RD Lois Jawa, bersama tokoh adat saat prosesi pembukaan turnamen ( Foto: Komsos Paroki Ngkor)
RUTENG, RANAKANEWS.com – Di balik gelindingnya bola dan sorak penonton, Turnamen Amal I Paroki St. Wilhelmus Ngkor yang berlangsung 8 Mei – 14 Juni 2026 menyimpan kisah iman dan persaudaraan.
Bukan sekadar kompetisi, melainkan sebuah perayaan hidup bersama di Paroki yang dipimpin oleh Pastor Paroki RD Lois Jawa.
Dalam sambutan singkat saat pembukaan, RD Lois Jawa menekankan bahwa olahraga adalah jalan sederhana untuk membangun damai.
“Lapangan ini bukan hanya tempat bertanding, tetapi altar persaudaraan. Di sini kita belajar saling menghargai, saling menopang, dan saling mengasihi,” ungkapnya.
Kata-kata itu menjadi roh yang menghidupi seluruh rangkaian turnamen.
Setiap sore, lapangan Bola Sepak Ngkor berubah menjadi ruang keluarga besar.
Anak-anak berlari sambil menirukan gaya pemain idola, ibu-ibu menyiapkan makanan ringan, sementara para bapak duduk berkelompok memberi semangat.
Kehadiran RD Lois Jawa di tengah umat, menyapa satu per satu, membuat suasana semakin hangat.
“Pastor hadir bukan hanya sebagai pemimpin, tetapi sebagai sahabat,” kata seorang warga.
Klub Babe keluar sebagai juara, namun RD Lois Jawa menegaskan bahwa kemenangan sejati adalah ketika semua klub bisa bermain dengan damai.
“Juara bukan hanya yang membawa piala, tetapi mereka yang membawa pulang persaudaraan,” ujarnya.
Dana amal sebesar Rp53.675.300 yang terkumpul dari sponsor utama Bp. Editasius Endi, kontribusi klub, dan sumbangan perorangan, disambut RD Lois Jawa sebagai tanda kasih umat.
Dana itu akan dipakai untuk fundasi dapur, perlengkapan gereja, dan rumah pastoran.
“Setiap rupiah adalah doa, setiap sumbangan adalah tanda cinta,” katanya penuh haru.
Bagi umat, kehadiran RD Lois Jawa sepanjang turnamen menjadi simbol bahwa Gereja hadir di tengah kehidupan sehari-hari, bahkan di lapangan bola.
Turnamen Amal I Paroki St. Wilhelmus Ngkor bukan hanya catatan olahraga, melainkan kisah iman yang hidup.
Di bawah bimbingan RD Lois Jawa, masyarakat Lao Ngkor menegaskan jati diri mereka sebagai umat yang damai, penuh kasih, dan siap bergotong royong.
Lapangan bola menjadi saksi bahwa persaudaraan bisa tumbuh dari hal sederhana, dan amal bisa lahir dari semangat kebersamaan. (WG)












