Daerah  

Rayakan Harlah Pertama Kelompok Tenun Ikat Karaja Lamboya

 

WAIKABUBAK, RANAKANEWS com- Perayaan satu tahun Tenun Ikat Karaja, puluhan para ibu rumah tangga, bapak-bapak, mama-mama janda muda dan lansia, anak muda, hadir bersama, bersukacita bersama, bercerita pengalaman perjuangan mereka melewati  masa sulit, sebelum masa pandemi, selama pandemi dan rencana keberlanjutan komunitas ini. Jumat ( 29/10/2021) di Pantai Wat Bolo, Lamboya, Sumba Barat.

Founder EGK Sumba, Asty Kulla, dalam sambutannya mengatakan bahwa Tahun lalu kelompok Tenun Ikat Karaha ini terbentuk bersama EGK Sumba untuk menunjang kemandirian ekonomi dimasa pandemi bagi pelaku kreatif potensi lokal yaitu tenun ikat karaja dengan bahan pewarna alam.

Menjaga kearifan lokal budaya yang tercurahkan dalam setiap ukiran motif karaja dengan proses yg panjang. Sebelumnya sudah berada diambang terancam “terlupakan” karena alasan prosesnya susah, lama, rumit bila  disandingkan dengan proses instant yg sebenarnya malah melunturkan keaslian nilai budaya, nilai nilai perjuangan para pendahulu untuk membuat sebuah karya yg kini menjadi kekayaan untuk generasi sekarang bahkan menjadi tawaran solusi ekonomi mandiri.

“Awal sempat ragu bagaimana bisa menjual kain tenun dimasa sulit seperti ini? pasarnya kemana? seiring waktu, Puji Tuhan, berkat kegigihan mama-mama dan kerjasama yg terjalin bersama partner kami dari lokal maupun luar produk karaja bisa terjual. Dan bisa membantu kebutuhan hidup sehari-hari, biaya pendidikan anak-anak hingga perguruan tinggi,” tutur Asty.

Pantauan media ini, sejumlah Kelompok Tenun menaruh harapan besar semoga cita-cita luhur ini dapat  memperluas lapangan pekerjaan melalui Karaja Laboya semakin menjangkau saudara-saudara kami di Kabupaten Sumba Barat yang merindukan gerakan yang sama. Kami butuh kerja sama agar komunitas ini berkembang dan bisa menunjang kebutuhan ekonomi keluarga, dan kebutuhan biaya pendidikan anak-anak.

Lebih lanjut Asty mengatakan,  ada hasil dalam satu tahun ini, yakni berhasil menambah anggota dari 10 orang menjadi 50 dari para Ibu-ibu, janda, lansia, anak muda bahkan bapa-bapa bergabung karena potensi dan peluang ekonomi mandiri mulai merambah untuk kaum laki-laki. Bahkan berkat kelompok tenun ini, berhasil mengurangi  KDRT atau hatayaka, semangat menyekolahkan anak semakin tinggi.

“Proficiat kepada  Mama-mama bersama Bapa-bapa telah berhasil merobohkan dinding “pasrah” dengan karya hebat kalian. Panjang umur kreativitas Karaja Lamboya terus kobarkan semangat inisiatif, kreatif, inovatif dan kompak. (MP/T)

error: Konten dilindungi!