Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) DPC St. Vitalis Cewonikit, Kabupaten Manggarai, ketika menyalurkan bantuan sembako kepada anggota ranting yang terdampak gempa bumi (Foto: H.R)
RUTENG, RANAKANEWS.com — Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) DPC St. Vitalis Cewonikit, Kabupaten Manggarai, menyalurkan bantuan sembako kepada anggota ranting yang terdampak gempa bumi, Minggu (23/8/2026).
Ketua WKRI DPC St. Vitalis Cewonikit, Heny Rumondor, kepada RanakaNews.com mengatakan, bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian dan solidaritas WKRI terhadap anggota yang terdampak bencana.
Sebanyak 12 kepala keluarga (KK) anggota WKRI ranting menerima paket sembako.
“Bantuan ini diberikan sebagai bentuk kepedulian dan solidaritas WKRI terhadap anggota yang tengah menghadapi dampak bencana. Semoga bantuan ini bermanfaat dan sedikit meringankan beban mereka,” ujar Heny.
Setiap KK menerima bantuan berupa beras 5 kilogram, telur satu papan, minyak goreng Bimoli 1 liter, minyak goreng Valesia 1 liter, serta sabun cuci 1 kilogram.
Heny menjelaskan, bantuan tersebut bersumber dari WKRI DPD NTT dan disalurkan melalui WKRI DPC St. Vitalis Cewonikit.
Gelar Trauma Healing untuk Anak-anak
Tak hanya menyalurkan bantuan kebutuhan pokok, WKRI DPC St. Vitalis Cewonikit juga memberikan perhatian kepada anak-anak yang terdampak secara psikologis pascagempa.
Kegiatan tersebut dilaksanakan di Taman Baca Ngawe melalui kegiatan bermain dan menghibur anak-anak sebagai bagian dari upaya pemulihan trauma (trauma healing) pascagempa.
Sebanyak 35 anak mendapat susu Ultra Milk 200 cc masing-masing satu kotak dan biskuit Marie susu masing-masing satu bungkus.
“Kami juga menghibur anak-anak di Taman Baca Ngawe pascagempa sebagai bagian dari trauma healing,” kata Heny.
Kegiatan tersebut diharapkan dapat memberikan ruang bagi anak-anak untuk kembali bermain, berinteraksi, serta mendapatkan suasana yang lebih menyenangkan setelah menghadapi situasi bencana.
WKRI berharap bantuan yang diberikan dapat bermanfaat sekaligus sedikit meringankan beban anggota dan masyarakat yang terdampak gempa.
Di tengah situasi pascabencana, kegiatan tersebut menjadi wujud nyata semangat gotong royong dan kepedulian untuk membantu masyarakat melewati masa pemulihan.(WG)












