Waikula & TPI Nurabelen, Kaki Gunung Lewotobi Kini Jadi ‘Lapangan’ Ribuan Kubik Batu

Kawasan Kampung Waikula-Nurabelen sepanjang kaki Gunung Lewotobi Laki-Laki, yang kini berubah menjadi lapangan bebatuan, butuh reboisasi untuk mengembalikan fungsi hutan dan mencegah banjir pada masa yang akan datang. Selain, menjaga agar infrastruktur jalan dan jembatan sepanjang Waikula-Nurabelen masih bisa berfungsi dengan baik menunjang urat nadi perekonomian dan aktivitas pemerintahan, pelayanan kesehatan dan juga sosial kemasyarakatan lainnya.

Kondisi jalan dan plat deker TPI Nurabelen yang rusak parah diterjang banjir lahar dingin Gunung Lewotobi Laki-Laki dan Perempuan Selasa 3 Maret 2026. Demikian pula di Waikula yang sudah jadi meluas seperti lapangan batu: Foto (OLA/Ranakanews.com)
Kondisi jalan dan plat deker TPI Nurabelen yang rusak parah dan tak bisa dilalui mobil. Akibat diterjang banjir lahar dingin Gunung Lewotobi Laki-Laki dan Perempuan Selasa 3 Maret 2026, hingga Rabu 4 Maret 2026 sore masih belum diperbaiki: Foto (OLA/Ranakanews.com)

LARANTUKA,RANAKANEWS.com-Dampak banjir lahar dingin Gunung Lewotobi Laki-Laki yang terus mengalir dari puncak ke arah Kampung Waikula Desa Nurabelen Kecamatan Ile Bura sejak beberapa bulan terakhir, yang membawa ribuan kubik batu, kini kian membentang luas dan terbuka seperti sebuah lapangan sepak bola.

Kawasan perkampungan Waikula hingga ke kaki gunung Lewotobi Laki-Laki, yang dulu dipenuhi pepohonan hijau yang tak terlihat mata, pun mulai terbuka dan berubah jadi tumpukan hamparan batu pasir, yang membentang luas beberapa kali lipat lapangan bola kaki.

Demikian pula dengan badan jalan trans Waikula-Nurabelen sepanjang lebih dari 200 meter, juga hilang tak berbekas berganti tumpukan batu pasir.

Meskipun masih bisa dilintasi kendaraan baik roda dua maupun mobil, namun mesti ekstra hati-hati.

Apalagi, sedang turun hujan di kawasan puncak Gunung Lewotobi Laki-Laki.

Sebab, jarak antara badan jalan dan kaki gunung Lewotobi Laki-Laki terasa makin dekat, pasca ribuan kubik batu tersapu turun menutup areal yang dulu tertutup perpohonan hijau, kini bersih rata penuh bebatuan hingga melewati badan jalan.

Pengerahan alat berat Eksavator oleh Pemda Flotim melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk pembersihan badan jalan memang terus dilakukan hingga kini, termasuk kerja bakti bersama warga dan pemerintah desa se Ile Bura, Jajaran Puskesmas Ile Bura maupun Pegawai Kecamatan Ile Bura, yang dimotori langsung Camat Ile Bura, Antonius Kowa Kleden,S.Par beberapa pekan lalu.

Namun, tetap saja setiap kali hujan di kawasan puncak Gunung Lewotobi Laki-Laki, jalur ini kembali tertimbun tumpukan batu pasir, yang terus meluas dan menebal.

Tak kurang dari 200 meter badan jalan hotmix di areal Waikula, kini berubah wujud menjadi bentangan tebal pasir batu.

Demikian pula di areal Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Nurabelen, berupa rupa menjadi hamparan pasir tebal, dengan lubang cukup dalam, akibat gerusan banjir lahar di pinggir jalan membuka kali baru membentuk muara ke laut.

Entah sampai kapan ancaman nyata banjir lahar Gunung Lewotobi ini berakhir dan kondisi jalan dan plat deker sepanjang Waikula hingga TPI Nurabelen bisa diperbaiki untuk aman dilintasi kendaraan, belum bisa dipastikan.

Camat Ile Bura Antonius Kowa Kleden,S.Par dalam sebuah diskusi terbatas di rumah jabatan belum lama ini menyampaikan gagasannya untuk mendorong perlu dilakukan reboisasi di areal Waikula Desa Nurabelen supaya bisa mengembalikan kawasan itu menjadi hijau.

Langkah ini menurutnya sangat penting dilakukan supaya daerah ini kedepannya tidak jadi daerah rawan banjir lagi.

“Saya kira, selain urusan pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan yang telah rusak parah.

Namun, satu hal yang penting dan mendesak dilakukan adalah reboisasi.

Membuat kawasan ini menjadi hijau kembali supaya bisa mencegah banjir di masa yang akan datang.

Dalam forum diskusi bersama Pemda Flotim belum lama ini, Saya sudah usulkan agar fokus reboisasi untuk jangka pendek dengan menggerakan seluruh stakeholder di Flotim,”katanya.

Sementara untuk urusan perbaikan jalan dan jembatan yang rusak, biar menjadi tugas instansi teknis terkait,”sambungnya.

Ia berharap kolaborasi seluruh elemen masyarakat di Kecamatan Ile Bura, bersama pemerintah desa, kecamatan dan kabupaten bisa berjalan.

“Ini masih musim hujan, sehingga dalam waktu dekat Saya koordinasi dengan seluruh Kepala Desa, juga instansi lainnya seperti Puskesmas, Sekolah dan Gereja di Kecamatan Ile Bura, kegiatan reboisasi bisa dimulai.

Kita bergerak dulu, mumpung masih hujan. Tanaman apa saja bisa ditanam di kawasan sepanjang Waikula sampai Nurabelen,”tutupnya. (OLA)

error: Konten dilindungi!