Panorama Gunung Ranaka di Manggarai, NTT ( foto: ist )
Oleh: Willy Grasias –
Gunung Ranaka bukan sekadar puncak tertinggi di Manggarai. Ia adalah simbol keteguhan, kesederhanaan, dan spiritualitas yang hidup dalam denyut masyarakat.
Berikut ada tiga puisi, permenungan penulis tentang Ranaka selaras dengan media ini. Dalam trilogi puisi ini, Ranaka hadir sebagai sahabat jiwa, penuntun arah, dan penjaga harapan.
“Ranaka Menyapa Fajar”, kita diajak untuk menerima hidup apa adanya—dengan syukur dan kesadaran.
“Ranaka Menyapa Jiwa” mengajak kita berdamai dengan luka dan menemukan kekuatan dalam kelembutan. Dan
“Ranaka dan Langkah Pagi” menjadi peneguhan bahwa setiap langkah kecil, bila dijalani dengan iman, akan sampai pada tujuan.
Trilogi ini bukan hanya puisi. Ia adalah doa, adalah cermin, adalah ajakan untuk kembali melihat ke dalam—dengan Ranaka sebagai latar dan saksi.
Ranaka Menyapa Fajar
Pagi belum sempurna,
tapi Ranaka sudah bicara.
Lewat embun yang jatuh pelan,
ia menyapa jiwa yang masih bertanya.
“Bangunlah,” katanya tanpa suara,
“hari ini adalah anugerah baru.”
Langit belum biru,
tapi harapan sudah tumbuh di lerengmu.
Burung-burung tak menunggu aba-aba,
mereka tahu: hidup adalah gerak.
Seperti Ranaka yang tak pernah sombong,
meski berdiri paling tinggi di Manggarai.
Ia tidak memaksa,
hanya mengingatkan dengan lembut:
bahwa wajar itu cukup,
dan cukup itu indah.
Ranaka Menyapa Jiwa
Ia tidak datang dengan gemuruh,
Ranaka hadir dalam diam yang dalam.
Menyapa jiwa yang lelah berjalan,
dengan pelukan kabut dan bisikan angin.
“Tenanglah,” katanya tanpa kata,
“jiwa yang gelisah tak butuh jawaban,
hanya ruang untuk bernapas,
dan waktu untuk percaya.”
Di tubuhnya yang kokoh,
Ranaka menyimpan luka dan doa.
Luka dari tanah yang pernah retak,
doa dari manusia yang tak pernah menyerah.
Ia tidak menuntut,
hanya mengajak:
menjadi wajar,
menjadi cukup,
menjadi utuh dalam ketidaksempurnaan.
Ranaka tahu,
bahwa jiwa yang kuat bukan yang tak pernah jatuh,
melainkan yang tahu cara bangkit,
dengan pelan, dengan iman, dengan harapan.
Ranaka dan Langkah Pagi
Mentari belum tinggi,
tapi langkah sudah dimulai.
Ranaka berdiri tenang,
menjadi saksi bagi setiap niat yang tumbuh.
Di bawah bayangnya,
petani menyiapkan cangkul,
anak-anak menata mimpi,
dan jiwa-jiwa kecil belajar percaya.
Langkah pagi bukan tentang cepat,
tapi tentang arah.
Bukan tentang siapa duluan,
tapi siapa yang bertahan.
Ranaka tak pernah berlari,
tapi ia selalu sampai.
Karena ia tahu:
keteguhan lebih penting dari kecepatan.
Maka kami melangkah,
dengan doa di dada,
dengan harapan di mata,
dan dengan Ranaka di belakang kami—
sebagai penyangga, penjaga, dan penuntun.
Refleksi Penutup
Dalam setiap bait, Ranaka bukan hanya gunung. ia adalah guru. Ia mengajarkan kita tentang kesabaran, tentang menerima, tentang melangkah dengan keyakinan. Ia hadir dalam kehidupan masyarakat Manggarai sebagai simbol kekuatan yang tidak memaksa, tetapi menginspirasi.
Sebagaimana disampaikan dalam tutur Rendong Mata Leso, tokoh mitos cikal bakal klan Kuleng masa silam;
“Ranaka itu bukan hanya tempat. Ia adalah arah. Kalau kita lupa arah, kita naik ke sana, dan kita ingat lagi siapa kita.” ajaknya
Semoga trilogi ini menjadi pengingat bahwa dalam kesederhanaan, ada kekuatan. Dalam kabut, ada terang. Dan dalam langkah kecil, ada perjalanan besar.
Penulis adalah mantan ASN, seorang jurnalis, tinggal di Ruteng.
