Refleksi HUT RI ke 80, Ansel Bahy: Pancasila Hidup Dalam Rahim Bumi Lamaholot

Anselmus Asan Ola, AP.,M.Si Tokoh Masyarakat Adonara-Lembata, Pejabat senior Pemda Lembata, Kepala Dinas Perpustakaan Lembata saat ini: Foto (AB/OLA/Ranakanews.com)

LARANTUKA,RANAKANEWS.com-
Refleksi Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke 80 tentang nilai-nilai Pancasila, yakni: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan dan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat, memiliki kecocokan dengan nilai-nilai yang hidup dalam budaya Lamaholot, menegaskan bahwa dasar negara Indonesia sesungguhnya bersumber dari kearifan lokal suku-suku se Nusantara, yang mengakar sejak lama.

Terrmasuk Suku Lamaholot, yang terkenal dengan Koda/Sabda, Rera Wulan Tana Ekan, Kaka Dike Arin Sare, Taan Tou, Behin Bau, Ukut Koda dan Mela Sare.

Hal ini diungkapkan salah satu Tokoh Masyarakat Lamaholot, Adonara-Lembata, Anselmus Asan Ola,AP.,M.Si, yang kini menjabat Kepala Dinas Perpustakaan Lembata, dalam rilis pesan reflektif yang diterima Redaksi Ranakanews.com Biro Flotim-Lembata, Kamis (14/8/2025).

Dalam tulisan yang viral saat ini di laman Facebook miliknya, Anselmus Asan Ola, yang akrab disapa Ansel Bahy, mengatakan bahwa refleksi nilai-nilai Pancasila terkait HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke 80, sesungguhnya juga dimiliki dan hidup dalam rahim orang Lamaholot sudah sejak lama, yang telah diwariskan secara turun temurun dari leluhur.

“Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, dikenal dalam budaya Lamaholot dengan sebutan Rera Wulan Tana Ekan (Matahari, Bulan, Tanah dan Air,red) melambangkan kekuatan transenden yang mengatur kehidupan.

Kepercayaan ini, bagi orang Lamaholot, mengajarkan bahwa manusia adalah bagian dari alam semesta yang diciptakan oleh Sang Pencipta, dan oleh karena itu harus menjaga harmoni dengan alam dan sesama.

Wujud nyatanya, Kami orang Lamaholot dalam melakukan ritual adat, selalu di Tiang Kanan (Rie Hikun, Liman Wanan,red) sebagai penghubung antara Rera Wulan dan Tana Ekan (Matahari, Bulan, Tanah dan Air,red),”terang Ansel Bahy.

Begitu pula, dengan Sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, dalam bahasa Lamaholot dikenal dengan ‘Kakan Dike, Arin Sare,red)’, Kaka menjaga, Adik mengasihi.

“Ini menegaskan hubungan kemanusiaan yang saling menghormati dan melindungi.

Nilai ini menekankan bahwa kemanusiaan yang adil dan beradab tidak hanya berarti kesetaraan hak, tetapi juga tanggungjawab moral untuk menjaga martabat sesama manusia.

Nah, nilai ini terlihat dalam kebiasaan saling membantu saat musibah, kerja bersama di ladang, dan mengutamakan keselamatan bersama di atas kepentingan pribadi,”tandasnya, lagi.

Sementara Sila Persatuan Indonesia, sambung Ansel Bahy, dalam Bahasa Lamaholot dikenal dengan ungkapan ‘Taan Tou’ yang berarti Satu Tubuh.

“Ini menggambarkan prinsip persatuan dalam masyarakat Lamaholot.

Perpecahan diantara warga dianggap sama seperti melukai tubuh sendiri.

Persatuan ini dipelihara melalui kegiatan adat bersama yang mengundang semua marga tanpa memandang perbedaan status.

Nilai ini sejalan dengan sila ketiga Pancasila, dimana persatuan adalah modal utama untuk menghadapi tantangan bersama,”katanya, menggarisbawahi.

Berikutnya, sila Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan, dikenal dalam bahasa Lamaholot dengan sebutan ‘Behin Bau, Ukut Koda’.

“Prinsip Behin Bau, Ukut Koda atau Berbicara bersama, memutuskan dengan sabda, selalu menjadi dasar sistem musyawarah adat Lamaholot.

Keputusan diambil melalui pertemuan di Koker Bale (Balai adat,red) yang dipimpin oleh Belen Raya (Pemimpin adat,red), mengutamakan mufakat,”bebernya.

Selain itu, sambung Ansel Bahy, yang dikenal rendah hati dan santun dalam bertukar pendapat, Koda (Sabda,red) dalam tradisi budaya masyarakat Lamaholot, memiliki sifat sakral dan mengikat, sehingga hasil musyawarah dihormati oleh semua pihak.

“Praktek ini mencerminkan sila keempat Pancasila, dimana demokrasi dijalankan dengan hikmat dan kebijaksanaan,”tegasnya.

Kemudian sila kelima Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

“Dalam Bahasa Lamaholot, Keadilan Sosial dikenal dengan ungkapan ‘Mela Sare’ (Berbagi secara merata,red), adalah prinsip distribusi adil dalam masyarakat Lamaholot.

Keadilan ini terwujud dalam pembagian hasil panen, dan gotong royong dalam membangun rumah atau fasilitas umum.

Nah, prinsip ini memastikan bahwa anggota masyarakat mendapatkan hak yang sama atas sumber daya, sejalan dengan sila kelima Pancasila,”ujarnya.

Ansel Bahy lebih jauh menegaskan, kecocokan nilai-nilai budaya Lamaholot dengan sila-sila Pancasila ini menunjukkan bahwa dasar negara Indonesia ternyata hidup dalam rahim kearifan lokal yang telah lama mengakar sejak dulu.

“Rera Wulan Tana Ekan, Kaka Dike Arin Sare, Taan Tou, Behin Bau, Ukut Koda, dan Mela Sare, bukan hanya warisan budaya, tetapi juga bukti bahwa Pancasila adalah milik seluruh rakyat Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, dari Lamaholot sampai Tanah Papua.

Karena itu, Dia berharap penguatan nilai-nilai ini di era modern sangat penting untuk menjaga identitas budaya, sekaligus memperkuat keutuhan NKRI,”tutupnya. (OLA)

error: Konten dilindungi!