Tabana Desak Pantai Oa Jangan Main-Main dan Segera Penuhi Janji Adat

LARANTUKA, RANAKANEWS.com – Masyarakat Adat Tabana (MAT) Desa Waiula Kecamatan Wulanggitang, kembali memberi pesan serius dan tegas kepada Pemerintah serta masyarakat Desa Pantai Oa agar segera memenuhi kewajiban adat kepada Masyarakat Adat Tabana, setelah dua kali tak memenuhi undangan resmi menyelesaikan urusan adat kedua belah pihak, terkait proyek air bersih di Mata Air Ongan Bele.

Apalagi kesepakatan penyelesaian secara adat telah ditandatangani melalui berita acara, Selasa, 24 Januari 2023 di Kantor Camat Wulanggitang. Dan, juga kembali ditegaskan dengan pembacaan tuntutan adat dari MAT Desa Waiula di Balai Dusun Tabana, Selasa, 14/02/2023, dihadapan Pejabat Pemda Flotim yang dipimpin Asisten I Setda Flotim, Drs. Abdul Razak Jakra, M.Si. Demikian penegasan Koordinator Masyarakat Adat Tabana, Antonius Dopi Liwu, SH kepada Media, Jumat (31/03/2023).

“Terus-terang, kami sangat kecewa dengan sikap masa bodoh Pemdes bersama masyarakat Desa Pantai Oa terhadap hasil kesepakatan berita acara di Kantor Camat Wulanggitang, Selasa (24/01/2023) bahwa penyelesaian secara adat antara Tabana dan Pantai Oa tetap berjalan.

Juga proyek pembangunan air bersih ke Pantai Oa, tetap berjalan. Ada apa ini sebenarnya dengan sikap Pemdes dan masyarakat Desa Pantai Oa. Kami akan berikan somasi kedua dalam waktu dekat untuk pertegas sikap MAT. Bahwa Kami tidak akan main-main lagi dan menempuh langkah yang lebih tegas,” pungkas Dopi Liwu, saat ditemui tim media di kediamannya Tabana, Jumat (31/03/2023) Siang.

Dikatakannya, sikap masa bodoh Pantai Oa ini telah memicu kemarahan Masyarakat Adat Tabana. Pada bagian lainnya, Tokoh Muda Tabana ini juga menjelaskan, pihaknya telah melanjutkan penghijauan di lokasi Mata Air Ongan Bele, Jumat, 24/03/2023, dan ditanami lagi Jumat, 31/03/2023, Pagi.

Tak kurang dari 200-an warga Tabana yang turun menggelar aksi penghijauan. Sejumlah tokoh adat Tabana yang ikut dalam kegiatan ini antara lain: Gerardus Gledu Liwu, Dominikus Doni Werang, Aloysius Tao Boruk, Paulus Sere Liwu, dan Benediktus Ditu Tobi.

Selain Mata Air Ongan Bele, pihaknya, sebut Dopi Liwu, menanam pohon pada ruas jalan yang digusur dan dibuka, hingga ke Bukit Bolan.

“Ini kami lakukan untuk beritahu bahwa tidak ada jalan lagi ke Mata Air Ongan Bele, karena berpotensi bencana longsor kedepan. Dan, bisa menimbulkan bencana yang lebih buruk,” tohoknya, keras.

Hal yang sama diungkapkan Laurensius Lau Tobi, salah satu tokoh muda Tabana, yang komit tuntaskan tuntutan adat ke Pantai Oa secepatnya. Dirinya pun ikut geram lantaran Pantai Oa tak pernah merespon cepat.

“Padahal, urusan adat ini telah melibatkan banyak pihak MAT, terutama orang tua adat Tabana. Sementara kegiatan penanaman pohon, setelah pekan kemarin, kini dilanjutkan kembali dengan berbagai jenis kayu yang sama. Ia juga wanti-wanti Pantai Oa agar jangan salahkah Masyarakat Adat Tabana kalau sampai terjadi hal yang lebih buruk nanti,” tukasnya, tegas.

Pantauan Media, usai lakukan penghijauan kedua, MAT yang berjumlah puluhan anak muda bergegas balik ke Kampung Tabana. Meski tersenyum namun masih terlihat marah dan emosional dengan ulah Pantai Oa, yang acuh tak acuh dalam urusan adat tersebut.

“Kok, maunya ambil air saja kah Pantai Oa, tapi tak mau bertanggung jawab adatnya. Ini aneh sekali Pantai Oa. Sudah gusur hutan dan tebang kayu tapi tidak buat penghijauan lagi,”semprot warga lainya, yang enggan ditulis namanya.

Sementara pihak Pantai Oa belum bisa dikonfirmasi terkait sikap mereka bagi tuntutan adat dari Tabana. (OLA)

error: Konten dilindungi!
Exit mobile version