Wali Kota Kupang Hadiri Event Seni dan Budaya “Bakunase Event Bangkit untuk Jaya”

Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo (Kedua) dari kiri , ketika usai membuka Event Budaya Tingkat Kelurahan Bakunase, Rabu (5/11/2025). (Dok: TD/ranakanews.com).

KUPANG, RANAKANEWS.com – Wali Kota Kupang dr. Christian Widodo menghadiri sekaligus membuka secara resmi Event Seni dan Budaya Multi Etnis NTT di lapangan umum Bakunase pada Rabu (6/11/2025) pukul 16.30 WITA.

Kegiatan ini  berlangsung sejak Rabu- Kamis (5-6/11/2025). Event Seni dan Budaya ini mengangkat tema “Bakunase Event Bangkit untuk Jaya” (BE BAJA).

Pantauan ranakanews.com, kegiatan Event Seni dan Budaya Multi Etnis NTT ini dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat yang tinggal di Kelurahan Bakunase dan sekitarnya.

Event Seni dan Budaya yang digelar ini merupakan salah satu wujud nyata visi dan misi Wali Kota Kupang dan Wakil Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo dan Serena Cosgrova Francies dalam menjaga dan merawat budaya Kota Kupang, dan NTT pada umumnya.

Wali Kota Kupang dr. Christian Widodo dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada warga Kelurahan Bakunase yang menyambut baik program festival budaya Kota Kupang ini.

“Saya berencana 2026 bisa ada anggaran lebih cukup untuk festival budaya,” ujarnya.

Wali Kota Kupang menjelaskan, Pemerintah Kota Kupang telah melakukan pengorbanan dan penghematan di berbagai bidang.

“Uang perjalanan dinas, ATK, fasilitas mobil, dan sebagainya. Kita lakukan efisiensi dan siapkan pemkot yang lebih baik ke depan,” jelasnya.

Christian mengatakan, Kelurahan Bakunase adalah miniatur wajah Kota Kupang, dan contoh bagaimana merawat.
Ia menyampaikan, Pemkot Kupang, akan mendorong terus kegiatan seperti ini. Bukan hanya untuk melestarikan budaya, tapi meningkatkan ekonomi masyarakat.

“Intinya dalam membangun sebuah kota tidak hanya gedung yang tinggi atau jalan yang bagus, tapi bagaimana dengan masyarakatnya, pendidikannya, kesehatannya,. Kalau kita bisa menghadirkan ruang-ruang kreaaai seperti ini bisa menjadi ukuran kota maju,” pungkas Wali Kota Kupang, Christian Widodo.

Ketua Panitia Ebenhaezer Hepi Un menyampaikan terima kepada seluruh pihak yang mendukung pelaksanaan event ini.

“Event Budaya ini kami memberi tema “BE BAJA kepanjangan dari Bakunase Event Bangkit untuk Jaya maksud dari tema ini adalah: Meningkatkan dan menumbuhkembangkan nilai Budaya Indonesia pada umumnya dan Budaya NTT pada khususnya, terhadap generasi muda yang mulai melupakan budayanya sendiri karena termakan oleh perkembangan globalisasi era modern.

Meningkatkan semangat masyarakat Bakunase akan pentingnya nilai luhur budaya yang ada di NTT. Dan Memangkas perbedaan suku, agama dan ras yang ada di kelurahan Bakunase pada khususnya dan Kota Kupang pada umumnya,” jelas Hepi Un.

“Event seni dan budaya ini, diharapkan dapat menjadi media untuk menjaga nilai-nilai luhur budaya, dan memangkas jarak sosial dalam mengilhami perbedaan dan keberagaman kultur di Kelurahan Bakunase,” tambahnya.

Ia menyampaikan, terdapat tiga mata lomba yang menjadi dalam event seni dan budaya tersebut, yakni tarian tradisional multi etnis NTT, solo dan fashion show. Hadiah juara satu sampai tiga akan memperoleh piala, dana pembinaan dan penghargaan.

“Sumber pembiayaan kegiatan ini berasal dari sumbangan pemerintah Kota Kupang sebesar Rp15.000.000,00 belum dipotong pajak. Setelah dipotong pajak menjadi Rp13.000.000,00. Lantaram keterbatasan anggaran panitia mengambil langkah dengan mengumpulkan sumbangan sukarela dari warga sebesar Rp8.000.000,00,” ungkap Hepi Un.

Pada kesempatan itu, ia juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada Pemerintah Kota Kupang, Masyarakat Bakunase, Bank NTT Kantor Fungsional Bakunase, My Republik, Dinamika Motor, dan Selular Word Kupang.

Sementara itu, Lurah Bakunase 1, Wilhelmus L. Diken menjelaskan bahwa Festival tahun 2o25 ini mengusung tema “BE BAJA” yang berarti saya kuat, serta merupakan bagian dari rangkaian kegiatan “Bakunase Event Bangkit untuk Jaya”.

“Melalui tema ini kami ingin mengajak masyarakat untuk bersatu dan bergotong royong membangun kelurahan Bakunase. Kita harus menjadi kekuatan yang bangkit bersama demi kemajuan kampung tercinta,” ujarnya.

Wilhelmus  juga menanggapi adanya perbedaan pendapat di masyarakat terkait proses penggalangan dana untuk kegiatan ini. Ia menegaskan bahwa seluruh dana berasal dari swadaya masyarakat dan sumbnagan suka rela.

“Dalam proses penggalangan dana, panitia bersama RT dan RWmenyampaikan proposal dukungan. Ada warga yang memberikan sumbangan dengan sukarela, dan kami sangat berterima kasih. Namun ada juga yang menilai berbeda di media sosial. Kami menghargai setiap pendapat karena itu bagian dari dinamika masyarakat,” jelasnya.

Menurutnya, dana bantuan dari pemerintah sebesar Rp15 juta belum mencukupi kebutuhan kegiatan, sehingga panitia melakukan penggalangan tambahan melalui masyarakatdan pelaku usaha di sekitar Bakunase.

Dia berharap agar festival ini menjadi wadah untuk menyalurkan kreativitas serta mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat.

“Kami berharap kegiatan ini menjadi ajang bagi warga untuk berkumpul, berkreasi, dan mengembangkan bakat. Dengan semangat kebersamaan, kita bisa membangun Bakunase menjadi lebih baik dari tahun ke tahun,” pungkasnya. (TD)

 

 

error: Konten dilindungi!