Suasana perayaan Ekaristi sambut baru di Gereja Kristus Raja Mbaumuku Ruteng. ( Foto Ancik Cara )
RUTENG, RANAKANEWS.com — Sebanyak 138 anak dari SDK Ruteng I dan SDK Ruteng IV menerima Komuni Pertama dalam perayaan Ekaristi di Paroki Kristus Raja Mbaumuku, Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Minggu (25/10/2026).
Dari jumlah tersebut, 83 anak berasal dari SDK Ruteng I dan 55 anak dari SDK Ruteng IV. Perayaan berlangsung khidmat dan penuh sukacita. Anak-anak mengenakan alba putih, sementara orang tua mereka tampil menggunakan busana adat Manggarai.
Penerimaan Komuni Pertama menjadi momen penting dalam perjalanan iman anak-anak Katolik karena untuk pertama kalinya mereka menerima Komuni Kudus dalam perayaan Ekaristi setelah menjalani pembinaan dan persiapan iman.
Dalam rangkaian perayaan tersebut, para orang tua mengantar dan menyerahkan anak-anak mereka kepada Pastor Paroki Kristus Raja Mbaumuku, Romo Ardus Noveri, untuk menerima Komuni Pertama.
Momen tersebut menjadi simbol keterlibatan keluarga dalam mendukung pertumbuhan iman anak-anak sekaligus menegaskan pentingnya kerja sama antara orang tua, sekolah, dan Gereja dalam pendidikan iman sejak usia dini.
Dalam homilinya, Romo Ardus Noveri mengajak anak-anak dan seluruh umat untuk menjadikan penerimaan Komuni Pertama sebagai momentum pembaruan iman dan menerapkan ajaran Yesus Kristus dalam kehidupan sehari-hari.
“Menerima Komuni Kudus bukan sekadar mengikuti sebuah tradisi keagamaan atau merayakan peristiwa istimewa dalam kehidupan seorang anak. Lebih dari itu, perayaan ini mengajak setiap orang untuk semakin mendekatkan diri kepada Yesus Kristus dan menjadikan cinta kasih sebagai dasar dalam membangun hubungan dengan sesama,” demikian pesan homili yang disampaikan dalam perayaan tersebut.
Ia menekankan bahwa iman tidak cukup hanya dipahami sebagai pengetahuan agama, tetapi harus diwujudkan melalui sikap dan tindakan nyata, seperti kejujuran, kerendahan hati, kepedulian, dan kesediaan mengampuni.
Salah satu pesan yang ditekankan dalam homili tersebut adalah ajakan kepada anak-anak untuk menjauhi perundungan atau bullying, termasuk mengejek teman, merendahkan orang lain, dan mengucilkan seseorang dari pergaulan.
Anak-anak diajak menghargai setiap orang tanpa membedakan keadaan fisik, kemampuan belajar, maupun latar belakang keluarga.
“Melalui kebiasaan-kebiasaan baik itu, anak-anak diharapkan semakin memahami bahwa iman kepada Tuhan harus berjalan bersama tindakan kasih terhadap sesama,” demikian pesan yang disampaikan dalam homili tersebut.
Selain menjauhi perundungan, anak-anak juga diajak belajar mengampuni dan tidak membalas perlakuan buruk dengan keburukan. Mereka diharapkan berani mengakui kesalahan, meminta maaf, menerima permintaan maaf, serta memperbaiki hubungan ketika terjadi perselisihan.
Kepedulian terhadap sesama juga menjadi bagian penting dari pesan perayaan tersebut. Anak-anak diajak memberikan perhatian kepada teman yang mengalami kesulitan, membantu mereka yang membutuhkan, dan tidak membiarkan orang lain merasa tersisih.
Pesan tersebut sejalan dengan Injil Markus 10:14, yang mengisahkan undangan Yesus agar anak-anak datang kepada-Nya dan tidak dihalang-halangi.
Setelah menerima Komuni Pertama, anak-anak diharapkan terus mendapatkan pendampingan dari orang tua, sekolah, dan Gereja agar dapat bertumbuh dalam iman serta menerapkan nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan sehari-hari.
Perayaan Komuni Pertama bagi 138 anak tersebut tidak hanya menjadi peristiwa sakramental, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya menghadirkan kasih Kristus melalui perkataan dan perbuatan, baik di lingkungan keluarga, sekolah, Gereja, maupun masyarakat.(WG)
