Pemeriksaan dan pembagian obat gratis di Kelurahan Mbaumuku. (Foto: Ancik Cara)
RUTENG, RANAKANEWS.com — Kepedulian terhadap warga terdampak gempa bumi Magnitudo 7,7 di Pulau Flores terus mengalir. Salah satunya ditunjukkan dokter Iwan Mariono yang selama tujuh hari melakukan perjalanan mandiri dari Labuan Bajo ke sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk mendistribusikan obat-obatan, vitamin dan logistik kepada masyarakat terdampak.
Pada Minggu (30/8/2026), dokter Iwan berada di Mbaumuku, Kelurahan Mbaumuku, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, untuk melaksanakan pemeriksaan kesehatan dan pengobatan gratis bagi warga.
Kepada RanakaNews.com, di Mbaumuku, dokter Iwan mengatakan, perjalanan kemanusiaan tersebut dilakukan secara mandiri dengan menyewa sepeda motor dari Labuan Bajo. Ia menyusuri sejumlah wilayah dan menjadikan posko-posko pengungsian sebagai titik distribusi bantuan.
Rute yang ditempuh cukup panjang. Dari Labuan Bajo, ia menuju Ruteng, Reo, Mbay, kemudian kembali dari Mbay dan melanjutkan perjalanan ke Pota, Elar, Baras, Congkar hingga Benteng Jawa.
Di setiap lokasi, dokter Iwan tidak hanya menyerahkan bantuan yang dibawanya. Ia terlebih dahulu melihat kebutuhan masyarakat, kemudian membeli obat-obatan dan vitamin sesuai kondisi yang ditemukan di lapangan.
“Metodenya door to door, dari posko ke posko. Kita lihat apa yang dibutuhkan, kemudian kita sesuaikan,” ungkapnya.
Selain membawa bantuan yang diperolehnya sendiri, dokter Iwan juga membawa sejumlah bantuan titipan dari teman-teman dan lembaga yang mempercayakan penyalurannya kepada masyarakat terdampak. Ada lembaga yang tidak hanya mempercayakannya menyalurkan bantuan saja, bahkan memberi sponsor dengan membelikan tiket pesawat.
Ia menegaskan, sejak awal dirinya tidak membuka donasi secara publik. Namun, aktivitas kemanusiaan yang dibagikan melalui media sosial membuat sejumlah teman dan lembaga menghubunginya untuk menitipkan bantuan.
Aksi kemanusiaan dokter Iwan bukan kali pertama. Ia sebelumnya pernah terlibat dalam respons kemanusiaan di sejumlah daerah yang dilanda bencana, antara lain gempa Lombok, tsunami Palu, tsunami Banten dan banjir di Sumatra.
Pengalaman tersebut membuatnya memilih pola distribusi langsung dari posko ke posko agar bantuan dapat menjangkau masyarakat yang benar-benar membutuhkan.
Dokter Iwan berasal dari Sulawesi Tengah. Ia lahir di Kabupaten Banggai, besar di Morowali, menempuh pendidikan SMA di Palu, kemudian melanjutkan kuliah di Solo. Ia juga pernah bekerja di Makassar sebelum akhirnya berdomisili di Sukabumi, Jawa Barat, bersama istrinya.
Setelah tujuh hari bergerak dari satu wilayah ke wilayah lainnya, dokter Iwan berencana menghabiskan sisa obat dan logistik yang dibawanya pada Minggu (30/8/2026).
Setelah rangkaian pelayanan dan distribusi bantuan selesai, ia akan kembali ke Labuan Bajo melalui jalur Pantura.
Dalam perjalanan tersebut, dokter Iwan juga akan membawa bantuan titipan dari teman-teman dan sejumlah lembaga untuk disalurkan kepada posko-posko yang masih membutuhkan.
Baginya, distribusi bantuan secara langsung merupakan bagian penting dalam respons kemanusiaan pascabencana. Dengan mendatangi posko, berdialog dengan warga dan melihat kondisi di lapangan, kebutuhan bantuan dapat disesuaikan dengan situasi nyata.
Perjalanan tujuh hari dokter Iwan menjadi salah satu bentuk solidaritas kemanusiaan pascagempa Flores. Bergerak secara mandiri dan mengandalkan jejaring pertemanan serta komunikasi melalui media sosial, ia memilih hadir langsung di tengah masyarakat yang membutuhkan. (WG)










