hal ini kami konsentrasinya di tenun ikat. Tetapi di tahun pertama ini yang sudah aktif dan banyak peminatnya itu adalah wisata bahari dan eko wisata juga seni tari. Sedangkan untuk karya tenun- tenun ikat ini belum ada peminat tetapi ini menjadi mata pelajaran wajib yang harus dikuasai oleh anak yakni menenun. Jadi kami terapkan itu,” beber Mantan Kepala SMKN 1 Lembor Selatan itu.
Menurutnya, masyarakat sangat senang dengan hadirnya jurusan seni tari di SMKN 3 Komodo Labuan Bajo dan jurusan tersebut merupakan yang pertama untuk NTT. Kemudian wisata bahari, merupakan yang pertama untuk daratan Flores. Peserta didik juga datang dari berbagai daerah di Flores dan bahkan dari luar Flores. Bukan hanya dari Manggarai Barat tapi dari Manggarai, Manggarai Timur (Matim), Bajawa dan bahkan dari Alor. Untuk seni tari, ada beberapa Jenis tari yaitu seperti tarian tiba meka, wela rana dan lain lain.
“Sedangkan untuk wisata baharinya, outputnya itu, kelebihan dari wisata bahari eko wisata itu dia bisa bekerja di darat dan bekerja di laut. Selama satu bulan kemarin kami turunkan anak anak itu untuk praktek kerja lapangan (Prakerin). Sasaran Prakerinnya itu di desa wisata dengan hotel dan agen- agen travel dan dinas-dinas terkait. Kelebihannya, mereka bisa bekerja di hotel di darat juga kapal pesiar yang nota bene dalam kapal pesiar itu ada akomodasi juga,” ungkapnya.
Hortensia Herina menjelaskan, dirinya ingin memperkenalkan bahwa di Labuan Bajo ada SMK baru yang memiliki jurusan/bidang pariwisata terutama wisata hahari dan eko wisata serta seni tari.
“Selama berjalan satu tahun ini, karena kami banyak menampilkan karya karya yang dihasilkan oleh SMKN 3 bekerjasama dengan sanggar-sanggar yang menurut kami sudah bisa dijadikan tempat belajar, cara berpikir orang tentang apa sih pentingnya sekolah menari itu sudah mulai terbuka,” tandasnya.
“Selain kami mengajarkan khusus terkait kompetensi keahlian, ada banyak kegiatan ekstrakuler yang kami buat di SMKN 3 Komodo terutama yang pertama, dibidang literasi. Kami komunitas literasi namanya ekosentris karena kami belajar tentang eko wisata. Hal yang kecil saja seperti mendaur sampah, dan sebagainya. Juga kegiatan pramuka,” ungkapnya lagi.
Terkait dengan jumlah rombongan belajar (rombel), lanjut Hortensia, sekolah yang dipimpinnya itu ada 9 (sembilan) rombel; delapan rombel untuk wisata bahari dan satu untuk seni tari. Ditahun pertama, banyak siswa dengan kompetensi keahlian wisata bahari eko wisata. Jumlah siswanya sekitar seratus lebih anak.
“Saya ambil rombel yang paling sedikit ya seni tari. Untuk saat ini angkatan pertama 21 orang. Tetapi selama berjalan satu tahun ini karena kami banyak menampilkan karya karya yang dihasilkan oleh SMKN 3 bekerjasama dengan sanggar-sanggar yang menurut kami sudah bisa dijadikan tempat belajar, dengan begitu cara berpikir orang tentang apa sih pentingnya sekolah menari itu sudah mulai terbuka,” bebernya Herlina.
Terkait proses pembelajaran di SMKN 3 Komodo, Hortensia Herina menjelaskan bahwa selama masa pandemi ini, pihaknya menggunakan sistim shift yakni harian. “Jadi selang-seling. Senin, Selasa, Senin, Selasa sampai hari Sabtu. Kenapa 6 (enam) hari dikarenakan ruang kelas yang tersedia itu belum cukup sehingga kami menggunakan pola shift hari,” imbuh Ketua MKKS SMK Labuan Bajo itu.
SMKN 3 Labuan Bajo, kata Hortensia Herina, memiliki 36 orang guru dan dari jumlah tersebut ada satu guru kontrak. Ada 4 (empat) Satpam termasuk cleaning service. Hanya dirinya satu satunya Guru PNS sekaligus selaku kepala sekolah. “Jadi, Guru Tidak Tetap (GTT) sebanyak 35 orang. Dengan jumlah siswa untuk angkatan pertama 287 siswa,” bebernya.
Selain itu, lanjutnya, ada senumlah fasilitas lain yang tersedia, yaitu ruang praktek, komputer untuk penunjang belajar, LCD, peralatan tari untuk seni tari serta perpustakaan. “Kami juga sudah lengkapi tenaga pendidik yang kompeten sesuai bidangnya masing-masing,” tegasnya.
Ia juga menambahkan, pada prinsipnya SMKN 3 Komodo melakukan apa yang sekolah lain tidak lakukan. ” Kami berani membuatnya walaupun kami sekolah baru. Intinya kami punya keberanian, yang orang tidak buat kami coba buat. Kadang orang tidak mau berbuat karena kendala di uang. Bagi saya, kita berbuat dulu, orang akan lihat kita dan memberi bantuan. Jadi tanpa harus ada dana dulu baru kita buat segala sesuatu,” ujarnya bangga.
Ia juga mengaku bangga, semua guru-gurunya inovatif dan kreatif serta masih fresh. “Saya lebih banyak mendengarkan mereka. Intinya ketika ide yang berikan itu bertujuan untuk membangun SMKN 3 Komodo, saya pasti terima dengan baik,” ujarnya lagi.
Hortensia Herina pun berharap adanya dukungan pemerintah untuk menambah ruang kelas baru. Kemudian fasilitas lain penunjang jurusan seni tari dan wisata bahari sehingga 2 kompetensi keahlian tersebut berjalan dengan baik,” pungkasnya. (TD).












